RI3SKA.COM – Memasuki usiah paruh baya, wanita umumnya merasa khawatir, dimulai saat memasuki usia 40 tahun dan semakin memuncak secara psikologis, biologis dan sosial, saat menjelang usia 50 tahun. Berbeda dengan Dian Indah Sembadani, wanita kelahiran 1966 ini dan kini mukim di kota Rossiglione (Liguria), Italia, lewat usia setengah abad, justru Ia mengisi hidup dengan optimisme dan memulai hidupnya yang penuh warna.

Tahun 2017 lalu, suami tercinta dipanggil Tuhan. Anak yang semata wayang juga sudah beranjak dewasa dan telah menyelesaikan studi pelayaran juga dinas militer Alpino (tentara Alpini) di kawasan Alpen, Bolzano. Sekarang, putranya bertugas sebagai perwira kapal pesiar yang berpangkalan di Miami, Amerika.

Apakah Indah kehilangan arah? Justru Indah memiliki kesempatan untuk membaktikan waktu dan hidupnya bagi orang yang membutuhkan dan juga jadi memiliki waktu untuk meraih cita-citanya.

Ia bercerita, sejak usia 13 tahun, Indah telah turut membantu Ibu di Jakarta yang membuka usaha Tata Rias. Indah kecil sudah terampil menggunting, creambath dan menata rambut. Juga melayani permintaan pelanggan Ibunya untuk facial dan pijat. Ibunya tak hanya memiliki salon, tapi juga cukup sibuk sebab sebagai penguji Diknas bagi murid-murid kursus kecantikan untuk menerbitkan ijazah keterampilan nasional.

Bekal keterampilan ini semakin lengkap saat Indah memilih bersekolah di SMIP DKI. Jurusan Perhotelan saat itu cukup banyak dilirik hotel-hotel yang mulai berkembang di Indonesia. Maka Indah dengan mudah mendapat kerja di bidang ini. Sempat bekerja di Sari Pacific selama 2 tahun sebelum akhirnya resmi sebagai karyawan F&B di Hotel Hilton Jakarta.

Tak pernah membayangkan akan bersuami orang Italia. Tapi namanya jodoh, akhirnya Indah meninggalkan pekerjaan karena sejak menikah memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga. Tahun 1998 hijrah ke Italia, Indah tetap mengabdikan diri sebagai ibu dan istri yang mengurus anak dan suami.

Kehilangan suami, membuatnya mencari kesibukan untuk mengisi waktu dengan hal yang positif. mulai kontak teman-teman sekitar. Akhirnya mendapat tawaran kerja sebagai juru masak di sebuah klinik kesehatan.

Tugasnya menyiapkan makanan untuk 35 orang yang menunya diatur oleh dokter di klinik tersebut. Bukan soal jumlah porsi yang sempat membuatnya stress, tetapi pesanan yang rupa-rupa itulah yang membuat koki-koki sebelumnya angkat tangan atas pekerjaan ini.

Istilahnya, bagai penjual gado-gado yang pembelinya memesan 10 bungkus tapi dengan variasi berbeda, seperti 5 bungkus pedas dengan 8 cabe, 4 cabe rawit, 1 cabe merah, 3 bungkus pedas sedang, 3 bungkus tanpa tempe, 2 bungkus yang pedas tempenya dilebihkan, 1 bungkus tanpa kerupuk, bungkus pakai karet warna hijau, dan sebagainya.

Namun Indah menjalani semua permintaan itu dengan sabar.
Permintaan menu sedemikian variatif, karena mengikuti catatan dokter yang menyesuaikan masing-masing pasien. Ada yang diet, ada yang sama sekali dilarang konsumsi olahan terigu, garam atau gula, ada yang vegan, ada yang harus extra sayuran hijau, dan seterusnya.

Indah harus mengolah sendiri semua menu sebab tak seorang pun memberi bocoran resep masakan untuk menu yang tampaknya simpel tapi justru rumit dipraktekkan. Beruntung ilmu dan pengalaman kerja di dapur hotel-hotel besar di Jakarta menjadi bekal yang sangat membantu Indah untuk merealisasi semua hidangan dengan cita rasa sesuai selera dan kebutuhan pasien berdasarkan petunjuk dokter.

Masa pandemi, klinik tetap berfungsi. Jadi Indah tetap bekerja sesuai dengan 3 shift (pagi, siang atau malam) karena pasien harus makan dan Indah satu-satunya koki di klinik tersebut. Bekal ilmu pijat dari Ibunda di Jakarta, juga masih tetap dilakoni untuk menolong teman-teman sekitar yang membutuhkan jasa pengobatan seperti keseleo, pegal-pegal dan sebagainya.

Malam hari walau badan lelah, Indah tetap mencari kesibukan dengan melukis. Awalnya hanya iseng melihat bunga iris kuning nan cantik untuk dilukis menjadi iris biru. Melihat hasilnya, minat lukis yang sebelumnya sempat terpendam, akhirnya mulai dikembangkan. Tak segan-segan, Indah berguru dari teman-teman pelukis untuk mendapat tutorial teknik menggambar. Kadang sambil minum kopi di bar, Indah menggelar buku gambarnya untuk melukis.

Lewat lukisan, Indah mengekspresikan semua mimpi dan kerinduannya. Rindu kampung halaman, Indah melukis rumah di tanah air sana atau rumah idaman di pedesaan. Rindu pendamping, Indah membayangkan figur yang pernah hadir dalam hidupnya, dst. Apa yang terlintas dalam pikiran, langsung dituangkan lewat goresan warna sebagai meditasi untuk melepas semua kepenatan fisik dan mental.

Berbagai media juga dicobanya seperti pinsil warna, akrilik dll. Nuansa kuning menjadi ciri khas lukisan Indah yang mencerminkan suasana hati gembira. Indah memang selalu ceria dan ingin membagi keceriaan untuk semua orang.

Berangkat dari bunga dan alam sekitar seperti burung atau bentang darat, sekarang Indah lebih memfokuskan diri untuk melukis profil wajah hitam putih dengan pinsil.
Selain lukis, Indah juga hobi menyanyi lewat smule. Masa lockdown lalu, punya pengalaman spesial bisa nyanyi ‘Di dadaku Ada Kamu’, berduet langsung dengan penyanyi aslinya, Vina Panduwinata.

Sebelum pandemi, Indah yang senang anjangsana kunjungi para sahabat di manca negara, sempat diwawancara salah satu stasiun radio di London. Waktu itu Radio Lasar meminta Indah untuk memberi komentar lagu-lagu Italia yang cukup hits di negeri matahari tak pernah tenggelam.

Seni luki dan seni suara serta bekerja adalah aktivitas baru Indah mengawali dan mengisi usia setengah abad. Ibarat hujan, Indah sudah menyiapkan payung. Selalu bersyukur dengan semua yang dimiliki dan tetap optimis.
Indah telah membuktikan bahwa usia 50 bukan halangan untuk memulai hidup. Justru masa yang tepat untuk memberi warna kehidupan!

“Jangan pernah mengatakan bahwa mimpi tidak berguna karena kehidupan mereka yang tidak dapat bermimpi, tidak berguna” sebaris kutipan Jim Morrison yang memotivasi Indah Dian Sembadani untuk terus berkarya mengejar mimpi yang sempat tertunda!

Penulis: Claudia Magany
Editor : Rieska Wulandari

By Redaksi

Minds are like parachutes; they work best when open. Lord Thomas Dewar

Tinggalkan Balasan

X