RI3SKA.COM – Covid-19 membuat nama Amelia Rachim turut mencuat dalam pusaran dunia maya, tak kurang status pada laman FB-nya yang diberi penutup a.k.a Amelia Rachim (Jewelry designer, bekerja dan tingal di Italia lebih 10 tahun) dibagikan oleh 4.048 pembaca dengan 2700 reaksi. Status Amel yang ditulisnya pada masa awal pandemi, sebetulnya membahas tentang situasinya sebagai Ibu rumah tangga dan keprihatinannya pada masyarakat Indonesia yang abai mengenai bahaya Covid-19, status kerasnya ini ternyata membuat polemik.

Lepas dari soal pandemi, perempuan yang akrab disapa Amel, kelahiran tahun 1985 adalah sosok sarat prestasi, kelasnya internasional dan tentu saja bergengsi.  Bakat dan antusiasmenya pada seni, menbuatnya bertekad mengambil kuliah Teknik Desain Industri ITB, paket insentif pendidikan Djarum Beasiswa Plus membantunya menyelesaikan studi dengan predikat cum laude. Pengalaman magang pada tahun 2007 sebagai periset desain, pembuat sketsa sampai kontrol kualitas pada sebuah perusahaan perhiasan di CV Jani Silver Bali, membuka matanya untuk menekuni desain perhiasan yang belum banyak dikembangkan.

Langkah studinya tak berhenti, ia meraih beasiswa POLITO (Polytechnic of Turin) Italia, negeri para maestro seni yang dia kagumi. Program yang dijalaninya dalam satu tahun ini juga berbuah juara pertama berupa penghargaan beasiswa internasional untuk Program Magister, Teknik Perhiasan yang diselenggarakan kampus ini pada November 2008. Ia pun mantap untuk menetap di negeri pizza. Pada September 2011, Amelia menjadi pemenang termuda yang diikuti 3037 desainer dari 96 negara dalam kompetisi “Design Time” yang diselenggarakan oleh BREIL – merek jam tangan dan perhiasan Italia.

Karya yang ia beri nama ENDLESS berupa jam tangan gelang yang terinspirasi dari simbol ‘tak hingga’ – ‘tak berujung’. Mekanismenya seperti jam tangan analog biasa dengan ukuran lebih kecil. Secara visual bisa dikenali sebagai penunjuk waktu yang menghubungkan konten dengan pesan bahwa angka tidak penting. Waktu kita tidak akan ada habisnya jika kita melewatinya dengan orang yang kita cintai.

Dewan juri mengatakan desainnya tampil beda dari arloji biasa karena berupa lingkaran-lingkaran yang menunjukkan jam dan menit, bukan panah. Kesan lebih modern, elegan, namun tetap muda dan segar. Juga praktis dan ergonomis, tidak berat, tahan keringat dan mudah digunakan serta biaya produksi yang rendah dengan kebutuhan bahan yang lebih sedikit.

Tahun 2013 ia kembali memenangkan dua kompetisi. Bulan April memenangkan Kompetisi Pesona Desain Perhiasan Zamrud (Enchanted Emerald Jeweller Design Competition) yang digelar oleh Mejuri di Toronto, Canada dengan karya “Zamrud Khatulistiwa”. Kali ini ia menggabungkan unsur-unsur utama dari pulau tropis dalam satu desain yang inspiratif. Hutan hijau, hewan eksotis dan sinar matahari keemasan. Menonjolkan kesan liar dan elegan secara unik dalam waktu bersamaan.  Cincin bertajuk Zamrud Khatulistiwa menjadi ikon fashion dan favorit para editor majalah fesyen, tak kurang majalah Vogue, Elle dan Fashion turut menampilkannya dalam artikel mereka. Bahkan bintang pemenang Emmy Award Kristin Chenoweth mengenakan desainnya saat wawancara di Oprah TV Network dan juga oleh Anggun saat konser Natal di RAI TV Italia.

Desember tahun yang sama, ia memenangkan Rebel Chique Design kategori “Ring” yang diselenggarakan oleh Royal Asscher  – New York AS. Cincin yang dilombakan berjudul CHOICE dengan bentuk unik yang memiliki tiga segi berbeda. Memungkinkan tiga aplikasi berbeda dalam satu desain. Dengan fitur ini, pengguna dapat memilih faset yang akan diekspos saat mengenakannya. Mereka bisa memadukan cincin dengan warna pakaian atau gaya mereka; MURNI (sisi dengan berlian putih), DEEP (sisi dengan berlian biru) dan FANCY (sisi dengan berlian warna-warni).

Tahun berikutnya, sebagai juara kedua Jewelry Design Awards IGE 2014 dalam kategori “Madness” yang diselenggarakan oleh Instituto Gemológico Español (IGE) – Madrid, Spanyol Januari 2014.

Masih belum usai, ia juga memenangkan Kompetisi Desain Perhiasan Internasional Evolvea yang diselenggarakan oleh 3C & Young Jewellers Association of Italy – di Milan, Italia pada Desember 2014. Karyanya berupa cincin yang diberi judul “Toraja Ring” yang menampilkan tanduk kerbau, simbol sakral dan dianggap memiliki kekuatan esoterik bagi masyarakat Toraja. Terinspirasi dari suku ini, cincin ini dibentuk dengan dua busur dalam susunan vertikal, menjadikannya benda yang eksotis namun modern. Tujuannya adalah untuk menciptakan citra visual yang kuat berdasarkan karakter antik dan mengubahnya menjadi permata eklektik.

April 2015 Amelia berpartisipasi dalam Jewellery Design Competition yang diselenggarakan oleh Maestà bekerja sama dengan A’ Design Award di Como, Italia. Menampilkan Koleksi GARUDA yang terbuat dari emas putih 18 karat dengan 8 bulu di sayap, 17 batu cemerlang di kepala dan 45 di sayap. Permata dewa kuno ini melambangkan tanggal Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya: 17 Agustus ’45. Kesan kuat dan feminin dalam satu desain. Inspirasinya lahir dari burung mitos dengan ciri-ciri elang yang muncul dalam mitologi Hindu dan Budha sebagai GARUDA yang menjadi lambang negara atau simbol nasional Indonesia. Karya ini berhasil sebagai juara kedua. Pada Februari 2018, ia pun  menjadi finalis kompetisi perhiasan Metamorfosi diselenggarakan oleh Gioiello Dentro & Fondazione Carigo- Gorizia, Italia. Karyanya diberi judul PIECES OF ME, berupa gelang wajah.

Sebagai desainer, ia berusaha menemukan jati diri, mengembara di dalam fragmen kehidupan – mengumpulkan kenangan, jurnal, surat, foto, tawa, air mata, emosi dan segalanya. Gelang ini mencerminkan konsep tersebut dengan mengumpulkan sepotong kristal dan menyusunnya kembali menjadi bentuk baru. Setiap warna mewakili fragmen kehidupan, yang menggambarkan keseluruhan gambaran dirinya.

Kreasi Amelia telah menarik perhatian dunia dengan memenangkan beberapa penghargaan desain perhiasan di Eropa, Amerika Serikat dan Kanada.  Sejak November 2009, Amelia menjadi rekanan (kolaborator) Desainer Perhiasan Eksternal di Manca Gioielli Snc. – Valenza, Italia; Novarank Srl. – Vicenza, Italia; AMJ Design Sas. – Brescia, Italia; Marakò Srl. – Brescia, Italia; Mejuri Inc. – Toronto, Kanada.

Sebelum pandemi, Amelia kerap menghadiri undangan konferensi sebagai narasumber, antara lain “China and Italy Cooperation Forum on Jewelry Design and Engineering” in University of Luoyang – Henan, China yang diorganisir oleh Industria Orafa Italiana, Politecnico di Torino kerjasama dengan Major of Luoyang, China pada 22-26 November 2012.  Selama masa pandemi, Amel tetap aktif mengisi berbagai webinar antara lain “A Dialogue on Sustainability of Future Jewelry” dalam rangka Italian Design Day 2020 yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Italia & Institut Kebudayaan Italia Jakarta  pada 3 Desember 2020 sebagai narasumber.  Dilanjutkan dengan Peringatan Hari Ibu 22 Desember 2020 ia kembali berbicara dalam forum “Desain Perhiasan Kontemporer Yang Terinspirasi dari Tradisi” yang Diselenggarakan oleh PT. SKK Jewels & Institute of Technology Bandung (ITB).

Sebagai desainer, Amel telah melahirkan sejumlah karya yang visioner, unik, inovatif dan kontroversial karena menaklukan dunia liar menjadi sesuatu yang lembut memesona, bentuk kaku yang simetris asimetris menjadi luwes, indah. Karya-karyanya berkesan berani, menantang sekaligus menaklukan. Ciri desainer dengan intelektual, kecermatan dan ketelitian yang memiliki ciri khas karena terinspirasi oleh akar budayanya, seorang anak yang lahir dari kekayaan nusantara.

Karya Amelia terkenal unik artistik futuristik, demikian pula cara berpikirnya, jangan heran apabila statusnya bisa memicu pembaca untuk berpolemik, karena demikianlah dirinya apa adanya, seorang seniman inovatif, yang tak bisa dibendung gagasan-gagasannya.

I’m stop explaining myself when I realized people only understand from their level of perception (Amelia Rachim)

Penulis: CM

Editor: RW

By Redaksi

Minds are like parachutes; they work best when open. Lord Thomas Dewar

Tinggalkan Balasan

X