RI3SKA.COM – Pria yang lama mukim di Bali, Wahyu Wiyono yang akrab disapa Wahyu sudah lama tertarik dengan dunia fotografi. Awalnya hanya sekedar jeprat-jepret pemandangan saat jalan-jalan sebab hobinya blusukan mengunjungi tempat-tempat baru. Sejak pindah ke Italia tahun 2014, ia mulai melirik arsitektur bangunan kegiatannya saat itu sekedar mengabadikan momen untuk disimpan sebagai kenang-kenangan yang bisa dibagikan melalui akun media sosialnya.

Lulusan Jurusan Komputer Akuntansi di Bali pada tahun 2014 ini, masih ingat kamera Digital Single Lens Reflex (DSLR) untuk pemula yang dibelinya tahun 2012. Saat itu dia belum mengerti cara pengaturan kamera dengan benar. Tiap kali memotret, dia selalu pakai pengaturan auto.

Sebelum pindah ke Genova, ia sebenarnya telah 10 tahun lebih berpengalaman kerja sebagai staf akunting dan juga sempat bekerja di Sebuah Yayasan Non Profit untuk penanggulangan HIV/Aids yang dinaungi oleh Australian Aid & KPA (Komisi Penanggulan Aids) di Denpasar dengan jabatan yang sama.

Ia mulai belajar serius tentang cara menggunakan kamera dengan baik dan belajar secara otodidak lewat kanal YouTube, tepatnya channel Irene Rudnyk Photography tentang portrait. Inilah awal mula ketertarikannya pada genre potrait.

Ternyata foto dengan pengaturan, teknik dan komposisi manual tidak semudah yang ia bayangkan. Butuh waktu lama untuk belajar dan uji coba. Maka ia pun mulai mencoba praktek dengan memotret teman-teman dekat di sekitarnya. Kemudian ia belajar mengedit dengan aplikasi Lightroom dan Photoshop sebab proses ini sangat penting dalam fotografi. Akhirnya ia memilih fokus portrait atau objek manusia.

Selain keterampilan, dibutuhkan juga lensa khusus untuk jenis ini, yang harganya tidak murah. Kenyataan  tersebut menyadarkannya bahwa hobi yang ia gemari, ternyata mahal. Lensa fixed berbagai ukuran seperti lensa 35mm, 50mm atau 85mm, wajib dimiliki. Mau tak mau, kalau sudah bulat ingin menekuni fotografi, maka harus rela menyisihkan uang tabungan untuk melengkapi kegiatannya.

Di Genova kota dimana ia mukim, ia bekerja di B&B Borobudur sebagai staf asisten. Sesuai namanya, Bed and Breakfast yang terletak di pusat kota Genova ini sangat bernuansa Indonesia sehingga menjadi incaran banyak tamu yang ingin menikmati atmosfer tanah air lewat interior dan asesories pelengkap kamar.

Di waktu luangnya, ia menikmati hobi fotografi, dari iseng-iseng sampai serius dan telah mengeluarkan modal cukup mahal, kendala berikutnya adalah kesulitan mencari objek atau model buat difoto. Tak hanya di Italia, mungkin di mana-mana kalau ketahuan memotret seseorang tanpa izin, urusannya bisa panjang.

Cari akal yang bijak, muncullah ide gila untuk mencari objek ‘seketemunya’. Sore hari sepulang kerja atau hari Minggu pas libur, ia jalan-jalan sambil membawa kamera. Kalau ada orang yang terlihat fotogenik, ia tawari untuk difoto. Namanya juga spekulasi, tak semua menerima tawaran baik ini. Jadi ada juga yang menolak untuk difoto.

Kebetulan lokasi tempatnya bekerja sangat strategis, 5 menit berjalan kaki dari Pelabuhan Tua dan Akuarium Genova. Dikelilingi banyak bar dan restoran di sekitarnya. Berjarak 300 meter dari stasiun kereta api Genova dan 1,4 km dari Genova Principe.

Selain jalan-jalan sambil memotret, Wahyu juga sangat piawai membuat aneka roti dan kue. Waktu senggang dimanfaatkan untuk menghirup udara segar dan menenangkan pikiran dari kepenatan. Ia sangat menikmati jalan-jalan keluar masuk hutan dan gua, mendaki gunung, menyusur sungai atau sekedar jalan-jalan menikmati matahari terbenam.

Strateginya untuk pendekatan kepada objek tidak sembarang, ia selalu minta izin sebelumnya kalau foto yang ia jepret akan diunggah di akun Instagram mereka. Ternyata responnya sangat positif. Teman- teman dari orang yang ia foto, biasanya cerita dari mulut ke mulut antar mereka. Untuk melihat hasil fotonya, mereka pun mengikuti akun @wahyufio di instagram.

Dari satu dua orang yang ia potret, ia menerima banyak pujian melalui pesan pribadi, seperti “Ciao, fotomu bagus-bagus sekali!”  Tak jarang pula, mereka yang menawarkan diri untuk difoto. Banyak yang tanya-tanya harga untuk layanan fotografi dan sebagainya.

Karena dirinya masih belajar dan belum siap menyatakan diri seorang profesional,  maka Ia tidak mematok harga. Kebanyakan ia lakukan secara sukarela, sebagai imbalan, biasanya ia ditraktir kopi atau aperitivo.

Setelah banyak mengunggah foto portrait di Instagram dan mulai paham mengoperasikan kamera dengan benar serta mengerti cara memaksimalkan proses editing, Wahyu pun mulai percaya diri. Kalau dulu-dulu sungkan menerima uang jasa karena merasa masih amatir, sekarang Wahyu berani menjawab secara diplomatis: “Lihat hasilnya dulu. Masalah bayaran, sistem ‘offerta libera’ (sukarela) saja”

Ternyata banyak yang suka. Sebagai konsekuensi, ia harus giat menambah pengetahuannya, tak hanya soal teknis seputar kamera dan editing, tapi bagaimana memberi arahan untuk pose di depan kamera. 

Alhamdulillah, tak sia-sia, dari hasil, pada awal tahun baru 2021 ia sudah bisa membeli kamera full frame yang lebih canggih untuk memotret ragam “portrait”. Ia juga sudah mampu membeli lensa yang cocok untuk genre ini. Perlahan tapi pasti ia sudah mengumpulkan modal baik secara alat maupun pengalaman jam terbang sebagai fotografer.

Tidak hanya menekuni hobi, ia juga berhasil lulus dari Scienze International e Diplomatiche di Università degli Studi di Genova.

Rejeki tidak kemana, beberapa bulan lalu ia juga ditawari untuk memotret casting sebuah film pendek di Genova Italia. Ia sangat gembira karena mereka puas dengan hasil fotonya. Ia juga bersyukur dan bangga sebab mendapat kepercayaan dari sang sutradara yang memintanya kembali untuk memoto saat shooting film sebagai scene photographer.

“I was hired to shoot behind the scenes footages and back then I didn’t know exactly what was the point of that. But of course it was a dream job working in a big set (Saya disewa untuk merekam cuplikan di balik layar dan saat itu saya tidak tahu persis apa gunanya itu. Tapi tentu saja itu adalah pekerjaan impian yang bekerja di set besar, ”ujarnya sumringah.

Berawal dari hobi iseng ia lakoni dengan serius sampai mampu membeli peralatan mahal, dan kini dia mantap ingin fokus di bidang fotografi dan ingin membuat channel YouTube tentang fotografi yang mengedukasi dan berbagi ilmu serta tips memoto.

Taking pictures of strangers and have them begging for more,” ujarnya.

Menjadi perantau memang tidak mudah. Wahyu juga telah melewati lika-liku perjalanan yang cukup panjang di Italia. Semua dinikmati dengan senyum, bersyukur dan pikiran positif. Dari yang tak mungkin menjadi mungkin. Semua bisa dicapai kalau ada kemauan dan keuletan. Siapa sangka dari sekedar hobi iseng, bisa menjadi sumber penghasilan bahkan karier yang menjanjikan.

Terkadang rejeki itu datangnya tak terduga. Pulang dari memotret, ia sempat jalan-jalan sebentar menikmati sunset di kota Napoli, “Aku disapa anak-anak muda sana yang minta difoto. Akhirnya kami janjian untuk membuat foto berikutnya. Kemudian mereka tanya-tanya harga dan saya jawab sederhana: ”Offerta liberta!” Ujarnya sambil tertawa.

Penulis: Claudia Magany

Editor: Rieska Wulandari

By Redaksi

Minds are like parachutes; they work best when open. Lord Thomas Dewar

Tinggalkan Balasan

X
%d blogger menyukai ini: