Dati sull’istruzione femminile in IndonesiaMari mengenang jasa tokoh pendidkan peremuan di Indonesia, antara lain Raden Ajeng Kartini, Dewi Sartika, Maria Maramis dan Haji Rangkayo Rasuna Said.
Raden Adjeng Kartini dalam masa pingitannya sebelum menikah dengan pria pilihan keluarganya, ia sibuk belajar dan membaca berbagai buku dalam berbagai bahasa. Kemampuannya mengobservasi dan membaca fenomena sosial, membuatnya mempertanyakan kultur feodal dan aktif memperjuangkan sekaligus membuka akses pendidikan untuk perempuan di negerinya. Pada awal abad ke-20. Ia adalah koresponden perempuan Hindia Belanda pertama yang menulis artikel dan opini yang cemerlang untuk media massa-media massa di Belanda. Tulisannya membuka cakrawala berpikir orang Pribumi dan terutama membangkitkan semangat perempuan untuk mengedukasi diri mereka sendiri.
Sebelumnya, pada 4 Desember 1884 di Cicalengka Jawa Barat lahir Dewi Sartika, seorang tokoh perempuan Indonesia yang juga memperjuangkan pendidikan perempuan. Pada 1910 Ia mendirikan sekolah untuk perempuan Kautamaan Istri dan berperan penting dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi perempuan Sunda.
Lahir lebih awal satu tahun dari Kartini, ada Maria Maramis, perempuan asal Kawangkoan Minahasa, Sulawesi Utara yang memperjuangkan hak-hak perempuan dan pendidikan perempuan dan banyak berperan dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia.
Tak ketinggalan di Sumatra, pada 14 September 1910 di Maninjau Sumatera Barat, lahir perempuan yang kemudian bergelar Haji Rangkayo Rasuna Said seorang tokoh perempuan Indonesia yang berasal dari keluarga Minangkabau. Ia aktif dalam berbagai organisasi perjuangan kemerdekaan Indonesia, termasuk Sarekat Rakyat dan Persatuan Muslim Indonesia dan dikenal karena pidato-pidatonya yang berapi-api dan keberaniannya dalam memperjuangkan hak-hak perempuan dan bangsa Indonesia.
Ricordiamo i servizi delle figure dell’istruzione femminile in Indonesia, tra cui Raden Ajeng Kartini, Dewi Sartika, Maria Maramis e Haji Rangkayo Rasuna Said.
Durante il suo isolamento prima di sposare l’uomo scelto dalla sua famiglia, Raden Adjeng Kartini era impegnata a studiare e leggere vari libri in diverse lingue. La sua capacità di osservare e leggere i fenomeni sociali la portò a mettere in discussione la cultura feudale e a lottare attivamente per l’accesso all’istruzione delle donne nel suo Paese. All’inizio del XX secolo. Fu la prima corrispondente donna delle Indie orientali olandesi a scrivere brillanti articoli e pezzi di opinione per i mass media olandesi. I suoi scritti aprirono le menti dei popoli indigeni e ispirarono in particolar modo le donne a istruirsi.
In precedenza, il 4 dicembre 1884 a Cicalengka, nella Giava Occidentale, nacque Dewi Sartika, una figura femminile indonesiana che si batté anche per l’istruzione femminile. Nel 1910 fondò una scuola per ragazze, la Kautamaan Istri, e svolse un ruolo importante nel sensibilizzare l’opinione pubblica sull’importanza dell’istruzione per le donne sundanesi.
Nata un anno prima di Kartini, c’era Maria Maramis, una donna di Kawangkoan Minahasa, nel Sulawesi settentrionale, che lottò per i diritti e l’istruzione delle donne e svolse un ruolo importante nel movimento per l’indipendenza indonesiana.
Da non perdere a Sumatra: il 14 settembre 1910 a Maninjau, nella Sumatra occidentale, nacque una donna che in seguito prese il titolo di Haji Rangkayo Rasuna Said, una figura femminile indonesiana proveniente da una famiglia Minangkabau. Fu attiva in varie organizzazioni per la lotta per l’indipendenza indonesiana, tra cui l’Unione Popolare e l’Unione Musulmana Indonesiana, ed era nota per i suoi discorsi infuocati e per il coraggio dimostrato nella lotta per i diritti delle donne e della nazione indonesiana.
Let’s remember the services of women’s education figures in Indonesia, including Raden Ajeng Kartini, Dewi Sartika, Maria Maramis and Haji Rangkayo Rasuna Said.
Raden Adjeng Kartini during her seclusion before marrying a man chosen by her family, she was busy studying and reading various books in various languages. Her ability to observe and read social phenomena made her question feudal culture and actively fight for and open access to education for women in her country. In the early 20th century. She was the first female correspondent of the Dutch East Indies to write brilliant articles and opinions for the mass media in the Netherlands. Her writings opened the horizons of thinking of the indigenous people and especially raised the spirit of women to educate themselves.
Previously, on December 4, 1884 in Cicalengka, West Java, Dewi Sartika was born, an Indonesian female figure who also fought for women’s education. In 1910 she founded a school for women, Kautamaan Istri, and played an important role in raising awareness of the importance of education for Sundanese women.
Born a year earlier than Kartini, there was Maria Maramis, a woman from Kawangkoan Minahassa, North Sulawesi who fought for women’s rights and women’s education and played a major role in the Indonesian independence movement. Not to be missed in Sumatra, on September 14, 1910 in Maninjau, West Sumatra, a woman was born who later became Haji Rangkayo Rasuna Said, an Indonesian female figure who came from a Minangkabau family. She was active in various Indonesian independence struggle organizations, including the People’s Union and the Indonesian Muslim Union and was known for her fiery speeches and courage in fighting for the rights of women and the Indonesian nation.

Awesome https://is.gd/N1ikS2
Good https://is.gd/N1ikS2
Good https://is.gd/N1ikS2