Artikel ini adalah sambungan dari tulisan yang saya buat dua tahun lalu di sini:

Sahabatku, masih ingatkah kisah kain Kain Kafan Turin yang pernah aku tulis dua tahun lalu? Sekedar untuk menyegarkan ingatan, tulisan tahun lalu adalah menceritakan tentang kain kafan turin atau di Italia lebih dikenal dengan nama khusus “Sacra Sindone” atau kain kafan sakral.

Lukisan tentang prosesi penguburan Yesus dimana jenazah tak sempat dimandikan, setelah mengalami penyiksaan yang zalim, penuh luka dan pendarahan yang tak terkira.

Kain kafan Sacra Sindone dianggap bagian dari keajaiban karena telah dua kali mengalami tragedi kebakaran dan selamat dari dua tragedi itu, satu terjadi pada tahun 1532 di Kapel sainte-Marie, Chambéry Prancis dan dan satu lagi terjadi di Turin atau Torino pada 12 April tahun 1997 yang menyebabkan kain mengalami kerusakan akibat akibat tetesan perak dari kemasan penyimpanan yang terbuat dari perak,

Sahabat, saya cukup beruntung bisa bertemu dengan Luigi Tardini, seorang Insinyur yang hobinya fotografi dan turut memotret kain kafan, saat televisi RAI akan menyiarkan siaran khusus mengenai kain kafan ini.

“Karena kebetulan stasiun televisi Italia RAI akan membuat program khusus tentang kain kafan ini, saya mengajukan permohonan untuk memotret dan kemudian permohonan ini dikabulkan. Pada kesempatan itu saya tidak hanya memotret tapi sempat menyentuh kainnya,” ujarnya penuh haru.

Sebagai seorang fotografer, ia cukup terkesan karena berbekal pengalaman fotografer terdahulu yaitu Secondo Pia, seorang Fotografer yang juga seorang pengacara dan wali kota Asti. Pemotretan dilakukan Secondo Pia pada tahun 1898, saat teknologi fotografi masih menggunakan pelat postifif. Fotografer legendaris ini sempat frustasi karena saat mengembangkan film, hasilnya malah menjadi seperti klise (film negatif). Jika dilihat lebih jauh, tepatnya seperti foto 3 dimensi, dimana citra wajah Yesus yang jelas dan detail mampir memperlihatkan “kontur gelap terang”.

Kain kafan turin malah menghasilan citra negatif dan saat difoto dengan pelat slide (positif). Sebuah keajaiban fotografi yang sangat kontroversial.

Penemuan ini sangat penting karena menunjukkan bahwa Kain Kafan Turin memiliki citra yang tidak terlihat dengan mata telanjang, tetapi dapat dilihat dengan jelas pada pelat positif fotografi. “Artinya pelat positif slide kain kafan turin saat dicetak malah tampak seperti citra negatif atau semacam klise” ujarnya.

Temuan ini jelas menggemparkan dan bagi Luigi yang seorang fotografer, bisa dibilang ini adalah “swafoto atau selfie pertama di dunia yang dilakukan dua milenium yang lalu,”.

“Jadi, ya, sebetulnya ini bisa dianggap swafoto pertama, ini hal yang simpatik, untuk mendefinisikan (kain kafan turin) sebagai swafoto pertama, dan ini adalah jejak yang ditinggalkan Yesus Kristus setelah kebangkitan-Nya, Ia meninggalkan gambar-Nya, meskipun saat ini tidak diketahui bagaimana gambar itu  bisa direproduksi, bagaimanapun itu adalah hal yang misterius,” katanya.

Luigi menceritakan bagaimana kain ini bisa sampai di Turin merupakan sebuah perjalanan panjang, termasuk berkat hasil negosiasi dengan kaum muslim Abbasiyah . Ia mengatakan Kain bergerak dari Yerusalem, kemudian ke Urfa atau sekarang dikenal dengan nama Edessa dan pada tahun 944 Edesa sedang dikuasai oleh kaum muslim.

Peta perjalanan kain kafan sakral sindone atau kain kafan Turin dari Yerusalem hingga kini berada di Turin.

Kemungkinan besar, kain kafan Yesus juga disimpan dalam gua seperti banyaknya relik kekristenan yang sangat penting disimpan dalam gua.

“Setelah kain kafan ini hilang kabarnya hampir lebih dari 900 tahun, Kaisar Konstantinopel, yang bernama Roman I Lekapenos, mengetahui bahwa kain kafan itu ada di Edesa, yang saat itu berada di tangan kaum Muslim. Kain kafan itu ditaruh di dinding di atas pintu gerbang benteng kota,” ujarnya.

Sebagai informasi, Romanos I Lekapenos adalah seorang Kaisar Bizantium yang memerintah dari tahun 920 hingga 944 Masehi, ia berusaha memperkuat Kekaisaran Bizantium dan menghadapi ancaman dari berbagai pihak, termasuk bangsa Bulgaria dan Abbasiyah.

Kemungkinan besar saat masih di tanah asalnya, kain kafan disimpan dalam bejana seperti di bawah ini, kemudian mengalami proses penyimpanan dengan cara dilipat.

Ada lukisan antik yang menggambarkan Kain kafan Yesus disimpan di atas pintu gerbang benteng kota yang menaungi dan melindungi kota Edesa. Kota ini kemudian dikuasai oleh kaum Abbasiyah.

Kaisar kemudian memutuskan untuk mengirim pasukan demi mengambil kain kafan itu. Namun kaum Muslim sebetulnya tidak terlalu peduli dengan kain kafan itu, sehingga mereka dengan sukarela menjadikannya sebagai alat pertukaran dengan ratusan tawanan perang, dan kaisar juga harus membayar ribuan uang, untuk mendapatkan kain tersebut.

Setelah transaksi terjadi sebetulnya, kaum Kristen yang ada di Edesa agak sedih karena harus berpisah dengan kain sakral, pelindung kota mereka itu.

Kemudian kain kafan itu dibawa ke Konstantinopel pada tahun 944 untuk dipersembahkan kepada Romanos I Lekapenos,” ujarnya.

Pemimpin Abbasiyah tidak begitu peduli dengan kain kafan sakral ini dan menjadikannya sebagai alat tukar untuk mengambil beberapa ratus tawanan ditambah beberapa ribu keping uang. Kaisar setuju dan pertukaran pun terjadi, kain kemudian dibawa ke Konstantinopel.

Pada masa Romanos I Lekapenos (920-944 M), Kekhalifahan Abbasiyah memang memiliki pengaruh dan kontrol atas beberapa wilayah di Timur Tengah, termasuk Edessa (yang sekarang dikenal sebagai Şanlıurfa di Turki). Kaisar ini berhasil memperoleh “Mandylion” atau “Kain Suci Edessa”, sebuah relikui yang diyakini sebagai kain yang digunakan untuk membungkus wajah Yesus setelah kematiannya. Relikui ini dibawa ke Konstantinopel dan menjadi salah satu harta karun kekaisaran.

Lukisan penyerahan kain kafan Yesus kepada kaisar.

“Mandylion” berasal dari bahasa Yunani, yaitu “Μανδύλιον” (Mandylion), yang berarti “kain” atau “saputangan”. Dalam konteks sejarah dan agama Kristen, Mandylion merujuk pada sebuah relikui yang diyakini sebagai kain yang digunakan untuk membungkus wajah Yesus setelah kematiannya, atau sebagai kain yang digunakan oleh Yesus untuk mengeringkan wajahnya dan meninggalkan citra wajahnya.

Para ahli memperkirakan Yesus disiksa dengan posisi seperti ini agar prajurit Romawi dapat mencambuknya dengan leluasa.

Alat cambuk yang digunakan oleh Prajurit Romawi dibuat untuk sangat efektif menyiksa dan menyakiti tawanan tapi tidak sampai membuat tawanan mengalami kematian.

Jenazah Yesus yang terekam pada kain kafan, dan sekelilingnya adalah jejak-jejak kebakaran di Chambèry dan Turin yang secara ajaib tidak sampai merusak citra gambar jenazah tersebut.

Lukisan wajah Yesus yang luka-luka akibat mahkota duri, terekam jelas dalam jejak kain kafan dan juga dalam hasil foto jepretan Pia Secondo.

Posisi tangan Yesus saat dikuburkan dilukis juga oleh beberapa pelukis di berbagai zaman.

Bagai sebuah citra rekam medis, dalam rekam jejak kain kafan dan foto tampak tangan Yesus mengalami luka

Dari citra lain kafan yang seolah menjadi”rekam medis” tersebut, para ahli memperkirakan tangan Yesus mengalami pemakuan dengan posisi seperti ini:

Satu-satunya lukisan abad pertengahan yang melukiskan proses penyaliban dengan posisi tangan dan paku seperti yang terekam dalam citra kain kafan karena pelukisnya sempat ke Turin untuk menyaksikan kain kafan Turin:

Dari Istanbul Konstantinopel, kain kafan kemudian berlanjut ke Athena Yunani, lalu ke Lirey kemduain ke Chambéry di Prancis, dan sampai sekarang di Torino, Italia.

KAIN YANG DITISIK MALAH JADI SAMPLE RADIO KARBON C-14

Keabsahan kain kafan Turin sebagai relik peninggalan Yesus menjadi polemic karena saat dilakukan riset pada tahun 1981, hasil radiocarbon menyebutkan bahwa kain kafan berasal dari abad 12 atau abad ke 13. Hasil radiocarbon ini membawa blunder dan hampir manihilkan semua hasil riset yang dilakukan oleh para ahli dari 25 cabang ilmu.

Dokumentasi proses pengambilan sample dari kain kafan sakral Turin pada tahun 1981 (sebelum terjadi tragedi kebakaran kedua pada tahun 1997).

Namun, belakangan terkonfirmasi bahwa hasil karbon C-14 tersebut tidak dapat dijadikan sebagai patokan karena sample menggunakan bagian yang mendapat intervensi tisikan oleh para biarawati pada tahun 1534. Tentu saja dengan kontaminasi yang sedemikian rupa, hasil karbon menjadi lebih mendekati ke angka tahun penisikan daripada angka tahun kain itu sendiri.

Sample kain yang diambil adalah bagian yang paling kotor dan terkontaminasi.

Dalam paparannya ia mengatakan bahwa kain turin memiliki indikasi spesifik yaitu terbuat dari linen, sesuai dengan kepercayaan bangsa Yahudi bahwa daging tidak boleh bertemu daging, maka kain yang  membungkus manusia tidak boleh terbuat dari serat binatang seperti sutra atau wool tapi harus dari serat tumbuhan itulah mengapa linen menjadi bahan dasar dalam pembuatan kain kafan.

Dalam riset mutakhir diketahui bahwa selain terbuat dari bahan linen terdapat juga jejak serat katun, yang kemungkinan besar merupakan benang yang digunakan oleh para Biarawati sebagai bahan untuk menisik dalam proses restorasi kain yang dilaksanakan pada abad pertengahan.

Selain itu, kain kafan juga mengandung tulisan yang diperkiakan ditulis oleh prajurit Romawi yang bertugas menandai kain tersebut. Tanda yang tampak di kain kafan bertuliskan:

Yesus dari Nazareth, meninggal pada bulan April masa pemerintahan tahun ke 16 masa pemerintahan Tiberous, dilaksanakan sebelum matahari terbenam. Ini ditulis oleh seorang prajurit Romawi karena setelah 12 bulan kemudian, criminal yang dihukum mati dapat mengambil barang-barang milik terhukum sehingga kain kafan ini ditandai agar bisa diambil oleh keluarga yang bersangkutan.

Dari pemeriksaan laboratorium modern terindikasi bahwa noda darah menjadi cetak tetap pada kain kafan bahkan proses dari hasil forensik tercatat bahwa jenazah yang pernah terbungkus kain tersebut tidak sempat mengalami pembusukan tapi mengalami proses pencahayaan yang terpancar dari dalam tubuh dan menjadi cetak biru sebuah mahakarya yang menginspirasi dunia fotografi slide positif dan negatif, cetak kontur 3 dimensi, rekam medis dan juga fotocopy. Dari hasil penelitian terlihat juga jejak dan jenis luka yang didapat Yesus akibat penyiksaan yang dialaminya.

Serat kain yang terdapat pada kain kafan dengan proses fotografi dan di bawah serat kain dalam lukisan seorang pelukis abad pertengahan, memperlihatkan jenis serat yang identik.

Maka, demikianlah kain kafan turin memberi khazanah pada peradaban manusia selama dua milenium terakhir, ketika manusia modern baru mengenal rekam medis, fotografi, rekam 3 dimensi dan fotocopy, Yesus telah membuat prototypenya swafotonya dalam sebuah event paling misterius dan agung di dunia, kisah epic penyaliban dan kebangkitannya.

SELAMAT PASKAH!

10 thoughts on “TANPA DINASTI ABBASIYAH KAIN KAFAN PEMBUNGKUS YESUS TAK AKAN SAMPAI DI TURIN.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X