RI3SKA.COM – Salah satu materi di kelas lukis online yang saya ajarkan kepada peserta yang umumnya anak usia 5-12 tahun adalah kartu ucapan. Sangat menarik sebab dari semua peserta yang lahir sebagai ‘generasi alpha’, tak ada satu pun yang mengenal benda ini sebagai salah satu sarana komunikasi.

Prihatin dengan kenyataan yang ada, maka saya menambah jam pertemuan untuk menjelaskan soal korespondensi yang berkaitan erat dengan dunia pos. Mulai dari surat menyurat biasa, kirim pesan singkat dan kilat (telegram), kirim uang (wesel), bayar pajak radio sampai kirim kartu ucapan pada hari raya atau perayaan lain seperti ulang tahun, wisuda dan sebagainya.

Dulu pernah ada masa mengirim ucapan Natal dan tahun baru memakai kartu yang dikirim lewat pos. Ada yang berbentuk lembaran kartu pos, ada juga berupa kartu yang terbungkus dalam amplop. Biasanya akhir November toko buku dan alat tulis atau kedai-kedai di sekitar kantor pos, saling berlomba memajang kartu dengan aneka warna, desain dan tulisan yang menarik. Sering kali, kantor pos juga kewalahan karena dibanjiri kartu Natal yang menjadi tradisi tahunan di mana-mana.

Seiring kemajuan teknologi, kebiasaan menyapa lewat kartu ucapan ini terganti dengan surat elektronik, berupa e-card (electronic cards) yang memakai jangka waktu tertentu (tak bisa disimpan lama dalam file). Bisa juga lewat SMS, MMS atau video singkat, bahkan langsung tatap muka secara jarak jauh.

Karena intinya hanya untuk bertukar sapa dan ucapan, sistem modern ini bagi sebagian masyarakat dianggap cukup efisien dan efektif. Tak perlu repot memilih, membeli dan mengirim lewat pos. Artinya menghemat waktu, tenaga dan material sebab umumnya kartu ucapan ini berbahan dasar kertas. Saat ini penggunaan kertas diminimalisasi untuk melindungi hutan dan lingkungan.

Namun bagi sebagian masyarakat yang pernah mengalami masa kejayaan kartu ucapan, kadang kala rindu juga untuk menyapa kerabat lewat kartu ucapan. Karena alasan di atas, belakangan ini cukup sulit bisa menemukan toko yang menjual kartu ucapan. Bahkan sekarang, perangko pun menjadi benda yang termasuk langka.

Kantor pos di Italia tidak menjual perangko. Ijin menjual perangko justru diberikan kepada pedagang yang menjual tembakau, garam dan perangko atau disebut “tabaccheria” yang kerap disingkat tabacchi, tapi sejalan dengan waktu, tidak semua tabacchi juga menjual perangko, hanya yang memiliki kode khusus. Wah, kesannya cukup berbelit-belit! Tapi kalau sudah berniat mengucap salam lewat kartu, segalanya pasti bisa diusahakan.

Tahun lalu, keinginan saya untuk menyapa kerabat dan keluarga lewat kartu, terwujud dengan sukses. Mereka sangat sukacita. Kartu Natalnya ikut terpajang memeriahkan dekorasi Natal di rumah mereka.

Bagi teman-teman yang senang mengoleksi benda-benda ‘vintage’, kartu Natal juga bisa menjadi benda koleksi bahkan investasi. Tak hanya perangko, tahun 2001 lalu, sebuah kartu Natal memecahkan rekor lelang di Inggris seharga £ 22.250. Kartu ini bergambar sebuah keluarga yang terdiri atas tiga generasi sedang minum anggur yang dilukis oleh John Callcott Horsley. Merupakan kartu Natal komersial pertama yang resmi dicetak di London pada tahun 1843 atas perintah Sir Henry Cole. Dicetak sekitar 1.000 lembar dan laku dijual dengan harga 1 shilling per lembar.

Mundur ke belakang, Adam McLean dari Scottish Record menemukan bukti sejarah bahwa tahun 1611 Michael Maier adalah orang pertama yang mengirim kartu Natal bergambar bunga mawar kepada Raja James I dan putranya Hendry Frederick, Pangeran Wales. Masa itu, kartu ucapan hanya menampilkan gambar bunga, peri dan gambar-gambar menarik lain yang mengingatkan musim semi, jarang menampilkan gambar-gambar bertema keagamaan atau musim dingin.

Dalam perkembangan selanjutnya, ukuran dan bahan kertas pun semakin bervariasi dengan aneka macam gambar yang lucu-lucu, kontemporer dan populer sesuai zaman. Misalnya masa pandemia, banyak ilustrator kartu Natal yang menyisipkan gambar masker sebagai pesan universal masa kini. Warna hijau, merah dan putih juga mendominasi kartu-kartu ucapan Natal.

Menyambut Natal dan tahun baru yang tinggal beberapa hari, rubrik KRIYA kali ini ingin berbagi ide membuat kartu natal memanfaatkan materi sekitar rumah yang mudah didapatkan sebagai upaya daur ulang.

Material dasar yang diperlukan adalah kertas. Untuk membuat kartu sebaiknya kertas yang agak tebal karena kalau memakai media seperti cat air, tinta atau lem yang cenderung cair, pakai kertas tipis hasilnya kurang maksimal. Untuk amplop, kertas biasa tidak masalah. Lebih praktis pakai amplop siap pakai. Jadi ukuran kartunya harus sedikit lebih kecil dari ukuran amplop.

Selain alat tulis, gunting dan lem, kalau punya peralatan melukis seperti spidol, pinsil warna, cat air, akrilik dll, lebih baik lagi. Aneka cetakan kue juga bisa dipakai untuk membuat pola gambar seperti bintang, bunga, dll. Material tambahan sebagai variasi, bisa pakai potongan kertas, benang, kain perca, manik-manik, kancing dan sebagainya. Lebih simpel, stempel jari juga bisa menjadi alternatif karya seni yang menarik. Misalnya amplop putih polos yang saya tambahkan gambar dengan teknik ini agar lebih menarik.

Terinspirasi dari seniman besar Perancis Henri Matisse yang terkenal dengan karya kolase berupa guntingan kertas aneka warna dan bentuk, saya memanfaatkan kertas koran lama, majalah usang, pembungkus dan iklan selebaran.

Selain sebagai pelukis, pengukir, ilustrator dan pematung yang berlatar pendidikan sekolah hukum, Matisse juga dikenal pernah menjadi salah satu pemimpin gerakan Fauvisme yang sempat populer pada tahun 1904-1907.

Sayang aliran ini berumur pendek, namun telah menjadi tonggak konsep seni rupa modern berikutnya. Ciri khas gaya ini adalah penggunaan warna cerah dan ekspresif. Jadi kartu ucapan dengan konsep yang dikenalkan Matisse, sangat kontekstual dengan masa kini. Karena itu, mari mewarnai dunia dan ucapkan salam Anda lewat kartu!

Penulis: Claudia Magany.
Editor: Rieska Wulandari

By Redaksi

Minds are like parachutes; they work best when open. Lord Thomas Dewar

Tinggalkan Balasan

X
%d blogger menyukai ini: