RI3SKA.COM – Dua gadis kembar identik, kelahiran 4 Agustus 1996, berhasil memuaskan kebutuhan kaum jetset Surabaya, sekaligus mampu meraih perhatian publik fesyen di Milan.
Mereka menampilkan mahakarya busana yang tidak hanya sekedar indah, tapi benar-benar memenuhi kriteria adibusana, dimana ekspektasi pada standar konsep, desain, material, dan sentuhan akhir sangat tinggi dan sulit.

Dua kembar Benita dan Janice Setyawan (24), laksana sebuah anomali. Setelah menyelesaikan studi dan meraih kesarjanaan di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hang Tuah Surabaya, bukannya melanjutkan pendidikan spesialis di bidang tersebut, mereka ternyata memutuskan melompat ke sektor lain, yaitu membuka butik sendiri.

“Kami menyelesaikan sekolah kedokteran gigi, sebagai bakti kami kepada orang tua, tapi hasrat kami sebetulnya dunia busana dan desain,” demikian tutur Janice dan Benita bersahut-sahutan saat ditemui penulis di sebuah Kafe di bilangan Porta Venezia Milan, tahun lalu.

Dalam balutan busana yang elegan, dua gadis yang sulit dibedakan parasnya, bercerita, “Sesuai janji kami kepada orang tua, kami memang berhasil lulus dan tuntas dalam menjalani studi kesarjanaan.
Lulus kuliah kedokteran gigi, kami membangun perusahaan butik dengan brand bernama “Maquinn”, tepatnya tahun 2014. Dipandu oleh mama yang telah bergerak di bidang batik, kami pun menjalin kerjasama dengan pengrajin dari kota-kota di Jawa Timur dan Jawa tengah.”

“Mama yang telah lebih dahulu terjun di bisnis dan dunia kerajinan batik, membuat kami jatuh cinta pada dunia ini dan mama juga yang menunjukkan kepada kami, pihak dan produsen mana saja yang kira-kira bisa diajak kerjasama untuk memenuhi kebutuhan desain kami,” demikian dikatakan Janice.

Melihat kesuksesan bisnis mereka yang mempunyai klien dari kota Surabaya hingga melebar ke berbagai negara termasuk Singapura, Malaysia dan Australia, mereka lalu memutuskan untuk melanjutkan studi ke luar negeri.

Janice memilih ke Savile Rose Bespoke London sementara Benita mengambil sekolah di London Embroidery School yang membuat mereka lebih mampu membuat karya-karya yang menawan. Artis-artis ibukota pun semakin banyak yang menjadi pelanggan setia mereka.

Dalam perjalanan meniti bisnis busana yang semakin membuat mereka semakin jatuh cinta ini, mereka menyadari dan mengakui, bahwa untuk menambah keahlian dibidang konstruksi busana, kota Milan adalah tempat yang tepat untuk menimba ilmu, untuk itu mereka melanjutkan ke sekolah moda terkenal Instituto di Moda Burgo, Milano.

Tak dinyana, kehadiran mereka di Italia, tepat saat Italia mengalami pandemi. Walaupun demikian pandemi tidak menghalangi tekad mereka untuk studi dan berkarya. Bulan September 2020, Italia berhasil lepas dari gelombang pertama Covid-19.

“Sulit sekali untuk membuat busana di masa pandemi, terutama karena beberapa material yang merupakan kain batik tulis dan bordir, dibuat di tanah air yang juga sama-sama dalam kondisi “lockdown” dan pengrajin hanya bisa mengerjakan dari rumah masing-masing,” ujar Benita.

Terbukti, bakat disertai tekad keras, memang memberikan hasil nyata. Meski dihadang pandemi, kreativitas mereka tak terbendung, bahkan pasangan ‘influencer” yang sedang naik daun, Atta Halilintar dan Aurel menggunakan karya mereka untuk busana pemotretan “pre-wedding ”.

Pada bulan Februari 2021, Italia kembali dalam kondisi zona merah, sehingga peragaan busana pada musim itu, ditiadakan.

Kondisi ini tidak menghalangi ide-ide mereka, dimana kali ini mereka muncul dengan fashion movie atau film peragaan busana berjudul “Realm of Silence”.

Tidak tanggung-tanggung, mereka mengundang tim langsung dari Surabaya dan juga tim produksi film dari Italia dengan pengambilan gambar yang dilakukan di Palazzo Turati, Milan dengan menghadirkan para Model dari Rusia.

Lima busana yang megah dan elegan ditampilkan dalam karya film tersebut, yang mana dalam menciptakan setiap busananya dibutuhkan waktu ribuan jam untuk penyelesaiannya.

Salah satu busana, tampak bertabur ribuan bunga yang tengah bermekaran. “Untuk menyelesaikan gaun ini dibutuhkan waktu 1800 jam,” ujar Benita.

Maha karya mereka tidak hanya indah dan anggun, tapi sarat dengan keterampilan dan keuletan yang luar biasa, dengan menggunakan material berkelas premium, yang mendapat sentuhan kombinasi bordir dan renda, sulam, payet dan ada juga penggunaan tulang untuk rangka yang khas.

Padu padan yang menarik, tak henti-hentinya membuat banyak pihak berdecak kagum.

Dalam film busana tersebut, Janice Dan Benita menyandingkan Indonesia dengan kisah dari Rusia.

“Kami ingin memadukan keunikan dan kekuatan desain gaya barok yang detailnya memang menarik dan menantang,” ujarnya.

Membuat film busana di Milan saat pandemi, merupakan sesuatu yang istimewa bagi mereka.

“Ini adalah satu kesempatan emas dan hak istimewa, sehingga kami dapat kembali berkarya dan menampilkan karya kami di sebuah gedung yang demikian indah, Palazzo Turati,” ujarnya.

Dalam sebuah pertemuan dengan jurnalis dari Indonesia dan Italia yang digelar atas kerjasama dengan KBRI Roma, secara daring, mereka mengatakan tidak hanya mendesain busana, tapi juga mendesain seluruh aksesoris yang dikenakan model, bahkan mereka bekerja sama dengan musisi Italia, untuk membuat musik latar yang sesuai dengan film mereka.
“Kami ditantang untuk membuat sesuatu secara holistik, tidak hanya pakaian saja, tapi semua yang terkait di dalamnya,” tutur mereka

Disinggung mengenai modal untuk melakukan produksi film di Italia, dengan mimik serius mereka mengakui banyak pihak yang menjadi sponsor dan mau membantu mereka, termasuk dari KBRI Roma.
“Syukurlah di saat yang berat ini, banyak orang mau membantu kami. Tekad kami untuk tetap berkarya di masa sulit, bisa terlaksana,” tambahnya.

Keduanya mengatakan, pada saat banyak tantangan disitulah kreativitas harus muncul.

Ketika ditanya, apakah mereka bagian dari ”Crazy Rich Surabaya” si kembar kembali tertawa bersama dan berkata : ”Bukan, kami bukan bagian dari ‘Crazy Rich Surabaya’, tapi memang merekalah klien-klien setia kami,” ujar Janice dan Benita sumringah.

Penulis: Rieska Wulandari
Editor: Claudia Magany dan Julie Ghinami

Proses pembuatan film busana bisa dilihat di sini: https://youtu.be/WU6eufXsv7c

By Redaksi

Minds are like parachutes; they work best when open. Lord Thomas Dewar

Tinggalkan Balasan

X