RI3SKA.COM – Sulit dibayangkan bahwa makhluk berbulu tebal, berbentuk hampir sepenuhnya bundar dan empuk mumbul-mumbul bernama Totoro yang digambarkan dalam kartun My Neighbour Totoro sebetulnya adalah refleksi hantu atau tepatnya roh yang bersemayam di sebuah pohon Champor Tree, sebuah pohon yang dikenal sebagai pohon yang selalu hijau dan diketahui bisa tumbuh tinggi menjulang hingga 30 meter dengan diameter yang juga masif.

Di Asia Champor tree tersebar dalam jenis yang beragam, di Indonesia, pohon ini dikenal dalam spesies yang lebih spesifik yaitu kayu manis, rempah yang wangi semerbak dan mahal harganya.

“Tetanggaku Totoro”, ditulis dan disutradarai oleh Hayao Miyazaki, tampil di hadapan publik pada 16 April 1988 dalam bentuk film kartun. Artinya Studi Ghibli, memproduksi film ini hampir 33 tahun lalu.

Dengan durasi 86 menit, film ini mengisahkan tingkah polah dua saudari, Satsuki dengan “seiyu” atau pengisi suara  Noriko Hidaka dan Mei dengan pengisi suara  Chika Sakamoto, anak-anak dari Profesor  (tampaknya bidang arkeologi) bernama Tatsuo Kusakabe  dengan pengisi suara Shigesato Itoi yang bekerja di sebuah Universitas di Jepang.

Adegan dibuka dengan sang profesor yang duduk di bagian depan sebuah colt buntung yang memuat barang-barang dan dua putri di bagian bak belakang, melintasi area persawahan. Rupanya mereka sedang pindah dari kota, ke sebuah rumah tua di desa yang lebih besar meski ketika tiba, rumahnya lebih mirip rumah yang terancam ambruk.

Anehnya anak-anak ini justru antusias melihat rumah mereka dan jungkir balik bahagia meski kemudian mereka menemukan kejanggalan misalnya, kayu penyangga di teras yang berderik-derik hampir copot ketika dipegang oleh Anak anak karena labil atau saat tiba-tiba mereka menemukan biji kenari di lantai serta makhluk-makhluk berbulu hitam yang beterbangan dan hilang seketika cahaya mentari menyeruak ke dalam ruangan.

Diceritakan pada film ini, sang Ibu yaitu Yasuko Kusakabe dengan pengisi suara Sumi Shimamoto tidak bisa ikut menemani mereka pindah rumah, karena sedang hamil dan harus bedrest (istirahat panjang) di rumah sakit, sampai sang adik bungsu lahir.

Berlatar tahun 1958, yaitu setelah perang dunia, film ini dengan cerdik, luwes bahkan lucu mengangkat tema yang sulit  yaitu tentang harmoni dengan alam secara holistik, dimana  setiap adegan mampu memperlihatkan nilai dan prinsip hubungan yang manis dan harmonis antara ayah-anak, suami.-istri, keluarga dan tetangga, guru dan murid, petugas medis dan pasien, manusia dan alam sekitar, bahkan manusia dan makhluk gaib, tak kasat mata.

Film ini sebetulnya memiliki sisi menegangkan, tapi diiringi musik yang penuh harmoni,  karya musisi kelahiran 6 Desember 1950, Joe Hisaishi nama profesional dari Mamoru Fujisawa, rasa takut, bisa sedikit terkontrol pada level “penasaran” untuk melihat adegan selanjutnya. Selama kariernya, Joe setidaknya telah membuat 100 musik latar film.

Tak hanya itu, pesan lain yang ingin disampaikan sang sineas yang berhasil meraih berbagai penghargaan untuk filmnya ini, antara lain Animage Anime Grand Prix prize,  Mainichi Film Award,  Kinema Junpo Award untuk film terbaik pada tahun 1988.

Juga The Special Award dari Blue Ribbon Awards di tahun yang sama, adalah tanpa menggurui dan tanpa menakut – nakuti, mampu menceritakan tentang kekuatan “Ilahiah” pada momen tumbuhnya tunas dari biji-bijian yang ditanam dua gadis cilik ini, tapi juga memperlihatkan momen lucu saat manusia memperkenalkan teknologi payung, kepada makhluk halus.

Saya jamin, usai menonton film ini, anak-anak Anda tidak akan menjadi “penyembah pohon”, tapi justru menjadi semakin hormat pada alam serta hidup dalam harmoni dengan sesama dan dengan spririt saling menghormati, terlepas dari apapun kepercayaan  yang dimiliki oleh sesamanya.

Penulis: Rieska Wulandari
Editor: Claudia Magany

By Redaksi

Minds are like parachutes; they work best when open. Lord Thomas Dewar

Tinggalkan Balasan

X