RI3SKA.COM – Siapa tidak kenal merk ternama dari Italia, Gucci, yang produknya hanya bisa dijangkau oleh kalangan elit dan borjuis, brand ini adalah sinonim dan simbol dari kekayaan dan kesusksesan.
Namun dibalik nama glamor Gucci, pernah ada skandal berdarah yang menggegerkan Italia dan dunia.

Tragedi itu terjadi di Milan pada tahun 1995 dimana Maurizio Gucci, pewaris brand Gucci tewas ditembak pembunuh bayaran. Kasus ini, diangkat ke layar lebar oleh sutradara Ridley Scott dan diperkuat dengan taburan bintang dari mulai Ladi Gaga sebagai Partizia Reggiani, istri Maurizio Gucci yang dibintangi oleh Adam Driver.

Tak kurang Al Pacino, Jared Letto, Jeremy Irons dan Salma Hayek juga turut terlibat dalam film bergenre drama – thriller ini.
Berdurasi 157 menit ini tak lain dibuat berdasarkan kasus kriminal yang dicatat secara detail oleh jurnalis Amerika Sara Gay Forden yang berhasil membuat buku The House of Gucci: A Sensational Story of Murder, Madness, Glamour and Greed.

Saat kasus ini terjadi, ia memang sedang ditempatkan oleh medianya di wilayah Italia. Dalam kariernya selama 15 tahun di negeri pizza, ia bertugas meliput berbagai raksasa brand seperti Gucci, Armani, Versace, Prada, Ferragamo dan berbagai persahaan keluarga yang kini menjelma menjadi perusahaan global.

Buku yang terbit pada tahun 2001 ini kemudian diadopsi menjadi naskah film oleh Roberto Bentivegna, seorang sineas muda keturunan Italia kelahiran London dan tumbuh besar di dua kota besar,yaitu London dan Milan.

Dalam pertemuan daring dengan Asosiasi Jurnalis Asing (Stampa Estera) di Milan, baru-baru ini, Forden mengatakan untuk melengkapi data dan detail buku ini, selama rentang waktu 1995-2001, ia telah mewawancarai setidaknya 100 orang yang dianggap dekat dan mengetahui seluk beluk keluarga dan bisnis Gucci.

Forden mengatakan, awalnya bukunya tersebut tidak mendapatkan apresiasi di kalangan penerbit di Italia dengan alasan kasus pembunuhan ini sudah terlalu banyak diliput oleh media lokal dan nasional, karyanya tersebut diterbitkan di Amerika serikat. Baru belakangan saja, tepatnya akhir tahun ini, Italia juga turut menerbitkan bukunya dalam bahasa Italia.

Sarah memperkirakan ada kemungkinan pihak – pihak tertentu sengaja menghalangi penerbitan bukunya di Italia untuk melindungi pihak-pihak yang terkait dengan skandal ini. Scott Ridley ingin memproduksi film ini sejak tahun 2006 namun kesulitan mendapatkan ijin dari pihak Gucci. Lampu hijau akhirnya diberikan pada tahun 2019 oleh CEO Gucci, Marco Bizzarri, dan bahkan memberikan akses penuh untuk menggunakan pakaian dan arsip prop mereka. Menjadi Pemeran Antagonis

Film ini dibuat berdasarkan kasus kriminal yang menimpa istri dari pewaris brand Gucci, Maurizio Gucci yaitu Patrizia Reggiani, yang dikenal sebagai pribadi yang sensasional dan penuh kontroversi. Film ini memiliki tantangan tersendiri, karena mengangkat sebuah pribadi tentang perempuan yang mewakili icon dan citra kemewahan menjadi seorang perempuan dengan julukan “Vedova Nera” atau “Janda Hitam” setelah pengadilan dan penyelidikan hukum menyebutkan bahwa Patrizia bertanggungjawab atas kematian mantan suaminya Maurizio Gucci karena menyewa dan mengirim pembunuh bayaran.

Adapun Lady Gaga artis penyanyi yang memenangkan berbagai penghargaan di bidang musik dan film justru mendapatkan pemeran antagonis Patrizia Reggiani, yang diperistri oleh Maurizio Gucci.

Sosok Patrizia yang lahir di kota Milan pada 2 Desember 1948 adalah seorang anak yang dibesarkan oleh ibu. Hidup tanpa mengenal sosok ayah den Ibunya yang berprofesi pelayan, membuatnya berada dalam garis kemiskinan.

Forden yang secara pribadi mengenal Patrizia mengatakan, ketika Ia diceraikan oleh Maurizio, semua yang dimilikinya dari mulai status, kekayaan dan pertemanan, seolah sirna dan bahkan pada tahun 1992 ia sempat mengalami sakit tumor otak dan harus dioperasi. Maurizio tetap menyantuni jandanya dengan konversi saat ini sekitar 1,4 miliar per bulan.

Memerankan tokoh yang demikian kompleks, Lady Gaga yang lahir di Amerika Serikat namun memiliki seorang Ibu keturunan Italia, mengaku harus melakukan persiapan, termasuk harus melatih diri dengan mengajak sang bunda untuk berbicara dalam bahasa dan logat Italia.

Shooting film ini mulai dilakukan pada 25 Februari – 8 Mei 2021 yaitu dimulai dari kota Roma, kemudian pada bulan Maret di Gressoney – Saint Jain dan Gressoney-La-Trinite’ di Valle d’Aosta yang mewakili kawasan turistik St. Moritz di Swiss. Beberapa kota lain yang juga menjadi lokasi pengambilan gambar adalah Firenze, Lago di Como, Milan dan kembali lagi ke Via Condotti, Roma.

Beberapa pihak ada yang mengkritik bahwa film ini terlalu berlebihan dan dramatis namun Sara Gay Forden sang jurnalis yang mengikuti kasus ini bahkan sempat berbicara dengan Patrizia sebelum sang janda hitam itu akhirnya dipenjarakan, mengatakan, Ia kenal dengan keluarga Gucci secara pribadi dan tidak ada yang terlalu dramatis dengan film ini, karena “memang demikianlah kenyataannya keluarga Gucci,” pungkasnya.

Dalam kehidupan nyata, pada tahun 1998, Patrizia dinyatakan bersalah dan mendapat vonis 26 tahun penjara namun karena “kelakuan baik” dia dibebaskan setelah menjalani hukuman selama 18 tahun. Ia kini berusia 72 tahun dan dalam kehidupan senjanya, Ia tetap hidup di Milan dengan santunan yang ditandatangani pada tahun 1993, yaitu sebanyak 1 juta US Dolar per tahun dan kompensasi sebanyak 22 juta USD yaitu kompensasi selama dia hidup dalam penjara, dari keluarga Gucci.

Film ini sudah beredar di komplek sinema dan beberapa penonton berkata: “Akhirnya ada juga sesuatu bertuliskan ‘Gucci’ yang mampu saya beli”.


Penulis: Rieska Wulandari
Editor: Claudia Magany

By Redaksi

Minds are like parachutes; they work best when open. Lord Thomas Dewar

Tinggalkan Balasan

X
%d blogger menyukai ini: