RI3SKA.COM – Wakil Menteri Kesehatan Italia Pierpaolo Sileri, Jumat, 25 September 2020 dalam pertemuan dengan pers yang dikoordinasi oleh Asosiasi Jurnalis Asing di Roma dan Milan, mengatakan, Italia sukses mengani gelombang satu Covid-19 dan kini memiliki situasi yang lebih baik jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga.

Sukses tersebut menurutnya, karena beberapa hal, antara lain Italia telah menerapkan peraturan dan tata tertib yang sangat ketat dan keputusan sebagai negara pertama di Eropa untuk menerapkan karantina nasional pada bulan Maret dianggap sebagai keputusan yang tepat sasaran.

“Keputusan politik yang dilakukan oleh Italia dalam memberlakukan aturan yang sangat ketat dan sebagai negara Eropa yang pertama kali memutuskan untuk melakukan karantina nasional, merupakan keputusan yang tepat sasaran,” tegasnya.

Ia menuturkan, keputusan Italia ini kemudian diikuti oleh negara-negara lain di Eropa, satu pekan kemudian.
Italia juga berhasil menekan angka peningkatan kasus karena setelah situasi berangsur membaik, Italia melakukan pembukaan yang sangat selektif dan gradual dimulai pada sektor-sektor tertentu mempertimbangkan data dan kebutuhan di lapangan.

“Pembukaan secara gradual dan selektif ini, membuat Italia mampu kembali menjalani kehidupan kembali kepada masa “normal yang baru” dimana penerapan tata tertib tetap harus dilakukan hingga setidaknya 1,5 tahun mendatan.

Menteri menegaskan, tata tertib yang ketat yang diterapkan pada masa darurat di bulan Marey lalu, antara lain termasuk mengatur jenis masker yang digunakan, mengetatkan prosedur kunjungan di rumah sakit, rumah jompo dan memperketat sistem pemantauan kesehatan dan penambahan tenaga medis di seluruh negeri.

Dengan segala daya upaya dan antisipasi yang dilakukan Italia, maka kini Italia mulai membuka beberapa aktivitas seperti layaknya kehidupan normal.

“Saat ini Italia telah kembali melakukan pemilu yang merupakan sebuah tantangan besar dan juga pembukaan kembali sekolah-sekolah dengan tetap menjaga keselamatan siswa, guru dan semua yang terlibat di dalamnya,” ujarnya.

Ia mengakui ditemukan kasus-kasus baru berkaitan dengan Covid-19 namun angka dan laju pertambahannya jauh lebih sedikit jika dibandingkan pada masa darurat di bulan Maret
Ia menambahkan, pemerintah juga telah merasakan dukungan warga dalam menjalankan kebijakan mereka.

“Sikap warga Italia sendiri yang menerapkan tata tertib dengan serius dalam seluruh segi kehirupan mereka, antara lain memakai masker dan menjaga higientitas, sehingga di saat liburan musim panas, ketika mulai ada kerumunan, sempat ada penambahan angka infeksi namun kembali bisa terkendali,” ujarnya.

Ia menambahkan, pola berpikir dan sikap warga yang sangat mendukung kepada pemutusan rantai virus, adalah waspada dan mawas bahwa di sekitar kita ada orang yang terinfeksi namun tanpa gejala dan bisa jadi, dia sendiri merupakan orang yang ternfeksi tanpa gejala, oleh karena itu, semua orang menerapkan sikap saling menjaga, dengan menerapkan tata tertib dan mematuhi protokol.

Wakil menteri mengatakan, awalnya seluruh komunitas internasional bahkan lembaga WHO sendiri sempat menyepelekan fungsi masker, namun pada akhirnya, masker memberikan peran penting dalam upaya memutuskan rantai virus SARS CoV2.

Investasi
Bercermin pada situasi darurat yang sempat dialami oleh Italia dan mengantisipasi situasi buruk di masa mendatang, maka Italia memutuskan untuk menambah kapasitas ICU dari 5000 tempat tidur menjadi 10.000 dan meningkatkan kapasitas bangsal rawat inap infeksi sebanyak 6 hingga 8 kali lipat, juga menambah 20.000 tenaga medis.

Italia telah mengalokasikan dana sebesar 2 Miliar Euro untuk SDM pada masa darurat, 5 Miliar Euro untuk penanganan Covid-19 di bulan Oktober dan November ini serta 20-25 Miliar Euro untuk dana riset dan pengembangan teknologi dan meningkatkan gaji bagi dokter, suster dan staf di sektor kesehatan agar standarnya disamakan dengan sesama negara anggota Uni Eropa untuk jangka waktu 3 hingga 6 tahun mendatang serta investasi 400 Miliar Euro untuk vaksin.

Selain itu, Italia juga perlu kembali memperkuat pelayanan pada penyakit non Covid-19 yang sempat terbengkalai karena semua petugas terkonsentrasi pada penanganan Covid-19 dengan tetap menerapkan seluruh kewaspadaan dan mengantisipasi kembali meledaknya kasus Covid-19.

Hadapi Musim Dingin
Menghadapi musim dingin, wakil menteri menyerukan agar warga tidak khawatir namun tetap waspada dengan menerapkan tata tertib covid-19 termasuk penggunaan masker.

“Di musim dingin, virus-virus lain juga akan kembali aktif dan menyerang, oleh karena itu penggunaan masker juga bisa dimanfaastan untuk mengantisipasi menjangkitnya penyakit-penyakit infeksi musiman, seperti flu reguler atau flu seasonal, selain itu warga akan diminta untuk waspada apabila terlihat simptom meskipun tampak konyol dan sederhana, agar bisa langsung dilacak dan dikenali apakah covid-19 atau bukan,” tuturnya.

Ia juga memprediksi bahwa di masa datang, Italia jauh dari kemungkinan untuk kembali melakukan karantina nasional namun Ia mengatakan penetapan dan pelaksanaan tata tertib Covid-19 akan terus diterapkan hingga 6 bulan, 1 tahun bahkan 1,5 tahun yang akan datang, atau setidaknya hingga vaksin hadir.

“Kita tidak tahu kapan vaksin akan datang, mungkin tahun depan, tapi mendistribusikannya pun tidak mudah, oleh karena itu, penerapan tata tertib hidup baru akan terus dilaksanakan mungkin hingga 1.5 tahun ke depan,” ujarnya.

Ia menyerukan agar negara-negara Eropa berpadu dalam memberikan bantuan pada sesama tetangga yang saat ini mengalami kenaikan kasus infeksi hingga 10.000 per hari.
“Angka itu pernah terjadi di Italia, sekarang angka itu terjadi di Spanyol dan Perancis, tapi siapa tahu di masa depan ada yang mengalami juga, kita harus saling membantu saat negara lain mengalami masa sulit seperti itu,” tandasnya.

Penulis: Rieska Wulandari – Jurnalis terakreditasi – Milan, Italia.
Editor: Syahrul Gunawan

By Redaksi

Minds are like parachutes; they work best when open. Lord Thomas Dewar

Tinggalkan Balasan

X