RI3SKA.COM – Pariwisata Italia setelah badai Covid-19 tampaknya membaik, hampir menyamai situasi pra-Covid pada 2019.

Patrizio Cangini, Direktur Tony Hotels Snc, Rimini, Italia, yang ditemui di ruang kerjanya mengatakan, situasi post covid, memperlihatkan respon yang positif.

“Situasi pasca covid bisa saya katakan sangat positif, pariwisata mampu bangkit kembali dengan baik, para tamu sangat merasa butuh liburan, jadi berjalan dengan sangat baik. Ini juga merupakan iklim yang memecahkan rekor di mana cuacanya sangat panas dan laut adalah tempat yang tepat untuk menghindari kekeringan, jadi saya menyambut udara panas,” ujarnya.

Ia juga mengatakan hotelnya 100 persen penuh, meski tidak ada tamu dari Rusia, seperti tahun-tahun sebelumnya. “Saya bersyukur, hotel saya penuh di booking tamu, tapi seandainya tidak perang, tentu situasi bisnis lebih baik,” ujarnya.

Otoritas Italia memperkirakan bahwa Pada musim panas 2022, lebih dari 28 juta orang Italia diperkirakan akan berlibur dan melakukan 62,8 juta perjalanan wisata, termasuk perjalanan ke luar negeri di mana setiap turis Italia akan menghabiskan hampir 300 euro untuk kunjungan akhir pekan, 540 euro untuk liburan 3 hingga 6 hari, dan 1.250 euro untuk liburan selama tujuh hari atau lebih.



Catatan statisca.com menyebutkan, pada Maret 2022, neraca pariwisata Italia mencapai 618 juta euro, angka ini naik signifikan dibandingkan dua tahun pertama pandemi virus corona (COVID-19) dan hampir menyamai neraca pariwisata yang dilaporkan pada Maret 2019.

Seorang turis mengaku sengaja datang ke pantai di kawasan Adriatika, karena kawasan ini dikenal sangat memahami kebutuhan kaum muda.

“Kami berada di Rimini karena kami semua berlibur bersama, kami adalah sekelompok pria berusia 16-18 tahun, kami tinggal selama 5 malam-6 hari dan sengaja datang untuk bersenang-senang karena tahu bahwa Riviera (pantai Adriatik) adalah tempat yang tepat untuk bersenang-senang dan berpesta bagi kaum muda,” ujarnya.

Sementar bagi para pengelola pantai yang menyewakan fasilitas kursi dan payung pantai, tahun ini dianggap tidak sebaik tahun sebelumnya. Massimo, Pengelola Pantai, Rimini mengatakan ia banyak berharap tamu akan datang dibulan Juli dan Agustus, nyatanya tidak demikian.

“Kami banyak bekerja di bulan Juni, tetapi sedikit di bulan Juli dan Agustus, mungkin karena perang, Rusia tidak ada di sini, orang asing Prancis dan Inggris juga tidak kelihatan, kami pikir kami banyak bekerja di bulan Juli Agustus, kenyataannya tidak seperti itu,” ujarnya.

Pecinta Wine Dari Amerika, Canada dan Eropa, Menyelamatkan Turisme Italia.

Italia juga mengalami musim panas yang ekstrim dan musim kemarau yang panjang, dimana sejak musim dingin tahun 2021, curah hujan menjadi sangat sedikit, membuat beberapa sungai utama Italia kehilangan sumber air dan permukaan air tampak surut, meninggalkan jejak air di tepi sungai.

Syukurlah, musim kemarau dan panas terik ini tidak berdampak buruk pada kualitas buah anggur yang banyak ditanam di wilayah Tuscany, salah satunya di Montepulciano.

Pemilik kebun dan pengolahan minuman Anggur, Andrea Contucci, dari Montepulciano, Italia mengatakan, tahun 2022 merupakan tahun pemulihan yang sangat baik.

“Apa yang dapat saya katakan tentang 2022, tahun 2022 adalah benar-benar tahun dimulainya kembali. Montepulciano adalah kota yang indah dengan sektor pariwisata yang sdang berkembang. Dalam dua tahun terakhir, telah sempat menderita karena pariwisata internasional jelas diblokir. Kami mengalami dua tahun kondisi pariwisata yang terhambat secara internasional, untungnya dulu masih ada turis lokal, tetapi mulai tahun ini, sejak Maret, tampak pariwisata di Tuscany, kembali berdenyut, terutama kawasan Montepulciano yang didominasi kehadiran turis Amerika, seperti pengalaman kami tahun-tahun sebelum covid dan oleh karena itu ada banyak pecinta anggur Amerika dan Kanada serta dari seluruh Eropa, kembali datang saya dapat mengatakan tahun ini, kami sangat puas,” ujarnya.

Ia mengakui perang tidak membantu bisnisnya, karena beberapa partikel yang berkaitan dengan pengiriman barang terutama karena naiknya bahan bakar, sanggat mengganggu.

Sementara itu, berkaitan dengan kurangnya curah hujan dan cuaca panas yang berkepanjangan, menurutnya, dari sudut pandang produktif, kebun-kebun anggur yang mereka miliki, tampak baik-baik saja.

“Tanaman anggur kami, telah sedikit menderita akibat periode yang sangat panas dan minimnya hujan, yang tahun ini dimulai pada akhir Mei, tetapi untungnya ada hujan musim semi yang sempat tercurah, oleh karena itu, tanaman San Giovesse kami, sampai hari ini, dalam kondisi baik, baik dan dalam dua minggu terakhir ada hujan yang cukup sehingga tanaman kami, sempat bernafas kembali dan ini memberi kami prospek bagus, yaitu panen berkualitas pada tahun 2022.


Rieska dari Rimini dan Montepulciano, Italia.

By Redaksi

Minds are like parachutes; they work best when open. Lord Thomas Dewar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

X