RI3SKA.COM – Hampir 25 tahun bermukim di Italia, hanya tiga kali saya absen tidak merayakan Natal di Italia, pertama tahun ketika ibu saya meninggal beberapa tahun lalu dan saat saya tertahan di tanah air karena terjadi pandemi.

Saya sendiri berlatar belakang keluarga muslim, tetapi waktu kecil saya dulu sangat akrab dengan gereja, karena kebetulan rumah kami di Sleman Yogya persis di depan gereja katolik. Masa kecil saya diisi dengan bermain di Pastoran, di bawah pohon jambu yang rindang, bersama teman-teman, kami bermain karet gelang, petak umpet dan kadang lewat Romo Pujo dari gereja yang tak lupa menyapa kami anak anak dengan ramahnya, saat ia melintas menuju ke Pastoran. Saya ingat, senyumnya teduh dan damai. Ketika SMA pun saya bersekolah di sekolah yayasan Katolik.

Singkat cerita ketika diboyong suami ke Italia, setiap Natal tiba saya pun menyambut dengan suka cita. Memasuki bulan Desember menjelang Natal, cuaca sudah dingin biasanya mendekati nol derajat celcius, bahkan tak jarang turun hujan salju Biarpun hawa dingin menusuk tulang, jalan- jalan di pusat kota Bergamo tetap saya sambut semangat, dingin tak menjadi halangan. Setiap sudut kota menyambut warga yang menikmati hari menjelang Natal, meriah dengan dekorasi pohon Natal, lampu warna warni yang gemerlapan dan jalan sangat indah, berpadu dengan suara iringan syahdu lagu yang terdengar dari gereja, kadang suara lonceng gereja ikut dalam harmoni keriuhan natal, berdentang merdu di telinga.

Bahkan ketika saya berjalan di depan pusat pertokoan, suasana hangat menyapa dengan gelaran karpet merah di depan gedung hingga pintu masuk. Lagu White Chritmas mengalun lembut, membuat hati haru dan kadang sampai meneteskan air mata. Natal di Italia selalu membuat hati saya campur aduk tidak karuan, antara sedih karena saya merasa jauh dari keluarga, tapi sekalgus bahagia bisa menikmati Natal di Italia.

Di rumah kesibukan jelang Natal sudah saya lakukan sejak akhir November antara lain mengganti pernak-pernik di rumah dengan pernik-pernik khas Natal.

Taplak meja di ruang tamu, di ruang makan bahkan di dapur dan di kamar mandi pun saya ganti. Semua bernuansa hijau, merah atau keemasan dengan hiasan pohon cemara, lonceng atau gambar binatang kijang, saya tidak tahu kenapa harus kijang bukan bukan kupu-kupu atau kepik misalnya, mungkin karena natal jatuh di musim dingin dan serangga memilih untuk migrasi ke tempat hangat atau tidur di dalam sarang mereka yang gelap.

Untuk mempercantik rumah, tak lupa saya membeli buket bunga segar untuk menghias ruang tamu. Kadang saya beruntung mendapatkan bingkisan kue nastar dan kastengel dari teman yg merayakan Natal. Saya selalu bersyukur dikelilingi teman-teman yang baik dan tulus, lepas dari agama yang mereka anut.

Perayaan Natal di Bergamo dirangkai sejak malam natal. Biasanya keluarga mendiang suami mulai berkumpul pada 24 Desember malam lalu kami menyantap tortellini in brodo, semacam sup kaldu dengan pasta berisi daging olahan, keju parmesan, dan serbuk buah pala, bumbu khas yang mahal harganya karena dulu hanya tumbuh di Maluku ! Jadi sejak zaman dulu, bumbu Nusantara telah mewarnai malam natal di Italia dalam sajian yang khas.

Setelah menyantap Tortellini, kami mengikuti misa malam pukul 23.00 hingga tengah malam, pada kesempatan ini, pastor memberikan berkat kepada miniatur bayi Yesus yang dibawa oleh jemaat untuk ditempatkan di palungan yang dibangun di rumah masing-masing.

Pagi di hari Natal, yaitu setiap 25 Desember kami bangun agak siang dan sarapan kira-kira pukul 9 pagi, diikuti dengan membuka kado dan pukul 14 baru dimulai dengan makan siang dengan hidangan Natal yang sudah disiapkan oleh Lina, kakak ipar saya.

Tiap tahun Lina mengganti menu sesuai permintaan saya, yang paling saya sukai adalah masakan khas Spanyol, paella sajian hampir mirip nasi goreng kalau di Indonesia tapi dicampur dengan udang, cumi-cumi, dan tentu saja, ayam panggan). Supaya lengkap dari rumah saya sudah bekal sambal.

Rangkaian menu natal tidak selesai sampai disitu, setelah sajian utama ada sajian kedua yang umumnya bersumber protein, kami memilih lobster atau ikan panggang. Saya selalu melewatkan menu pembuka dan pasta kalau makan besar seperti Natal, kalau tidak perut ini tidak akan mampu memproses semuanya.

Bukan Natal namanya kalau tidak ada kehadiran si Panettone, semacam kue bolu besar dengan isian sukade, kismis atau buah anggur kering. Tetapi jujur saya kurang menikmati kue Panettone. Saya lebih suka kue Donizzetti yaitu kue khas kota Bergamo, sangat lembut di mulut dan tidak terlalu berat karena tidak memakai krim. Kue yang disebut torta Donizettiini juga termasuk langka, hanya diproduksi oleh beberapa rumah produksi roti yang bersejarah. Kapan-kapan Anda ke Bergamo, akan saya ajak untuk mencicipi ya.

Tapi momen yang paling berkesan dan tak terlupakan adalah setelah makan siang. Biasanya kami minum kopi, santai-santai, saling becerita ngalor-ngidul tentang keluarga, juga saling up date mengenai kehidupan masing-masing anggota keluarga, saat Natal inilah kita akan tahu kejadian paling mutakhir dalam lingkup keluarga.

Biasanya juga ada semacam pengumuman, siapa yang akan menikah, siapa yang bercerai, siapa yang baru melahirkan atau punya anak, siapa yang dapat warisan, suapa yang baru saja meninggal, yang lulus ujian, yang dapat kerja, yang pindah kota, yang liburan, liburan kemana dan bagaimana liburannya. Macam-macam topiknya, sampai saya kadang terkantuk-kantuk kalau terantuk pada argumen yang kebetulan saya tidak tertarik, nah biasanya momen ini juga bikin saya kangen keluarga di tanah air.

Libur Natal juga berlangsung pada tanggal 26 Desember yang disebut hari Santo Stefano, di hari ini, kami biasanya sarapan lalu jalan.jalan keluar meliahat miniatur palungan di desa-desa terdekat, dan biasanya cuaca sudah tambah dingin, udara seolah membeku, meski salju belum tentu tampak.

Natal tanggal 26 juga adalah hari santai, setelah berkeliling, waktu saya manfaatkan untuk selonjoran di sofa pakai selimut tebal, kaos kaki, dengan setumpuk buku-buku yang sudah saya pinjam dari perpustakaan sebelum libur Natal, secangkir minuman jahe hangat dengan gula jawa, sambil nonton konsernya Andrea Boccelli yang kami rekam sebelumnya. Inilah Natalku di Italia.

Di Italia juga ada istilah “Natal con tuoi, Pasqua con chi vuoi” artinya Natal harus bersama keluarga dan Paskah bebas boleh pilih dengan siapa saja.
Selamat menikmati hari Natal bersama keluarga dalam kehangatan dan sukacita ya. Salam dari Bergamo.

Penulis: Tatik Mulyani
Editor: Rieska Wulandari

By Redaksi

Minds are like parachutes; they work best when open. Lord Thomas Dewar

Tinggalkan Balasan

X
%d blogger menyukai ini: