Signature: jSJt/JIsx0WVNQ6n9jRaOha4EK8ZPN3FpPmkduYVDohu1jsRd7ewLy8uKjoW3QD+2Wd+kvHKX2veUMoUeLB7oj9O5bvC6HCn6bqgi7PfBds0s1WiDm/mVTY1Y7vxKLB4op934OzqpjW+z3ZX7PPwaz8VTpLkQSoEbUN5GWgsNkjrs7k+e4dXsNHOrwKMtFSl0T89726GBA9gbLrzNJt5/7ZuLq42xdUW5LqprbHBISXxpWlOdD4VFtuwI82xa0fFeHWN/dJlmD5rEybGhHVp91zqTfVAynzndTe0Gmk5iYo=

Netizen Indonesia ngotot bahwa karya seni itu harus indah, sementara di Italia serang seniman bernama Salvatore Garau, menampilkan karyanya yang tak kasat ma,ta dengan judul : Io Sono (I am) atau bahasa Indonesianya : Aku.

Tak tanggung -tanggung, karyanya ini ditawarkan dengan harga € 6000 – €9000 euro bukannya ditertawakan malah jadi rebutan antar penawar, sekarang harganya sudah menduduki €15.000 atau sekitar 18.000USD.

Menurutnya konsep tak kasat mata ini, adalah menampilkan void, tak ada tapi ada, karena meski sesuatu tak terlihat, ada energi di dalamnya.

Konsep “suwung” bagi masyarakat purba Kita sebetulnya bukan sesuatu yang baru, konsep ini sudah ada sejak orang Nusantara belum mengenal agama.

Suwung adalah konsep spiritualisme orang-orang dari cincin gunung api, yang memahami bahwa semesta adalah Tuhan, tak terlihat tapi nyata ada. Pemahaman ini muncul dari karakter orang – orang purba yang juga observer, memahami fenomena dan rahasia gerakan alam, dari ketiadaan bisa mendatangkan kekuatan: menghidupkan atau mematikan.

Orang Jawa melalui dalang, selalu mengawali kisah ceritànya dengan gunungan, mengapa? Karena itulah esensi kekuatan, sumber kesuburan sekaligus kematian, sumber kebahagiaan sekaligus nestapa, mereka yang survive dari kawah candradimuka amukan sang gunung, jadi pengamat sekaligus saksi: gunung adalah sang berkah, juga sang sapu jagat.

Menangkap esensi yang ada namun tiada ini, kemudian diterjemahkan dalam laku spiritual, menghayati bahwa yang tiada Itu adalah semesta dan semesta adalah energi dan energi adalah Tuhan. Sang Hyang. Tak heran tanah Sunda disebut Parahyangan. Tanah sang Hyang.

Karena Tuhan adalah suwung maka tak heran kalau Gunung Padang pun void, suwung, tak ada isinya.

Apakah karena orang Sunda miskin? Salah, justru karena orang Sunda kaya! Gunung-gunung mereka adalah dapur semesta, batu mulia intan permata (Galuh), mineral, air panas, uap, logam dari yang umum sampai yang paling langka, ada di tanah Sunda, lalu kalau mereka kaya, kenapa kok “kuil” gunung Padang kok tampaknya kosong?

Karena orang Sunda tidak materialisme. Mereka paham percuma menumpuk materi bila alam mengamuk, gunung berguncang, maka banjir lahar, gempa bahkan tsunami akan menghantam mereka tanpa ampun.

Berbekal kearifan ini, orang Sunda memilih untuk hidup seperlunya, setiap rumah mereka ada ruang kecil kosong bernama padaringan yang di bagian sudutnya menjadi tempat beras dan tentu saja sesajen untuk dipersembahkan pada sang suwung, sang energi, sang Hyang. Mereka juga punya lumbung, tempat penyimpanan hasil panen supaya saat kemarau, tidak sampai paceklik.

Orang Sunda dengan spiritualismenya memilih untuk harmoni dengan alam, bercengkerama dengan energi, dalam keseharian, mereka mengaturnya dalam dua prinsip: menjadi humble dalam pertapaan tapi sekaligus menjadi sakti dan munculah seni beladiri silat, yang mengasah jiwa juang para ksatria,

Konsep Suwung sendiri pernah dibawa oleh tim delegasi Indonesia dalam ajang Art Biennale di Venezia tahun 2019 lalu dengan judul “Sunyata”. Saya kesana dan menuliskan laporannya untuk Pikiran Rakyat, Bandung. Sekali lagi, itu surat kabar yang lahir di tanah kelahiran prinsip suwung.

Apakah seniman Italia ini terpesona pada karya orang Indonesia yang memang brilian sejak zaman purba?

Entahlah, tapi alasannya membuat karya kasat mata Io Sono adalah: untuk menampilkan energi, persis prinsip spiritualisme orang-orang Sunda.

Bedanya, saat mendengar kata Suwung orang Sunda langsung bergidig terpuruk dalam prinsip klenik.

Sementara orang Italia menganggap ini sebagai konsep pembebasan, bisa dijual di arena seni dan ramai dalam tawar menawar khas orang bule yang senang mengklaim ide!

By Redaksi

Minds are like parachutes; they work best when open. Lord Thomas Dewar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X