RI3SKA.COM – Fotografer Italia ini sangat mencintai Indonesia dan baginya Indonesia memiliki kekayaan visual yang luar biasa. Ia juga menangkap kontradiksi dalam kehidupan metropolitan Jakarta yang diambilnya di sekitar Petamburan pada tahun 2014. Demikian foto – fotonya.

Pria kelahiran Januari 1974, ini adalah sarjana jurusan Psikologi Estetik di Fakutlas Sastra dan Filsafat, Universitas La Sapienza Roma pada tahun 2001. Ia memulai karirnya sebagai fotografer pada tahun 2010 dengan memotret komunitas di migran Roma.

Dia juga pernah bekerja dengan beberapa lembaga serta fotografer resmi, antara lain, Pusat Kebudayaan Masjid Agung Roma dan beberapa kedutaan besar; seperti Kedutaan Besar Indonesia, Malaysia dan

Thailand dan baru-baru ini bekerja untuk kedutaan besar Filipina, Bangladesh dan Thailand. Dia juga fotografer resmi bagi Soong Ching Ling Foundation, sebuah yayasan Cina terbesar di Italia.

Ia juga pernah menjadi fotografer resmi delegasi Indonesia pada Pameran Buku Anak-anak Bologna dan Pameran Buku Frankfurt 2016. Beberapa fotonya telah digunakan untuk mengilustrasikan buku “The Veil in Islam” (Carocci, 2012) oleh Renata Pepicelli, serta pada sampul buku Salam Islam (GDS Publishing, 2013) , karya Pasquale Nuccio Franco, serta dalam “Roma – Panduan untuk menemukan kembali yang sakral” oleh Katiuscia.

Buku lainnya adalah Carnà dan Angelo De Florio (Edisi EDUP, 2015) dan “Kotha. Wanita Bangladesh di Changing Rome ”oleh Katiuscia Carnà dan Sara Rossetti (Ediesse, 2018). Selain itu, karya fotonya juga diterbitkan dalam dua buku di Indonesia: “Kampungku Indonesia” (Mizan, 2010) dan “Sweet Light” (Mizan, 2018), yang dicetak ulang dalam bahasa Inggris tahun ini di Bangladesh (Agamee Prakshani, 2020), dan buku foto “Mengatakan dari hati #USM style” (Penerbit USM, 2019) di Malaysia.

Pada bulan November 2020 ini juga terbit buku terbaru “My Malaysian Tales” dirilis di platform pencetakan online Lulu.com Sejak 2013 ia mengajar mata kuliah “Fotografi sebagai mediasi budaya” untuk Frontiere Berita – portal informasi, dan kursus yang telah menjalani edisi ke-enam.

Pada Agustus 2014, di Indonesia, ia menjadi pembicara dalam seminar tentang Potret dan Foto Jurnalisme di Yogyakarta. Pada 2015 dan 2016, ia kembali memberikan ceramah tentang “Fotografi sebagai mediasi budaya “di Fakultas Filsafat, Universitas La Sapienza Roma, tema yang sama kembali dilaksanakan di bulan Juni 2017.

Selama tahun 2016 ia juga banyak memberikan seminar dan presentasi menganai Indonesia dan Malaysia. Ia juga menyelenggarakan seminar lain di Italia, seperti di Napoli untuk komunitas Filipina dan di kota Milan.

Dia mengajar fotografi selama dua tahun di Universiti Sains Malaysia, di Penang, pada tahun 2018 hingga 2019.

Pada tahun 2014 ia berpartisipasi sebagai pembicara di panel TELL ISLAM di Festival Internasional Jurnalisme Perugia. Selama bertahun-tahun dia menulis reportase, sebagai kontributor tetap, untuk Frontiere News dan PiùCulture.

Stefano juga bekerja sama dengan dua portal lain dari Indonesia, yaitu BALTYRA dan satu lagi untuk komunitas Filipina di Italia – Ako Ay Pilipino.

Pada Januari 2015 ia dianugerahi gelar Knight of the Order of Rizal oleh pemerintah Filipina atas dukungan dan penyebaran budaya Filipina.

Ia juga memiliki kepandaian berbicara dalam berbagai bahasa antara lain Italia, Inggris, Tagalog, Indonesia dan Malaysia.

Penulis: Rieska Wulandari – Jurnalis, Ketua Ikatan Sarjana Ilmu Komunikasi Indonesia (ISKI) Cabang Eropa.

Editor: Syahrul Gunawan

Tinggalkan Balasan

X