RI3SKA.COM – Mengenang lima ratus tahun ziarah Larantuka pada tahun 2010 yang lalu serta rasa simpati pada gugus pulau di NTT yang terkena angin topan siklon Seroja dan memporak-porandakan serangkaian pulau cantik tersebut, untuk itu melalui media ri3ska.com saya ingin berbagi cerita pengalaman tentang indahnya ritual prosesi Paskah di Larantuka, NTT.
Semoga liputan ini, memberi semangat dan harapan kembali kepada warga di NTT yang terundung kedukaan dan menggugah pembaca untuk dapat mengulurkan bantuan kepada masyarakat NTT.

Pada tahun 2010, saya memilih untuk mengunjungi Kota Larantuka yang menurut saya sangat menarik untuk dijelajahi. Selama pekan suci perayaan Paskah, Semana Santa di Larantuka, hampir setiap harinya diadakan beragam kegiatan, dimulai dari membersihkan lingkungan, gereja, kuburan dan tempat tinggal, ada saja kegiatan yang dilakukan masyarakat setempat, demikian pula dengan para peziarah yang lalu lalang dari satu kapel ke kapel lainya untuk berdoa.

Foto: Feri Latief (RI3SKA.COM)

Settimana Santa atau pekan suci bermula pada tahun 1510, pada waktu ditemukannya sebuah patung wanita dengan disertai sebaris tulisan yang terdiri dari tiga kata di pantai Larantuka dan masyarakat setempat yang masih menganut kepercayaan kepada patung berhala, saat itulah patung itu diarak beramai-ramai oleh masyarakat dan menamakannya “Tuan Ma” yang artinya tuan dan mama.

Foto: Feri Latief (RI3SKA.COM)

Selain itu mereka menyebutnya pula sebagai Rere Wulan Tanah Ekan yang artinya Dewa Langit dan Dewi Bumi dan meletakkan patung tersebut di sebuah korke, tempat ibadah mereka dan sejak itu setiap tahunnya masyarakat melakukan upacara persembahan hasil panen dan tangkapan kepada Tuan Ma.

Sampai pada suatu hari tiba di Larantuka seorang Pastur Katolik dan mengenali tulisan tiga kata itu sebagai Reinha Rosario Maria atau Mater Dolorosa yang dalam tradisi Katolik berarti bunda kedukaan, identik dengan bunda Maria, ibunda Yesus. Maka sejak itu perlahan-lahan terjadilah perubahan keyakinan dari agama lama ke agama baru tanpa meninggalkan kebiasaan lama yaitu penghormatan kepada Tuan Ma atau Bunda Maria.

Foto: Feri Latief (RI3SKA.COM)

Salah satu tradisi lokal yang diakomodasi gereja Katolik adalah mengusir roh-roh atau kekuatan jahat melalui gendang tabuh yang membisingkan. Tradisi ini dilakukan pada malam hari di Kapela Tuan Ma, tempat disimpannya Patung yang ditemukan 500 tahun lalu, sehari setelah dilakukan upacara Jalan Salib yaitu malam Kamis Putih.

Foto: Feri Latief (RI3SKA.COM)

Sebelum dilaksanakan acara tradisi lokal tersebut, anak- anak dan para remaja siap berkumpul di halaman depan kapela dengan membawa masing-masing asesoris dan tabuh genderang masing-masing, ada yang membawa selembar seng, drum minyak bekas, kaleng dan lain sebagianya, sementara para peziarah yang tidak ikut missa di dalam kapel menonton di pinggir jalan.

Setelah missa malam selesai mulailah keriuhan dimulai, bunyinya berisik sekali. Anak-anak dan para remaja berkejaran sambil menabuh alat-alat bunyian mereka masing-masing, yang membuat suasana riuh rendah suaranya, ditambah lagi dengan ditimpali teriakan-teriakan para penonton. Acaranya Seru sekali!

Foto: Feri Latief (RI3SKA.COM)

Ribuan orang berduyun-duyun di jalanan, bergerak dari titik satu ke titik lainnya, Kapel-kapel dipenuhi orang yang berdoa, begitu juga di jalan-jalan dipenuhi peziarah yang tidak bisa masuk ke dalam kapela yang kecil itu.

Ada beberapa titik perhentian peziarah yang utama yaitu pada kapel yang memiliki benda yang dianggap suci, seperti Kapela Tuan Ma tempat disimpannya patung Bunda Maria, Kapela Tuan Menino, tempat di simpannya patung Yesus saat masih anak-anak dan Kapela Wure di Pulau Adonara tempat disimpatnya patung Tuan Senhor atau Yesus dewasa.

Foto: Feri Latief (RI3SKA.COM)

Pada hari Rabu Abu, sebelum ritual Jalan Salib dilaksanakan, lapangan bola Larantuka dipenuhi oleh ribuan penonton untuk menyaksikan pagelaran sebuah drama yang dimulai dari pengadilan sampai divonis dan disalibnya Yesus sampai akhir hayatnya.

Para pemerannya pun tidak dipilih secara sembarangan, setiap suku dan keluarga mendapat peran masing-masing dalam setiap acara yang digelar selama sepekan itu. Saya benar-benar salut dengan casting pemeran Jalan Salib yang memerankan Yesus sangat mirip sekali.

Foto: Feri Latief (RI3SKA.COM)

Terlihat pula air mata penonton yang tumpah melihat adegan bagaimana penderitaan Yesus, yang harus memikul salibnya sendiri sambil disiksa. Semakin tersiksa semakin banjirlah air mata para penonton, bahkan warga muslim yang menjadi panitia Semana Santa turut menangis, salah satunya tampak dengan malu-malu mengusap air matanya di hadapan saya.

Di Larantuka, toleransi terjalin dengan baik, walau pernah ada keributan yang berbau SARA, namun bisa diselesaikan dengan cepat dan tidak berkepanjangan. Hal ini bukanlah sesuatu yang mengherankan, karena kehidupan toleransi di sini sangat dijunjung tinggi. Biasanya setiap hari Natal atau Paskah, umat Islam ikut berpartisipasi sebagai panitia, begitu pula pada saat Lebaran atau Idul Adha, warga beragama lain bergantian ikut berjaga.

Nah, kebiasan waspada dan saling menjaga ini sampai membuat saya dan fotografer @beawiharta sampai sempat diamankan ketika meliput missa Paskah di Katedral pulau Adonara, karena rentang waktu itu, di Indonesia sedang hot-hotnya terjadi pemboman yang dilakukan oleh teroris, sehingga kami yang pada saat itu membawa tas peralatan dan masuk ke gereja di sangka membawa bom dan segera diamankan warga! Lucu juga sih.

Kami di tanya-tanya, untungnya warga mengerti tujuan kami. “Penahanan” kami berakhir dalam acara rembug tetua adat yang biasa digelar sehabis misa bersama para Romo dan Suster. Dan “pengamanan” kami ditutup dengan sajian minuman Moke, Sopi dan Kopi!

Puncak acara Jalan Salib yaitu pada saat matahari terbenam, dimana Yesus disalib bersama dengan dua orang lainnya dan para penontonpun pun bubar menuju rumahnya masing-masing. Terus terang saya sendiri tidak tahu apakah pemeran nya disalib sampai pagi?

Jumat Agung dirayakan dalam ritual yang paling meriah, karena adanya prosesi arak-arakan lewat laut atau Perarakan Laut! Sejak pagi hari peziarah mulai berbondong-bondong memenuhi jalanan di kota Larantuka dan sebagian peziarah menuju Kapela Tuan Menino tempat dimulainya perarakan laut.

Patung Tuan Menino atau Yesus Kecil akan dinaikan perahu dan diarak oleh ratusan perahu besar maupun perahu kecil, bermesin atau perahu dayung. Kapela Tuan Menino terletak di bagian agak ke timur Larantuka dengan demikian perahu yang membawa patung akan membelah Selat Larantuka yang arusnya deras ke arah barat.

Perahu-perahu kecil untuk berburu paus dari kampung Lamalera di ujung selatan pulau Lembata sudah disiapkan untuk mengawal perahu yang membawa patung Tuan Menino, para pendatungnya adalah para remaja. Demikian pula perahu yang membawa patung pun tidak menggunakan mesin tapi didayung, yang para pendayungnya adalah tetua-tetua suku yang ditunjuk.

Para peziarah tumpah ruah di tepi pantai untuk melihat prosesi. Mereka berdiri sepanjang pantai, ada yang masuk ke laut berbasah-basah dan sebagian peziarah menyalakan lilin di sepanjang pantai.
Saya mengikuti prosesi itu tidak dari atas perahu tapi dari darat. Yakin deh jika memotret dari perahu posisi pengambilan foto jadi terbatas, karena perahu utama yang diarak didayung dengan kecepatan masih bisa diimbangi dengan kecepatan jalan saya.

Pada saat prosesi puncak ini handphone tidak bisa digunakan, karena banyakmya ribuan orang yang secara serentak bertelepon atau berkirim pesan dan gambar yang membuat jalur telepon super sibuk dan tidak berfungsi!
Bahkan setelah arak-arakan selesai teman-teman wartawanpun tidak bisa mengirim berita dan foto. Untungnya ada Bea Wiharta yang membawa telepon satelit, dengan demikian beberapa teman sempat menggunakan saluran telepon satelitnya Reuters untuk mengirim berita dan foto.

Prosesi Perarakan Laut ini berakhir di depan Kapela Tuan Ma, selanjutnya Patung Tuan Ma pun dikeluarkan dan disatukan dengan anaknya Tuan Menina, lalu di arak melalui jalan darat menuju Katedral Larantuka.

Masih di Jumat Agung dan prosesi Iman Jumad, pada malam harinya diadakan Lamnetasi di Katedral Larantuka, selanjutnya pada pukul 20:00 diadakan Sesta Vera, yaitu acara arak-arakan mengelilingi kota Larantuka.

Ribuan peziarah berjalan keluar dari Katedral sambil membawa lilin dan mengucapkan salam dan doa kepada Bunda Maria, “Salam Maria penuh rahmat Tuhan bersertamu, terpujilah Engkau di antara wanita dan terpujilah buahMu Yesus,” terus dikumandangkan sambil diikuti ribuan peziarah.
Tapi sebelum acara Sesta Vera dilaksanakan, pada sore harinya warga melakukan ziarah ke kuburan keluarganya masing-masing. Komplek pemakaman itu dipenuhi lilin dan terlihat semakin indah bersanding dengan ribuan lilin lainnya pada saat matahati terbenam.

Pada Semana Santa 2010 ini peziarah yang datang sangat luar biasa jumlahnya. Arak-arakan mengalur keluar pelan-pelan dari gerbang Katedral untuk mengelilingi kota Larantuka. Rombongan prosesi ini berjalan dengan lambat dan secara hikmad melantunkan doa-doa dan berhenti di kedelapan titik perhentian Agung yang disebut Armida untuk berdoa.

Hingga lewat tengah malam prosesi ini belum selesai juga,padahal kami sudah kecapaian dan mengantuk, untuk itu kami memutuskan untuk kembali ke tempat penginapan, Saat kami meninggalkan prosesi, ribuan peziarah masih berada di jalanan kota Larantuka.

Besok harinya, kami mendapatkan kabar, saat arak-arakan yang paling depan kembali ke Katedral setelah mengelilingi kota, ekor arak-arakan masih belum bergerak meninggalkan Katedral. Panjangnya arak-arakan itu mungkin jadi rekor tersendiri pada 500 tahun Semana Santa.

Hal yang menakjubkan, tidak terdengar keriuhan yang membisingkan, semua berjalan dengan khidmat dan senyap. Suara umat yang melantunkan doa dengan lembut itu lebih syahdu dan menyentuh dibandingkan dengan menggunakan megafon.
Saya bisa merasakan diri saya merinding selama melakukan pemotretan acara tersebut, sampai-sampai fotografer garda depan berbahaya Reuters, Bea Wiharta pun mengatakan “Ini wonderful!” (TAMAT)

Penulis: Feri Latief
Editor: Rieska Wulandari, JG

By Redaksi

Minds are like parachutes; they work best when open. Lord Thomas Dewar

Tinggalkan Balasan

X