Hidup dan Bekerja Selama Pandemi

RI3SKA.COM – 10 April 2020 kota Jakarta memulai Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) selama dua pekan atau 14 hari. Lalu diperpanjang dan diperpanjang lagi sampai bulan April 2021.

Kali ini istilah yang digunakan adalah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat skala mikro atau PPKM Mikro. Yang memberlakukan kelonggarkan, misalnya restoran dan pusat perbelanjaan diizinkan beroperasi sampai pukul 21:00 WIB. Perkantoran pun yang tadinya 50% karyawan bekerja dari rumah dan 50% karyawan bekerja di kantor, sekarang 75% bekerja di kantor dan 25% bekerja dari rumah.

Foto-foto ini dibuat untuk penugasan dari Interlational Labour Organiztion (ILO) Jakarta saat PSBB pertama diterapkan pada bulan April 2020. Mencari tahu bagaimana masyarakat hidup dan bekerja selama pemberlakuan PSBB di tahap-tahap awalnya. (Feri Latief)

Karyawan di sebuah perusahaan harus melalui ruang disinfektan dahulu sebelum diperbolehkan memasuki ruang kerja. Cek suhu badan pun diberlakukan.
(Foto: Feri Latief/RI3SKA.COM)
Para pekerja yang ingin pulang ke rumah menumpuk di Stasiun Kereta Tanah Abang. Angkutan umum tetap beroperasi namun diberlakukan protokol kesehatan.
(Foto: Feri Latief/RI3SKA.COM)
Masyarakat yang ingin naik kendaraan bus Trans Jakarta wajib mensterilkan tangannya terlebih dahulu sebelum memasuki terminal.(Foto: Feri Latief/RI3SKA.COM)
Pedagang sayur di kawasan Pecinan Petak Sembilan Glodok mengikuti protokol kesehatan dengan mengenakan masker.
(Foto: Feri Latief/RI3SKA.COM)
Umat Buddha aliran Nichiren Shoshu melakukan upacara Okyobi yaitu upacara peringatan bagi arwah leluhur yang dilaksanakan setiap bulannya pada hari Kamis (01/07/20). Sembahyang di kuil tetap mengikuti protokol kesehatan yang sudah ditetapkan pemerintah pada masa new normal yaitu mulai dari mengenakan masker, mencuci tangan, cek suhu sebelum memasuki kuil serta menjaga jarak saat di dalam kuil.
(Foto: Feri Latief/RI3SKA.COM)
Kelompok seni tari Eko Dance Company selama pandemi tetap melakukan aktivitas. Mereka melakuan rekaman video untuk tutorial cara menari untuk para penari yang berlatih di rumah.
(Foto: Feri Latief/RI3SKA.COM)
Alat-alat berat di sebuah perusahaan swasta nasional disterilkan setelah digunakan. Ini untuk mencegah penularan Covid-19.
(Foto: Feri Latief/RI3SKA.COM)
Saat diberlakuan PSBB di tahap-tahap awal, jumlah karyawan yang bekerja di kantoran hanya 25% dari keseluruhan pegawai. Rapat virtual jadi cara untuk berkoordinasi.
(Foto: Feri Latief/RI3SKA.COM)
Kantor Palang Merah Indonesia di jalan Kramat Raya tetap melayani pengambilan darah, walau jumlah donornya berkurang karena pandemi.(Foto: Feri Latief/RI3SKA.COM)
Petugas yang bekerja di Vihara Dharma Bhakti di Pecinan Petak Sembilan, Glodok, Jakarta, menggunakan masker can pelindung wajah. Foto: Feri Latief/RI3SKA.COM)
Para pedagang di Blok A Pasar Tanah Abang tetap beraktivitas seperti biasa selama pandemi.
Foto: Feri Latief/RI3SKA.COM)
Pembatasan Sosial Berskala Besar membuat masyarakat enggan keluar rumah. Pusat-pusat perbelanjaan pun memberi potongan harga agar masyarakat mau mengunjunginya. Seperti di Pasar Baru, Jakarta ini.
(Foto: Feri Latief/RI3SKA.COM)
Ariani Soejoeti, staf dari NGO International selama pandemi bekerja dari rumah. Sambil bekerja dan suaminya menjalankan usaha menjual pakaian secara online.
(Foto: Feri Latief/RI3SKA.COM)
Tyas, ibu rumah tangga di bilangan Bekasi Jawa Barat, mengawasi anaknya yang mengikuti kegiatan ekstra kurikuler lewat internet. Selama pandemi sekolah-sekolah diliburkan dan murid mengikuti pelajaran melalui internet.
(Foto: Feri Latief/RI3SKA.COM)

By Redaksi

Minds are like parachutes; they work best when open. Lord Thomas Dewar

Tinggalkan Balasan

X