Wawancara eksklusif dengan Prof. Massimo Galli, Direktur Penyakit Infeksi, Rumah Sakit Luigi Sacco Milan, Italia.

RI3SKA.COM – Menghadapi situasi terkini dimana produsen vaksin tidak bisa memenuhi jumlah sesuai dengan perjanjian sehingga pengiriman vaksin menjadi terlambat dan menghambat pencapaian target vaksinasi, serta melihat data dari hasil riset yang dijalankan di Inggris dan Israel, maka pemberian satu dosis vaksin jenis mRNA bisa dipertimbangkan, demikian dikatakan Prof. Massimo Galli,  Direktur Infeksi Rumah Sakit Luigi Sacco, Milan yang khusus menangani pasien Covid-19 dalam pertemuan daring eksklusif dengan siswa kelas bahasa Italia untuk orang asing, antara lain dari Brazil, Peru, Bangladesh, Indonesia, Cina, Thailand, Ukraina dan Mesir, yang dikoordinasi oleh profesor Paola Riso dari Sekolah Bahasa Italia untuk Orang Asing  C.P.I.A 5, di Milan pada Kamis, 25 Februari 2021.

“Kondisi kita bukan semata-mata hanya ketidaktersediaan dana, tapi juga realitas kurangnya persediaan vaksin yang diproduksi saat ini. Melihat hasil riset dari Inggris dan Israel yang menggunakan vaksin berbasis teknologi mRNA dan mereka memberikan hasil yang menyatakan satu dosis vaksin sudah cukup, “ ujarnya.

Ia mengatakan, seperti halnya dalam kondisi darurat perang, dimana penduduk hanya bisa makan satu kali dan bukan tiga kali, maka demikian juga dengan vaksinasi.
“Prinsipnya, semakin banyak orang yang mendapat vaksin, itu semakin baik, yang tadinya harus dua dosis, bisa hanya satu dosis dan dosis kedua kita alokasikan untuk calon penerima yang lain,” ujarnya.

Ia menambahkan, untuk penerima vaksin kategori lansia diatas 90 tahun dan mereka yang memiliki masalah khusus imunitas, tetap harus mendapatkan dua dosis vaksin.
Ia juga mengatakan, “mereka yang telah pernah terinfeksi Covid-19 dan sembuh, setelah sakit, tidak perlu divaksin dalam jangka waktu sekitar enam sampai satu tahun tapi kita tetap mendata orang itu,” tuturnya
Ia menambahkan, pendataan dan pendampingan terhadap mereka yang sudah memiliki antibodi tetap penting, karena saat ini ada covid-19 varian baru.

“Kita sedang berjaga-jaga apakah dengan munculnya varian baru, orang tersebut perlu menjalani vaksinasi tapi tentu saja dengan vaksin yang mampu menghadapi varian baru itu,” ujarnya.

Sebagai informasi, Italia mengggunakan vaksin dari produsen yang telah memiliki sertifikasi lolos uji EMA (lembaga farmakologi Uni Eropa), yang memanfaatkan teknologi mRNA, yaitu Pfizer, Moderna dengan efikasi di atas 90 persen dan metode tradisional Oxford-AstraZeneca.

Penulis: Rieska Wulandari
Editor: CM, JG

By Redaksi

Minds are like parachutes; they work best when open. Lord Thomas Dewar

Tinggalkan Balasan

X