RI3SKA.COM – Ex Pelatih Angkat Besi Nasional, Jadi Editor Rubrik Kriya.
Diaspora Italia mengenal sosok perempuan kelahiran Juni 1967 asal Jakarta ini sebagai pribadi yang kreatif, tak hanya kreatif  hidupnya juga penuh warna.

Latar pendidikannya antara lain berupa 4 tahun di Sekolah Menengah Teknologi Kerumahtangaan (SMTK, jurusan Tata Graha, Jakarta dan Makassar membuatnya kaya akan ilmu kreatif dan seni karena selama di sekolah, Claudia mengatakan Ia juga menjalani praktek kerja di hotel antara lain Hotel Mandarin dan Kartika Plaza Jakarta, rumah sakit, butik dan sebagainya.

Ia juga mengenyam pendidikan Sastra Indonesia di Universitas Makassar dari tahun 1987 – 1995 dan mendapat predikat mahasiswi abadi, karena sibuk mendirikan Tim Volley dan Hockey Unhas, termasuk memimpin kejuaraan di Jawa, sebagai salah satu jalan ninjanya, agar setiap tahun bisa pulang kampung ke Jawa, gratis.

Lepas kuliah, Ia sempat berprofesi sebagai guru bahasa Indonesia di SMAK Penabur Jakarta, tak sampai tiga bulan Ia mendapat panggilan KONI untuk mendapat pekerjaan yang menantang yaitu melatih Tim Angkat Besi, SEA GAMES 1997 di Jakarta.

Maka, Ia mengabdikan diri untuk PABBSI (Persatuan Angkat Besi Binaraga dan Angkat Berat Seluruh Indonesia), sebagai pelatih dan wasit internasional.

Dunia pendidikan kembali memanggilnya, Ia melanjutkan S2 STT Jakarta (Theologia) program Magister Ministry (1999-2001) dan berkiprah sebagai penulis serabutan (ghostwriter) tanpa media (freelance). Ia masuk ke Italia pada tahun 2005 karena mendapat beasiswa Cinematografia di Reggio di Calabria sekaligus beasiswa bahasa Italia di Perugia (jadi dapat 2 beasiswa).

Sebagai pribadi yang terbuka pada berbagai ladang profesi, Ia sempat melamar menjadi pengasuh bayi melalui Eupair, dan mendapat tawaran pekerjaan di Lido di Venezia, mengasuh anak kembar.

Akhirnya memutuskan tinggal di Italia. 6 tahun pertama tinggal di Mestre, kerja serabutan. “Aku total dalam 10 tahun keluar masuk bersihkan rumah orang: 26 rumah,” ujarnya.

Ia mengaku tak hanya bekerja, tapi juga menimba ilmu dari para majikannya,“Aneka keterampilan saya dapat dari para majikan yang umumnya hobi melukis, merajut, menjahit, beidermeir (dekorasi dengan bahan sederhana kombinasi bahan sederhana, mewah dan rempah atau pengharum alami), decoupage (seni dekorasi dengan menggunakan potongan kertas diaplikasikan pada berbagai benda), ukir dan lain-lain,” ujarnya.

Guru sekolah minggu di lingkungan Jemaat POUK, Mandai Makassar ini menikah pada tahun 2013 dengan pria Italia dan tinggal di Oderzo, sampai sekarang masih terus berkreasi dengan berbagai jenis keterampilan dan rajin memposting proses dan hasilnya melalui akun media sosialnya.

Ia mendirikan grup ensambel  bersama teman-teman di gereja, sebab ada calon pendeta yang mendapingi mereka belajar dasar instrumen gitar.  Di masa pemuda ia aktif, selain paduan suara, turut berperan aktif dalam grup karawitan (1996) atas kesadaran untuk melestarikan budaya.

Kontribusinya pada dunia pendidikan di sekolah minggu terus berlanjut, saat ini pada masa pandemi ia turut dampingi murid sekolah minggu GKJ Bekasi untuk kelas lukis online.

“Hobi menggambar akhirnya tersalurkan di sini sebab waktu di Mestre join dengan Associazione Culturale (Asosiasi Kebudayaan) Nicola Saba, sering ikut ‘le gite’ (kunjungan belajar) melihat pameran lukisan dari kota ke kota, museum ke museum. Ilmu mengukir juga di dapat dari asosiasi tersebut,” ujarnya.

Salah satu periode terpenting dalam hidupnya adalah pasca kerusuhan di Jakarta, dimana ia mengelola program Tim Aksi Kasih Sinode GKI (Jabar dan Jateng) sementara di malam hari, ia lanjut  kuliah M.Min di STT Jakarta.

“Waktu itu programnya dinamakan ‘Berkat Bekas menjad Berkat’, semacam caritas (asosiasi sosial) di Italia. Waktu itu belum banyak kegiatan macam ini di Jakarta. Jadi aku banyak belajar juga dari pemulung di Pulo Gadung. 

Bekal ilmu ‘pemulung’ menggugahnya, manusia bisa mengolah sampah atau mendaur-ulang benda-benda sekitar menjadi sesuatu yang berguna dan indah dipandang. “Di Italia, masalah sampah selalu dipikirkan matang dan detail, membuang pun harus dilakukan secara bijak, maka ‘sampah’ di mataku adalah harta karun,” ujarnya.

Suaminya, Denis adalah pemusik  instrumen bass dan contrabbasso serta memiliki hobi astronomi. “Lukisan saya bertema musik atau bikin kriya astronomia, untuk menyenangkan dia,” ujarnya dengan senyum.

By Redaksi

Minds are like parachutes; they work best when open. Lord Thomas Dewar

Tinggalkan Balasan

X