RI3SKA.COM – Cuaca hari ini cerah, bahkan terasa hangat. Anak saya yang bungsu, bangun dari tidur dia bertanya: “Papi, apakah hari ini Natal? Kok tidak ada salju?”

Pertanyaan yang polos dari seorang anak berumur lima tahun, sebab banyak kisah Natal baik itu film kartun, video musik dan iklan yang berkaitan Natal menyertakan salju, maka bagi anak kecil itu, Natal identik dengan salju.

Tentu saja badai yang saya sampaikan bukan soal cuaca buruk, tapi badai covid-19 plus varian omicron yang terus-menerus menggerus kita.

Ditengah meriah dan gempita Natal, orang-orang belanja kado dan reuni makan malam yang tahun lalu tak ada, setiap hari, jumlah infeksi dari omicron di Italia naik dua kali lipat. Inggris, Perancis mengalami rekor kasus di angka 120 ribu Dan 90 ribuan per hari. Italia menyusul di angka 57.000 per hari ini.

Lomba dalam badai omicron ini pilihannya cuma dua, apakah demam karena vaksinasi tapi kemudian mendapat greenpass dan bisa “hidup normal di tengah masyarakat” atau terinfeksi si biang kerok dengan kemungkinan fatal, sebab mereka yang meninggal dan masuk ICU sebagian besar karena tak memiliki tameng vaksin.

Jumlah vaksinasi di Italia juga mengalami record, bahkan 1,7 juta greenpass terbit dalam jangka waktu 24 jam, artinya banyak orang mulai sadar pentingnya vaksinasi.

Dibanding tahun lalu saat vaksin belum eksis, periode November – Desember, Italia mengalami kasus kematian sampai 1000 per hari sampai Italia harus melakukan lockdown, tahun ini dengan vaksinasi di periode November-Desember, kematian ditekan sampai 87%.

Dalam pesan Natalnya Paus berkata: “Berikan vaksin pada negara-negara yang paling miskin”.

Apakah ini tanda datangnya sebuah angin segar di tengah badai? Jika ya, maka inilah pencapaian peradaban baru.

Salam Natal 2021.

By Redaksi

Minds are like parachutes; they work best when open. Lord Thomas Dewar

Tinggalkan Balasan

X
%d blogger menyukai ini: