RI3SKA.COM – Lima puluh tahun lampau, Adriano Zecca, seorang fotografer muda Italia, berwisata ke Indonesia untuk mengunjungi sahabat lama beserta keluarganya, Giuseppe Fardella yang mukim di Jakarta.

Dalam wawancara daring di Milan, Italia beberapa pekan lalu, ia mengatakan saat melakukan kunjungan kala itu di Jakarta, ia juga bertemu dengan seorang Italia yang kebetulan adalah Romo Katolik dari Ordo Xaverian yang baru saja kembali dari pulau Siberut, dalam tugasnya melayani suku Mentawai.

Mengetahui sang anak muda adalah seorang fotografer, maka Pastor tersebut memperlihatkan beberapa foto hasil bidikannya dari Pulau Siberut. Adriano muda, menganga dalam keheranan dan kekaguman.

“Bagai disambar petir, saya yang baru berusia 24 tahun, terpana sekaligus terpikat dengan keindahan alam dan keindahan wajah-wajah tubuh orang Mentawai yang seolah dipenuhi bunga. Darah petualangan saya langsung bergejolak dan bersama sahabat saya, Giuseppe dan pastor tersebut, kami memutuskan untuk melakukan perjalanan ke sana,” ujarnya.

Perjalanan itu menurutnya tidak mudah. “Dulu tidak ada pelabuhan, kami harus mendarat jauh dari pantai karena di pantai banyak karang, kami harus jalan berhati-hati supaya tidak luka kena karang,” ujarnya.

Ia mengaku perjalanannya itu, menjadi titik awal bagi dirinya untuk mengabdikan diri pada dunia dokumenter dan sinematografi.

“Tahun 1969, suku tersebut belum diketahui banyak orang dan hasil dokumentasi saya di pulau tersebut cukup detail dan mendalam dan sejak itu saya mengabdikan diri untuk dunia sinema dan dokumentasi,” ujarnya.

Mantap menjalani dunia dokumenter, ia tak hanya menghasilkan foto dan film tentang suku Mentawai, sebab dari hasil perjalanannya bersama Giuseppe yang akrab disapa Beppe, mereka  berhasil menerbitkan buku mengenai Indonesia yang tak hanya berisi pulau Siberut tapi juga pulau-pulau besar dan kecil di Indonesia antara lain Jawa, Bali, Sumatera, Nias, Sulawesi, Lombok, Sumbawa dan Komodo,
Buku tersebut hadir dalam dua bahasa yaitu Italia dan Inggris, berkat kolaborasi dengan Mariangela Fardella, adik dari Giuseppe yang melakukan studi bahasa Inggris di Italia.

Mariangela mengkonfirmasi bahwa Adrianno Zecca merupakan sahabat mereka sejak kecil, sebab dahulu rumah mereka amat berdekatan dan dari persahabatan tersebut lahirlah perjalanan panjang “berdurasi” setengah abad ini.

Giuseppe memutuskan untuk mengembangkan usaha di Indonesia dan Singapura, menikah dengan wanita Indonesia, Sri Kartini Idham dan sekarang berkiprah sebagai Managing Director pada Allied Industrial Assistence Pte. LTD dan anggota dewan pada Asosiasi Pengusaha Italia di Indonesia.

Rentang lima puluh tahun perjalanan kariernya, Adriano berhasil mengunjungi sekaligus mendokumentaskan berbagai suku terasing di berbagai belahan pulau di nusantara dan kemudian merambah ke berbagai belahan dunia, dari mulai Amerika Latin, Papua, Afrika dan sebagainya.

Mimpinya untuk kembali ke Indonesia terutama ke Mentawai, tetap terpatri dalam semanagatnya apalagi 2019 merupakan angka sakral, yaitu angka 50 tahun perjalanan kariernya sebagai seorang sineas dokumenter.

Beruntung, mimpinya tersebut lolos uji proposal dari sebuah lembaga di Swiss dan bahkan tak hanya Adrian yang berangkat tapi seluruh keluarganya,
“Mimpi menjadi kenyataan, ternyata bisa terjadi dalam hidup dan dalam perjalanan kali ini, saya bahkan mendapatkan donor untuk membiayai perjalanan pada tahun 2019 serta diberi keleluasaan untuk memproses pembuatan filmnya bagi saya dan keluarga,” ujarnya sumringah.

Tak Mudah

Film dokumenter lima puluh tahun perjalanan Adriano Zecca kembali ke Siberut, ditayangkan pada televisi nasional Italia, RAI 3 tepat pada hari Natal 2020.

Dalam tayangan tersebut, terlihat meski telah terbentang waktu 50 tahun, perjalanan ke Pulau Siberut terutama ke pedalaman di desa Lubaga, dimana Ia pernah tinggal 50 tahun lalu tidak menjadi lebih mudah, karena hujan besar membuat pemandu tak merekomendasikan perjalanan menyusuri sungai dengan sampan.

Hampir putus asa, Adriano kembali menelepon para pastor yang kini meneruskan tugas mereka melayani warga Mentawai dan dari masukan pastor tersebut, Adriano harus memutar jalan, menggunakan kapal mengitari pulau mengarungi laut lepas.

Saat saya tanya bagaimana rasanya mendapati rintangan tersebut, ia mengatakan: “Perjalanan menyusuri sungai dengan sampan cukup berbahaya, tapi mengarungi laut lepas juga bukan sebuah pilihan yang mudah, tapi mau tak mau saya ambil,” ujarnya terkekeh mengenang perjalananannya yang menegangkan sekaligus mengharukan ini.

Ia mengaku bersyukur dalam usianya yang menginjak 70-an masih bisa kembali ke Siberut beserta seluruh anggota keluarganya, dalam dokumentasi tersebut diperlihatkan isterinya seorang pelukis dari Spanyol, sibuk menggambar sketsa dan menghadiahkan sketsanya pada anak-anak Mentawai.

Bahkan anak sulungnya, Eloy Zecca berperan sebagai videografer dalam perjalanan ini, mengabadikan semua proses kunjungan kedua sang ayah tercinta.

“Adalah sebuah kebahagiaan, mellihat anak kita juga turut melanjutkan dan mencitai profesi ini, seperti halnya saya,” ujarnya dalam haru.

Ia mengatakan banyak perbedaan yang dia lihat di Pulau Siberut dibandingkan 50 tahun lalu, antara lain pembangunan di bidang pendidikan serta ekonomi dan kehadiran suku-suku lain dari sekitar pulau turut memeriahkan suasana desa pantai tersebut.

Namun ia berpesan agar pemerintah pusat dan daerah, tetap mengupayakan perlindungan pada eksistensi masyarakat Mentawai, terutama dengan memberikan restriksi agar masyarakat luar tak merusak hutan Siberut.

“Semoga dengan pembangunan ini, masyarakat Mentawai masih tetap dapat melestarikan tradisi dan apa yang menjadi nilai-nilai sosial mereka, karena bila tradisi masyarakat ini punah  maka tak hanya Indonesia yang kehilangan keragamannya tapi seluruh dunia akan kehilangan permatanya”.

Rieska Wulandari
Tautan wawancara dengan Adriano Zecca https://www.youtube.com/watch?v=XZD3-TfE1NY&t=6s

Penulis: Rieska Wulandari – Jurnalis, ketua Ikatan Sarjana Ilmu Komunikasi Indonesia (ISKI) Cabang Eropa
Editor: Syahrul Gunawan

By Redaksi

Minds are like parachutes; they work best when open. Lord Thomas Dewar

Tinggalkan Balasan

X