Budaya Kritik Budaya kritik di Indonesia sudah ada sejak ribuan tahun, bisa melalui pantun, atau lirik-lirik lagu, semakin maju budayanya, kritik juga berkembang di ruang-ruang seni, melalui dalang, tari dan pertunjukan lainnya. Di masa penjajahan, kritik dilancarkan dengan berani oleh Raden Ajeng Kartini dalam korespondensinya. Kemudian tahun 1920 an, mahasiswa pribumi yang kuliah di Belanda bahkan membuat partai. Tidak tanggung-tanggung gerakannya, jelas ditangkapi dan dimasukkan ke penjara. Tapi pulang ke Indonesia mereka bikin lagi pergerakan, termasuk partai’ dan media massa, gerakan ini paling berhasil karena kita bahkan bisa merdeka. Satu-satunya negara yang berhasil mendeklarasikan sebuah bangsa sekaligus mengusir penjajahnya. Kritik terus dilancarkan, Pramoedya yang terinspirasi tokoh-tokoh hebat di masa kemerdekaan, menjadi jurnalis dan menulis buku-buku yang sangat luar biasa, tulisannya bagus bahkan bisa dibilang adilihung dan jenius. Tapi… Eeeh kekuasaan mana paham kritik bagus?Karya fenomenal dari Pram dijawab dengan pemberangusan dan bahkan pencemaran nama, buku Pram dianggap menyebarkan paham komunis padahal jika dibaca lagi, karya-karyanya mengangkat tokoh Nusantara yang sangat islami. Makin kesini bangsa kita makin frustasi, harapan untuk menjadi lebih baik malah makin suram, kritik jenis apapun jadi sulit disampaikan, yang berkualitas tinggi tidak sampai pesannya yang kualitas frontal langsung habis dihakimi massa, selain tak lagi memahami esensi kritiknya, publik lebih menyoal “bungkus dan penampakannya”. Lalu jelaslah kritik macam: “Bayar, bayar, bayar” meski real, ya langsung AMBYAR.Indonesia adalah negara paling anti kritik. Tak mampu menghadapinya baik dalam segi adiluhung sastra (dijawab dengan pemberangusan), seni rupa/lukis/tiga dimensi dan apalagi frontal macam lirik lagu di atas. Ini adalah potret ketika budaya kritik yang diramu dengan resep apapun langsung terkapar menghadapi budaya arogansi kekuasaan dan paradoks dengan budaya nrimo dan pasrah toxic di kalangan bawah. Jurnalis keturunan Italia, Elisabeth Pisani dalam bukunya Indonesia ECC (Indonesia dan sebagainya), menuliskan usai perjalanan dinasnya ke Indonesia dan dari perjalanannya di seluruh Asia, bahwa Indonesia sebagai negara yang Improbabile : “Tidak Mungkin”. Karena memang di Indonesia apa aja ada, tapi semua tidak mungkin, kenapa bisa begitchu?

By Redaksi

Minds are like parachutes; they work best when open. Lord Thomas Dewar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X