RI3SKA.COM – Profesi penjahit di Indonesia sempat menjamur antara tahun ‘60 sampai pertengahan ‘90. Hampir tiap kota, kampung bahkan gang memiliki ‘penjahit’. Bermodal gunting, pengetahuan membuat dan merombak pola, mesin dan benang niscaya bisa menghidupi keluarga dengan karier ini. Bisa juga bekerja di perusahaan konfeksi (pakaian jadi).

Clara Endah Megawati kelahiran tahun 1976, sejak SMP sudah membantu ayahnya menerima pesanan baju seragam sekolah di Jakarta. Waktu itu ayahnya masih berstatus guru. Melihat peluang bisnis yang cukup menjanjikan, saat pensiun sang ayah serius membuka usaha konfeksi yang diberi nama “Gokewayo”.

Clara mantap untuk fokus menjalani pendidikan di SMK jurusan Tata Busana sebagai langkah awal untuk meraih cita-citanya menjadi penjahit profesional. Ilmunya dipertajam di tingkat D3 AKS Tarakanita di Jogjakarta.

Kembali ke Jakarta, Clara membantu ayahnya memperluas konfeksi mereka dengan membuat baju-baju anak berbagai merk seperti Pingu, Snoopy dll. Pada jaman ‘distro’ mereka juga membuat baju-baju ‘gaul’ bagi kaum muda yang dipasarkan ke beberapa outlet seperti Endorse, Tendence, Bloop dll.

Mengawali dengan 5 penjahit, perusahana mereka berkembang menjadi 20 karyawan karena orderan seragam murid dan guru setiap tahun ajaran  dari beberapa sekolah sekaligus.

Clara juga membuka butik yang mengkaryakan dua asisten untuk membuat baju pengantin, kebaya lengkap dan sebagainya. Selain kesibukan mengurus jahitan, Clara juga diminta mengajar desain dan teknik pengembangan pola di almamaternya, SMK Santa Maria. Maka, untuk menyempurnakan profesinya sebagai guru, ia melanjutkan pendidikan lebih tinggi di Universitas Negeri Jakarta untuk meraih gelar Sarjana Teknik Tata Busana.

Pindah ke Italia dan Tetap Menjahit
Saat mencapai puncak karier, ia bertemu pria Itali dan pada tahun 2013 Clara resmi bermukim di negeri yang melahirkan banyak desainer kondang internasiona tepatnya di kota kecil Ascoli (Piceno).
Sedikit gegar budaya karena lahir dan besar di Jakarta, kota metropolitan yang terkenal hiruk pikuk. Jauh berbeda dengan Ascoli, kota “Seratus Menara” yang sunyi dan tenang terhampar di lembah Tronto.

Secara lingkungan alam dan sosial, Clara cepat beradaptasi. Namun untuk melanjutkan hobi dan kariernya, butuh waktu untuk beradaptasi karena bekal ijazah dan pengalaman kerja bertahun.tahun  di industri pakaian di tanah air, tidaklah cukup.

Ia tetap harus menjalani prosedur yang cukup pelik dan membutuhkan waktu. Sesuai peraturan lokal di Italia, Clara harus menjalani dua kursus yang menjadi persyaratan dasar untuk membuka usaha jahit secara legal, yaitu kursus Modelista dan kursus Artigianale Made in Italia. Selesai keduanya, ia masih harus membuat tesis dari hasil ‘lo stage’ (peragaan panggung) yang diuji oleh pakar di bidangnya.

Ia dan kawan-kawan harus membuat baju dama (pakaian abad pertengahan, baju klasik dengan nilai historis) dan cavaliere (pakaian prajurit berkuda abad pertengahan) untuk Quintana, acara akbar nasional yang digelar di Ascoli dua kali setahun setiap musim panas.

Selain bimbingan guru seni dan para seniman Quintana, desainer terkenal Italia juga ikut mengawasi pekerjaan ini. Karya mereka mendapat pujian. Pada bulan Desember 2019 ia berhasil mengantongi sertifikat yang membuatnya semakin percaya diri sebab tahun-tahun sebelumnya sudah diisi dengan berbagai pengalaman praktek di beberapa atelier Italia.

Tak hanya seragam sekolah, baju bayi/anak, stelan jas pria wanita, kebaya lengkap atau baju pengantin, tapi kostum untuk acara Quintana juga siap dikerjakan. Saat ujian praktek, ia sangat tertantang mengerjakan baju yang terinsiprasi abad XV. Untuk membuat satu model, cukup ribet dan harus akurat sesuai ‘pakem’ yang diberlakukan.

Warna kostum ikut menentukan status pemakai. Mau tak mau ia harus belajar sejarah Quintana dan mengenal baik setiap figur yang jumlahnya kini mencapai 1500 orang untuk sekali parade.
Meski kota kecil. Ascoli cukup menjanjikan karier sebagai pejahit sebab setiap tahun menggelar acara Quintana yang membutuhkan kostum-kostum baru.

Terimbas pandemi, kegiatan ini sempat ditunda. Dengan sertifikat yang sudah dimiliki melalui berbagai tahapan, ia juga sudah membuka studio jahit di rumahnya dan menjalankan usaha permak pakaian, membuat asesories, membuat perlengkapan bayi seperti tas, baju dan asesoris lainnya bahkan menjadi tutor online tutor bagi lembaga kursus dan almamaternya di Jakarta.

Pengalaman menjadi penjahit di Italia memberinya pelajaran berharga, bahwa keahlian tidak cukup karena di Italia ada standarisasi, pemahaman sejarah serta aturan dan etika berbisnis yang harus dipahami secara matang.

Penulis: Claudia Magany
Editor: Rieska Wulandari

By Redaksi

Minds are like parachutes; they work best when open. Lord Thomas Dewar

Tinggalkan Balasan

X