Trend “Fast fashion” yaitu kecenderungan untuk berganti gaya busana dalam waktu yang sangat cepat, tak disangka, telah menyebabkan krisis sampah secara global. Industri fashion, disebut sebagai penyumbang limbah terbesar kedua di dunia, dimana jutaan ton limbah fashion terakumulasi di negara dunia ketiga yang mencemarkan kawasan local dan menyebabkan berbagai keluhan penyakit pada warga lokal.

Selain itu, “fast fashion” kerap memperlakukan tenaga kerja dibawah strandar kemanusiaan, dimana banyak pihak yang lebih lemah, menjadi korban manipulasi perusahaan besar seperti bekerja berlebihan, upah di bawah standar dan lingkungan kerja yang membahayakan pekerja dan limbah yang menganggu lingkungan sekitar.

Menanggapi hal tersebut, industri fashion dunia dipanggil untuk memperhatikan kelestarian lingkungan dan mempertimbangkan nilai-nilai kemanusaan dalam proses produksi mereka. Para pecinta fashion juga diundang untuk mengubah gaya berpakaian mereka dari “fast fashion” kepada “slow fashion”, dimana pembeli diminta untuk turut bertanggungjawab memilik produk yang berkualitas tinggi, didesain dengan model yang evergreen (selalu relevan dengan situasi, tidak mudah ketinggalan zaman) dan berkualitas, sehingga tidak mudah rusak sehingga mengurangi kemungkinan penambahan limbah dengan akselerasi yang terlalu tinggi.

Merespons panggilan ini, desainer indonesia Mardiana Ika yang telah mukim di Hongkong dan membangun kariernya sebagai desainer busana sejak tahun 1980-an, melihat Indonesia sebagai sumber daya yang sangat tak hingga dalam menjawab tantangan ini.

Dalam rangkaian Milan dan Paris Fashion Week, September 2023, desainer  yang besar dan bersekolah di Bali ini membawa 20 set pakaian, 10 set yang anggun dan berkelas, dipadu dalam gradasi oranye ke merah yang ditampilkan di Milan dan 10 set berwarna kombinasi kuning yang segar dan elegant, tampil dengan mewah di Paris.

Peragaan busana di Milan kali ini dilaksanakan di Palazzo Serbelloni, di depan lingkungan fashion dunia, ika tampilkan 10 koleksi pakaiannya dengan warna gradasi orange sampai merah, semuanya hasil pewarnaan dengan teknik eco prin yang berwarna cerah dan vibrant.

“Rahasia eco-print yang bisa berwarna cerah dan jelas ini, adalah jika menggunakan bahan-bahan natural berkualitas tinggi, kalau tidak berkualits, maka warna yang tampil menjadi buram dan tidak menarik,” ujarnya.

Di Milan dan Paris, karyanya jelas membawa warna-warna bumi dan hangat, warna coklat, pink dan orange, sangat meriah menyambut musim gugur, dengan teknik dan desain yang mempesona.

Sebagai anak perempuan satu-satunya dari 4 saudara, Ia merasa bahwa peran anak perempuan dalam keluarga lebih “kecil” dibanding anak laki-laki. Ika sempat merasa berkecil hati ketika ayahnya mendaftarkannya sebagai pramugari di sebuah perusahaan penerbangan yang berbasis di Hongkong, seolah ayahnya ingin ia “pergi jauh dari rumah”.

Tapi rupanya, pekerjaan itu memberinya kesempatan untuk menjalani sekolah menjahit di Hongkong dan ia memiliki kesempatan untuk melanjutkan sekolah desain dan busana di UK.

“Setiap punya hari libur, saya berangkat ke sekolah untuk belajar desain dan menjahit,” ujarnya,

Usahanya tak sia-sia, setelah sempat membahagiakan orang tuanya dengan mengundang mereka berkeliling ke Eropa dengan penghasilan yang didapatnya sebagai pramugari, ia kemudian mantap untuk keluar dari profesinya dan mendirikan perusahaan di Hongkong.

Karya-karyanya mempesona, Ia menjadi salah satu desainer paling penting di Hongkong.

Sebagai desainer yang besar di Bali dan selalu terinspirasi oleh indahnya Bali, Ia juga memprakarsai Bali Fashion Week pada tahun 2000. Kini kiprahnya terus berkembang, menjawab kebutuhan slow fashion dunia, ia berkolaborasi dengan 3000 pengrajin Eco-print di seluruh tanah air, untuk dapat menjadi mitra bagi industri fashion yang berkelanjutan.

Di paris, karyanya tampil memikat berupa mempersembahkan koleksinya di Vendom Historical Westin, koleksinya terlihat elegan tapi tetap mampu mewakili pesannya dalam membangun kesadaran sosial yang berkelanjutan. Sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam industri fashion yang persaiangannya sangat keras dan ketat.

By Redaksi

Minds are like parachutes; they work best when open. Lord Thomas Dewar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X