RI3SKA.COM – Sabtu 10/9 lalu, saya kembali menghadiri warkons. Kali ini di Treviso, tepatnya di Feria Restaurant, via degli quercia 8 (TV) yang lokasinya cukup familier sebab tak jauh dari Questura di Treviso. Bisa ditempuh dengan jalan kaki dari stasiun bis dan kereta. Bisa juga memilih beberapa biskota lokal yang melewati area ini. Dengan kendaraan pribadi, tempat parkir yang tersedia cukup luas sebab berada di sekitar taman publik yang lengkap dengan area bermain untuk anak-anak.

Tidak seperti warkons-warkons sebelumnya, aneh juga waktu membaca pengumuman bahwa lokasi yang dipilih adalah restoran. Terbayang pendaftar yang akan berbaur dengan pelanggan yang sedang makan dst. Panitia penyelenggara juga tidak menyertakan program acara dan menu makanan, jadi sempat menduga kalau saya datang, mungkin sambil belanja sekedarnya. Atau..?

Ternyata kami yang datang untuk urusan warkons, tidak membaur dengan konsumen seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Ada ruang pertemuan di atas restoran yang cukup besar yang telah ditata khusus untuk acara ini. Lagi pula, restoran ini hanya buka malam hari. Bahkan hanya 5 hari dalam seminggu, dari Selasa-Sabtu dengan jumlah klien yang sangat dibatasi.

Oh ya, WarKons adalah akronim dari kata Warung Konsuler. Maklum masih banyak warga diaspora yang ternyata belum paham saat membaca atau mendengar istilah ini. Bukan warung dalam pengertian transaksi jual beli barang, tetapi ‘warung’ konsultasi yang memberi layanan dokumen kepada warga Indonesia yang ingin membuat paspor, surat nikah (nulla osta), lapor diri dan lain sebagainya.

Tanggal 9-11 September lalu, adalah warkons ketiga tahun 2022 yang digelar KBRI untuk warga Triveneto dan sekitarnya. Warga Triveneto atau Tri Venezie adalah kami yang berdomisili di wilayah Veneto, Trentino-Alto Adige dan Friuli-Venezia Giulia.

Secara geografis, wilayah kami termasuk yang cukup jauh dari Roma. Sebab secara teori, kami seharusnya datang ke KBRI di Roma untuk semua urusan dokumen. Karena banyak orang Indonesia lainnya yang tersebar tidak berdomisili di Roma dan sekitarnya, maka pihak KBRI memberi kemudahan secara lokasi. Tepatnya sebagai usaha menjemput bola.

Bukan hanya Italia yang menjadi wilayah teritorial KBRI Roma, tetapi termasuk Malta, Siprus dan San Marino, maka penjatahan warkons juga harus diatur seadil mungkin.

Terkait protokol kesehatan, jadwal warkons yang sebelumnya hanya dibuka sehari (biasanya hari Minggu), sekarang menjadi 3 hari berturut-turut. Biasanya digelar pada akhir pekan. Jumlah pendaftar sekarang juga dibatasi. Lebih diutamakan anak kecil dan para lanjut usia. Pengajuan bikin paspor baru juga harus memenuhi persyaratan yaitu minimal 6 bulan sebelum paspor lama jatuh tempo.

Selain itu pendaftar harus berkomunikasi sebelumnya dengan pihak terkait atau panitia yang ditunjuk agar bisa mengatur jadwal pertemuan. Kesannya mudah: bawa berkas yang telah disiapkan, mendaftar, sidik jari, foto dan tandatangan. Tapi dalam praktek, membutuhkan waktu minimal 30-40 menit per orang karena semua proses harus dikerjakan dengan seksama, secermat mungkin untuk menghindari kesalahan data, baik dalam penulisan, tanda baca, dll.

Setiap peserta juga perlu menyampaikan daftar dokumen yang dibutuhkan untuk pembuatan/perpanjangan paspor melalui email terlebih dahulu, sehingga KBRI Roma dapat memasukkan data tersebut dalam SIMKIM. Pada saat rekam sidik jari dan foto, koneksi dengan SIMKIM di Pusat juga perlu dijaga, sehingga data-data termasuk rekam sidik jari dapat dibaca oleh sistem di Pusat. Tidak jarang, sidik jari yang terekam tidak dapat terbaca sehingga harus dilakukan perekaman ulang.

Sebetulnya, paspor saya yang diurus bulan Juni lalu di Sassuolo sudah beres tuntas. Namun ribut-ribut soal kolom tandatangan yang beritanya cukup heboh, akhirnya saya mendaftar ulang untuk penambahan kolom ini. Prosesnya sangat cepat, tak sampai 10 menit urusan selesai. Kolom tanda tangan pemegang diterakan pada halaman 4, 5 atau 47 pada paspor dan kemudian divalidasi oleh pejabat yang berwenang. Dan tentunya data paspor harus dicatat oleh panitia.

Kabar soal paspor Indonesia yang ditolak oleh Kedutaan Besar Repubik Jerman di Jakarta memang sempat menjadi isu hangat bulan lalu. Tidak bisa disalahkan sebab pihak Kedutaan Jerman berpatokan pada aturan ketat penerbangan ICAO (International Civil Aviation Organization). Paspor dianggap tidak sah tanpa tandatangan pemegang. Padahal paspor terbitan baru (2019) yang dikirim ke KBRI-KBRI, umumnya paspor dengan format tanpa kolom tandatangan.

Di Jakarta sana, keluhan datang dari sebagian pelajar dan mahasiswa yang terkendala karena visa mereka tidak bisa diproses. Untungnya, pemerintah juga sigap menangani hal ini sehingga masalah pun teratasi.

Kalau mau jujur, isu ini tidak berdampak buat saya karena tinggal di Italia dan punya carta di soggiorno. Seandainya pun ingin mengunjungi kota-kota di Jerman sana, saya tidak perlu mengajukan visa. Tapi karena hari esok adalah misteri, kita semua tidak pernah tahu misteri selama 5 tahun ke depan.

Lagi pula, warkons kali ini cukup dekat dengan tempat tinggal saya. Maka dengan senang hati saya datang menikmati akhir pekan bersama Charge d’Affaire (Kuasa Usaha Sementara) Ibu Lefianna Hartati Ferdinandus, Minister Counsellor Koordinator Fungsi Protokol dan Konsuler Bapak Danang Waskito, Pak Wawan, Pak Imam dan Pak Iskandar rombongan dari KBRI Roma. Hadir juga adik-adik mahasiswa yang sedang melanjutkan studi mereka di beberapa universitas di kota Padova dan Venezia.

Selain Malta, Siprus dan San Marino, KBRI Roma juga merangkap beberapa organisasi internasional yaitu FAO, IFAD, WFP dan UNIDROIT. Tiga organisasi yang disebutkan pertama, berkaitan dengan pangan dan pertanian, sedangkan UNIDROIT menyangkut penyatuan hukum perdata.

Bisa dibayangkan betapa sibuknya kegiatan KBRI Roma. Namun sesibuknya acara kenegaraan, Ibu Dubes ad interim masih menyempatkan diri untuk hadir langsung di tengah masyarakat Indonesia di wilayah Tri Veneto. Bagi kami merupakan suatu kehormatan bisa bertemu langsung dan berbincang akrab dalam suasana kekeluargaan.

Dijelaskan juga mengenal visa on arrival (VOA) yang masa pandemia dulu sempat ditiadakan. Kemudian soal pentingnya WNI untuk melakukan “lapor diri online” pada portal (peduliwni.kemlu.go.id). Adapun manfaat lapor diri ini, termasuk ketentuan perundangan yang “sebenarnya” menyatakan adanya kewajiban lapor diri bagi WNI yang tinggal lebih dari 6 bulan di luar negeri. Dan ternyata, ada aturan mengenai sanksi (denda) bagi yang tidak melakukannya lho!!

Salah satu yang difasilitasi portal ini, tertulis pelayanan ‘prima’ bagi WNI. Namun dalam pertemuan Sabtu lalu, saya bisa merasakan langsung bahwa KBRI merangkul masyarakat Indonesia tanpa membedakan antara WNI atau mantan WNI. Siapapun orang Indonesia di luar negeri, kita semua adalah duta bangsa. Semacam surat terbuka yang dibaca orang.

Sambil mendengar pencerahan Ibu Lefianna dan Pak Danang, meja di hadapan kami mulai dipenuhi serangkaian hidangan. Aroma nasi hangat yang uapnya menembus celah-celah bakul bambu, cukup menggoda konsentrasi.

Pak Danang melanjutkan penjelasan tentang kegiatan sosial dan berbagai usaha pendekatan yang selama 2-3 tahun belakangan ini telah dilaksanakan untuk bisa membaur dengan masyarakat. Antara lain membentuk grup Diaspora Family-ITALY di salah satu media sosial. Kalau dicermati, grup ini cukup aktif dalam menanggapi isu-isu yang sedang hangat. Rasanya semakin lengkap sebab sebelumnya sudah ada juga wadah di salah satu media lain, yaitu grup Indonesiani in Italia (e famiglie).

Dampak pandemia (lockdown), KBRI juga membuat terobosan baru dengan menggelar aneka lomba memperingati hari Kemerdekaan dan hari Pahlawan secara online. Saya sendiri sempat mengikuti beberapa lomba untuk memeriahkan acara. KBRI rasanya tidak sejauh jarak Oderzo-Roma dengan kereta api. Walau jauh terpencil, saya tetap bisa berpartisipasi.

Salah seorang mahasiswi yang hadir, adalah penari. Dalam kesempatan itu, KBRI mendata ulang profesi, prestasi dan aktivitas masyarakat Indonesia sebagai SDM yang bisa dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan mendatang. Walau sebagian besar berprofesi ibu rumah tangga, ternyata banyak yang ahli dalam aneka hobi, keterampilan dan profesi lainnya.

FERIA RESTAURANT

Feria adalah rumah makan dan bistro Indonesia milik pasangan Marco Feltrin dan Sriyanti Feltrin. Dibantu Peni Pujirianti dan Dwi Yulia, mereka dipercayakan KBRI, sebagai panitia penyelenggara warkons Triveneto.

Restoran Feria resmi dibuka pada bulan Desember lalu. Sedikit berbeda dengan restoran pada umumnya, Feria menawarkan hidangan menù à la carte dan menù degustazione (menu mencicipi) yang mencerminkan filosofi dapur.

Definisi degustazione ialah ‘mencicipi sebagai proses evaluasi organoleptik, berhubungan dengan pengindraan suatu produk makanan yang meliputi rasa, warna, bau, dan sentuhan’

Merangkap bistro, salah satu keunggulan Feria adalah degustazione vino produk sendiri sebab Treviso sangat terkenal dengan produk minuman anggur. Salah satunya ialah Prosecco Valdobbiadene yang sejak 2019 telah dimasukkan dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO.

Sebagai restoran yang menyajikan menu degustazione, Feria mengolah rasa dan bahan yang berasal jauh dari Asia sana, dengan kepekaan Italia yang digabungkan dengan produk lokal.

Siang itu hidangan pembukanya nasi putih, sate ikan, gado-gado, tumis kangkung dan 3 macam sambal. Tentu yang terakhir ini menjadi teman ‘icip-icip’ untuk setiap hidangan. Gado-gado tampil dengan bumbu kacang rasa Indonesia, sayurannya Km.0 yang mengikut musim seperti buncis, kembang kol ungu, kentang, toge dan ketimun. Tambah lengkap dengan telur rebus dan emping.

Rasa dan bahan yang datang dari jauh berpadu ke produk lokal untuk perjalanan ke cita rasa yang tak terlupakan, dinikmati pula lewat semangkok sup cozze. Treviso yang berbatasan dengan Venezia, langsung terbayang cozze
lokal segar yang didatangkan dari perairan Adriatik.

Standar bumbu seafood Italia biasanya hanya garam, bawang putih dan seledri. Di Feria, cozze dimasak bumbu kari. Daun ketumbar yang rupanya mirip seledri telah mengecoh lidah sebab ada sensasi tersendiri saat daun ini tergigit bersama kuah santan yang rasa aslinya tetap dipelihara, yaitu manis segar dan wangi.

Begitu pula saat membuka daun pisang yang membungkus nasi bakar. Aroma kunyit dan bumbu lain dari nasi kuning dan rendang yang harumnya merebak, membawa lamunan pada tanah air. Atmosfer siang itu, terasa sekali sangat Indonesia sebab makan bersama dengan sesama orang Indonesia sambil mendengar senda gurau dalam bahasa Indonesia.

Ayam bakar dan ayam panggang sempat menjadi diskusi dengan teman-teman semeja. Mulai dari segi rasa, tekstur, irisan, garnis minimalis kecap manis bertabur bawang goreng, sampai setiap gigitan yang terasa sangat lembut dengan aroma yang harum. Semua menjadi obrolan seru yang hanya berisi pujian.

Setiap kali selesai menghidang, tak lupa seorang pramusaji menjelaskan singkat sepenggal kisah di balik setiap sajian. Sebagai orang Indonesia, grogi juga karena yang menerangkan adalah orang Italia yang terkesan lebih berpengalaman.

Terakhir, lidah kami dimanja oleh lembutnya puding vanila dan mousse coklat yang membungkus eskrim rasa mangga sebagai hidangan penutup bersama pisang goreng.

Chef Marco Feltrin mulai belajar seni memasak di London pada beberapa restoran berbintang yang dilanjut sampai ke Sydney Australia. Di benua ini ia menemukan produk yang luar biasa. Perjalanan kariernya dilanjutkan ke Indonesia, di mana ia menemukan dunia rasa dan cita rasa yang benar-benar baru. Jadi sambil membenamkan diri sepenuhnya dalam budaya lokal di Jakarta, ia menyerap teknik dan resep, mengajar masakan Italia dan belajar bahasa Indonesia.
Kecintaan pada masakan yang berorientasi ke timur telah meyakinkan dirinya bahwa keragaman negara dan budaya adalah kesempatan untuk pengayaan dan warisan nilai-nilai yang dapat dikomunikasikan oleh makanan.

Sore itu kami semakin diperkaya dalam cita rasa setelah menikmati sajian demi sajian dalam bentuk yang baru, eksotik dan eklektik lewat racikan bumbu dengan lidah Italia sesuai selera Italia namun tetap rasa asli indonesia.

Pepatah bilang, cinta berawal dari perut, naik ke hati. Lewat makanan yang disajikan Feria Restaurant di Treviso, yakin kalau nama Indonesia akan semakin dikenal banyak orang. Kalau kita semua adalah duta bangsa, pasangan Feltrin lebih Indonesia dari kita yang Indonesia.

By Redaksi

Minds are like parachutes; they work best when open. Lord Thomas Dewar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

X