RI3SKA.COM – Bucin kaget ketika ngobrol dengan teman dari Indonesia yang mengira bahwa orang Italia suka hidup dalam bahaya. “Cuek sajalah, ‘vivere pericoloso’ ujarnya ringan sambil mencomot kosakata bahasa Italia dalam kalimatnya ketika saya mengingatkannya tentang cara hidupnya yang agak slebor.

Bucin tidak bisa menyalahkan dia. Slogan “Vivere Pericoloso” [ˈviːvere perikoˈloːzo] atau lebih tepatnya vivere pericolosamente [ˈviːvere perikoˌlozaˈmente] yang berati “hidup dengan cara yang berbahaya,” pertama kali digaungkan oleh Presiden Soekarno. Beliau memakai perbendaharaan bahasa Italia pada tahun 1964 dalam upacara kemerdekaan ke-19 yang mengangkat tema “Tahun Vivere Pericoloso” atau disingkat “Tavip”. Berkumandang hanya setahun sebelum gerakan kudeta 30 September dilaksanakan.

“Vivere pericoloso” yang digaungkan Presiden Soekrano telah mengilhami penulis Australia Christopher Koch yang pada tahun 1987 menerbitkan novel berjudul “Living Dangerously”. Novel ini pada tahun 1982 diadopsi menjadi film yang dibintangi Mel Gibson, Sigourney Weaver, Linda Hunts dengan judul sama. Filmnya menceritakan sebuah kejadian dengan latar belakang sebelum aksi kudeta 30 September.

Jika dibaca lagi sejarahnya, dalam pidato ini Soekarno sama sekali tidak sedang mengajak rakyat Indonesia untuk hidup ceroboh. Dia sedang mengingatkan bahwa hampir dua dekade sebelumnya, ada kaum revolusioner, yaitu para pemuda yang mengambil risiko berbahaya, demi membebaskan bangsa ini dari imperialisme dan penjajahan!

Tapi rupanya generasi muda kita lebih suka ide tentang hidup berbahaya yang kelihatan macho dan penuh romantisme konyol atau sekedar sakaw dan kecanduan adrenalin. Bahkan seolah ada pandangan bukan anak muda yang berjiwa kemerdekaan namanya kalau hidup tidak memper bahaya!

Contoh terakhir tentang kisah pengendara yang sengaja mengambil foto kecepatan kendaraannya dalam media sosial. Tepat saat mobil melaju di kecepatan 200km/jam, tak peduli di belakang kemudi ada keluarga muda yang dibawanya. Dia melaju dan terjadilah tragedi maut itu.

Kapan sih kita akan mulai mempertimbangkan bahaya dan risiko dan selalu bodoh berkata: ”Ya, namanya juga takdir! Tahukan bahwa di Italia takdir itu dianggap tidak ada, tapi kebodohan itu nyata.

Mukim selama satu dekade terakhir di Italia, Bucin justru menemukan prinsip hidup yang sebaliknya. Mereka melakukan riset secara terus menerus untuk memahami skala dan level bahaya dari sesuatu hal agar bisa mengantisipasi masalah dan menghindari celaka atau bencana. Mitigasi adalah mencari cara mengurangi risiko kecelakaan atau bencana menjadi sebuah prinsip dan gaya hidup. Bahkan anak-anak pun diberi kesadaran untuk selalu “memahami dan mengantisipasi” bahaya.

Contoh otoped, dulu benda ini tidak dianggap bahaya. Tapi sejak alat ini mulai menginvasi kota dan siapa saja bisa melaju tanpa memahami etika berkendara, maka mulai dua pekan lalu, ada spesifikasi dan aturan khusus bagaimana mengendarai otoped di Italia. Alasannya karena akhir-akhir ini banyak otoped yang dilengkapi mesin dan baterai listrik. Alat ini bisa melaju di atas kecepatan 20km/jam sehingga memicu insiden kecelakaan yang fatal akibat kecerobohan pengendara otoped.

Bucin perhatikan, prinsip mitigasi ini dilakukan baik secara personal maupun dalam skala nasional. Bangsa ini sudah mengenal dan mencatat wabah sejak ribuan tahun dan mengerahkan segala daya upaya mereka untuk melindungi dan menyelamatkan populasinya.

Jadi ketika ada yang berkata: Hiduplah seperti orang Italia , “vivere pericoloso”, orang Italia pasti akan terbahak. Mereka akan berkata hanya orang yang sedang terjajah, bodoh atau terperangkap cinta buta yang terpaksa memilih hidup dalam bahaya. Jadi Bucin pikir, komentar ini benar adanya.

https://en.wikipedia.org/wiki/Vivere_pericoloso
Penulis dan editor : Tim Bucin.

Ilustrasi : Betty Bariati.

By Redaksi

Minds are like parachutes; they work best when open. Lord Thomas Dewar

Tinggalkan Balasan

X
%d blogger menyukai ini: