RI3SKA.COM – Wakil Ketua DPD RI, Sultan B Najamudin menghadiri undangan makan siang Governor of Queen Military Knight of Windsor atau Kepala Keamanan Istana Ratu Inggris, Gubernur Letnan Jenderal Pearson di Istana Ratu.

Kunjungan digelar di sela-sela kesibukan Sultan menghadiri acara COP26 di Glasgow.

Sultan yang juga didaulat menjadi pembicara dalam forum COP26 mengunjungi Windsor dengan didampingi oleh beberapa anggota DPD RI lainnya.



Mereka disambut secara hangat oleh orang kepercayaan yang bertanggung jawab terhadap keamanan Queen Elizabeth tersebut.

Dalam acara tersebut, mantan wakil Gubernur Bengkulu ini mengungkapkan agenda pembicaraan sebagian besar terkait isu yang juga menjadi fokus Ratu Inggris, seperti perubahan iklim hingga kebutuhan tenaga kerja terampil dan ahli di banyak sektor terutama bidang keperawatan pasca Brexit.

Turut menjadi salah satu pembicara dalam sesi yang membahas peran pelaku bisnis dan pengelolaan hutan dengan tema “Support to Smallholder to Sustainable Forest and Agriculture Commodity Trade di Forum COP26 tersebut, Sultan menegaskan peran penting mayarakat adat dalam perlindungan kawasan hutan.

Dalam pidatonya, ia menjelaskan strategi mitigasi dan adaptasi sektor industri komoditas pertanian-kehutanan dalam menghadapi perubahan iklim.

Sultan menekankan tantangan perubahan iklim juga menuntut para pemimpin dunia dunia untuk meningkatkan upaya mitigasi.
Lebih lanjut ia menegaskan/ Keberadaan suku Badui di Banten, suku Dayak di Kalimantan, suku asmat di Papua, suku Anak Dalam di Sumatera dan suku-suku lainnya di hutan Indonesia adalah bukti bahwa perlindungan terhadap kerusakan ekologi secara tradisional mampu memberikan harapan bagi pemenuhan kehidupan perkembangan dan pemerataan ekonomi serta indeks kebahagiaan masyarakat yang baik di suatu kawasan.

Sultan juga mengkritisi gagalnya para pemimpin eksekutif Negara-negara di dunia saat ini dalam mengendalikan laju peningkatan emisi karbon sesuai batas maksimal yang ditetapkan pada Paris Agreement.

Sultan mengajak semua lembaga parlemen dunia untuk turut berkontribusi secara aktif dengan merumuskan kebijakan perundangan-undangan terkait perubahan iklim.

Sektor Tenaga Kerja

Menurut Sultan, pasca pemisahan diri dengan Uni Eropa, Inggris memang membutuhkan kerja sama dengan negara-negara berkembang Asia seperti Indonesia, terutama dalam hal pemenuhan tenaga kerja terampil.

Sultan menambahkan kesempatan ini harus disambut sebagai sebuah peluang bilateral yang penting di era bonus demografi Indonesia, terutama bagi kementerian dan lembaga terkait.

Sementara itu Jenderal Peterson seperti yang diungkapkan oleh Sultan menyampaikan, Ratu Inggris menginginkan tenaga ahli perawat Indonesia karena dikenal sangat ramah dan telaten.


Menurut informasi yang diterima selain akan memenuhi undangan gubernur dan pelaku bisnis di Southam, penggagas sekolah kepemimpinan Indonesian Democracy and Education (IDE) tersebut juga akan melakukan kuliah umum di salah satu kampus terbaik Inggris, Universitas Loobrough tentang Islam dan Demokrasi.

Penulis: Rieska Wulandari

By Redaksi

Minds are like parachutes; they work best when open. Lord Thomas Dewar

Tinggalkan Balasan

X