Sungguh indah dan membuat rindu, suasana jelang lebaran sebelum pandemi virus corona.

RI3SKA.COM – Saya rela terbang dari Milan, Italia ke Indonesia hanya demi berlebaran bersama dengan keluarga besar di kampung.

Rasa lelah, ngantuk dan capek setelah pernerbangan yang panjang langsung sirna, begitu mendengar ” Selamat datang di Bandara Soekarno Hatta “.

Usai penerbangan yang panjang dari Italia, Biasanya saya menginap satu malam di sebuah hotel di Jakarta, dan besoknya melanjutkan perjalanan ke kampung halaman. Waktu tempuhnya 6 jam dengan kereta api.

Saat sampai di rumah dan bertemu dengan orang tua, adik-adik, para kakak yang saya sapa Mas dan Mbak, maka berlipat-lipatlah rasa kebahagiaan itu.

Momen yang selalu berkesan bagi saya adalah saat malam lebaran.

Suasana rumah hiruk pikuk, kalau di hitung ada 24 orang dalam satu rumah.

Suami saya, seorang Italia kadang heran, bagaimana manusia bisa berkumpul 24 orang dari pagi sampai malam dan sampai keesokan harinya lagi.

Situasi seperti itu sangat tidak lumrah untuk kacamata orang Barat.

Berbeda dengan mereka, bagi kita orang Indonesia, kebersamaan dengan keluarga adalah suatu kebahagiaan tersendiri yang tidak bisa dibandingkan atau dinilai dengan uang.

Sambil menghirup wangi vanili dari kue nastar yang dipanggang, atau harum aroma gurihnya opor ayam yang sedang diaduk di panci besar, saya biasanya masuk dalam pasukan berberes meja makan untuk acara besar di hari raya.

Tugas saya adalah menyusun rapi toples berisi penganan di ruang tamu, lalu menata garpu, sendok dan piring di meja makan.

Kesibukan ini, diiringi dengan hiruk-pikuk para ponakan yang berlari-lari, menjerit dan tertawa-tawa dengan gembira.

Suara takbir menggema indah dari masjid dekat rumah saling bersautan dengan suara petasan.

Suasana sangat kacau balau di malam lebaran , kita pun berangkat tidur saat lepas tengah malam.

Dan besoknya kami bangun pagi dan bersiap-siap untuk sholat Eid.

Kami hanya punya dua kamar mandi maka pertengkaran-pertengkaran kecil soal rebutan kamar mandi pun terjadi berulang-ulang di setiap lebaran.

Sementara itu, ada juga yg hilir mudik dari dapur ke ruang makan menata persiapan makan pagi nanti sehabis pulang sholat Eid.

Di ruangan lain, ada yg baru mau menyetrika baju, sementara pada saat yang sama ada dialog-dialog kecil di belakang layar yang membuat seseorang cemberut. Pokoknya suasana carut marut tetapi sangat indah itulah hari yg saya nanti-nantikan di hari lebaran di kampung halaman.

Bagaimana dengan suasana lebaran di Italia? saya pernah melewati lebaran paling sedih sepanjang hidup saya. Ketika baru saja datang ke Italia, belum punya banyak kenalan, dan di kota sayapun belum ada masjid. Saya masih ingat waktu itu lebaran jatuh pada musim dingin yang juga menjadi kali pertama merayakan lebaran di Italia.

Pagi itu, pukul 6 saya berangkat dari rumah, dan setengah tujuh sampai di sebuah gedung pertemuan yg di sulap menjadi masjid. Dingin menusuk tulang, lantai tempat sholat dingin biarpun sudah di alasi oleh karpet. Sholat Eid berjalan dengan sangat cepat, tidak ada khotbah panjang seperti di Indonesia. Dan saya hanya punya kenalan satu teman dari Maroko yang kebetulan sholat bersama.

Selesai sholat, merekapun bubar karena jam 8 harus pergi bekerja. Saya pun ikut pulang dalam hati terheran-heran bercampur sedih sampai di stasiun saya menangis sendirian. Tidak ada kue nastar, tidak ada ketupat opor dan tidak punya teman.

Tentu saja setelah hampir 25 tahun saya mukim di Italia keadaan sudah sangat berubah, situasi menjadi lebih baik.

Kembali ke suasana lebaran di Indonesia, selain saatnya berkumpul dengan keluarga besar, juga untuk bereuni dengan teman-teman lama entah itu teman waktu kecil atau teman sekolah, teman kuliah, teman setelah kita bekerja dan sebagainya.

Nah, dalam reuni ini biasanya muncul pertanyaan-pertanyaan yang mungkin masuk dalam kategori pertanyaan privat yang seyogyanya tidak ditanyakan, apalagi ditanyakan di hadapan umum.

Untungnya tahun ini ada larangan mudik dari pemerintah. Jadi kita pun selamat dari pertanyaan-pertanyaan khas reuni lebaran, yang sebenarnya menurut saya masuk dalam kategori pertanyaan tidak sopan untuk diutarakan, misalnya: “Pulang sendiri, suami gak ikut?”

Pertanyaan ini mungkin pertanyaan standar, tapi sangat menjurus dan tidak nyaman. Tidakkah Anda tahu bahwa orang Italia tidak mendapat libur di hari lebaran? Mereka bekerja dan bukan pengangguran, jadi kerap tidak bisa ikut mudik.

Pertanyaan lainnya adalah: “Makan apa kalau di Italia?” Kalau saya jawab: ya kadang nasi atau pasta atau pizza. Jawaban ini bisa ditimpali: “Kasihan ya, pasti kangen makan nasi”. Tapi kalau saya ubah urutan jawaban menjadi Pasta, Pizza, nasi maka komentarnya “Wah kamu kan sudah lama di Italia, kok masih makan nasi?”. Jadi jawaban apapun, sepertinya tidak akan memuaskan para penanya.

Pertanyaan lain yang membuat saya risih adalah melontakan kapan seseorang yang diketahui masih lajang akan segera menikah. Lalu kepada yang sudah menikah, maka pertanyaannya kapan punya anak berlanjut kapan punya rumah, kapan punya mobil, kapan ganti mobil dan seterusnya, seolah-olah interogasi massal.

Pertanyaan yang tidak elok itu sebaiknya dihentikan. Tidak ada kewajiban bagi orang yang ditanya untuk membeberkan program hidupnya kepada publik, apalagi pertanyaannya sangat sensitif dan pribadi.

Mari isi dialog reuni lebaran dengan tema-tema yang lebih membangun misalnya memberikan referensi dari buku yang menarik, atau kisah tentang kursus kerajinan yang baru diikuti atau cerita baru bertemu dengan pribadi yang inspiratif dan sebagainya supaya pulang reuni, mental dan jiwa kita bisa lebih bahagia.

Selamat lebaran yaa teman-teman www.Ri3ska.com

Penulis: Tatik Mulyani
Editor: Rieska Wulandari

By Redaksi

Minds are like parachutes; they work best when open. Lord Thomas Dewar

Tinggalkan Balasan

X