RI3SKA.COM – Bulan Agustus tahun ini, akan genap 40 tahun Putuwati Linda merantau di negeri spaghetti. Perempuan asal Bali ini di Italia akrab dipanggil (mbak) Linda Sangalli, terambil dari nama keluarga suaminya, sang pelukis besar kebanggan Italia, Giovanni Sangalli (alm.) yang meminangnya pada tahun 1981.

Umumnya wanita Bali yang terkenal rajin, ulet dan pekerja keras, Linda mengawali kehidupan baru di Italia dengan berbagai suka duka yang dijalani dengan sabar, tabah dan ‘nerimo’ tanpa pamrih.

Kiprahnya di Italia, sedemikian banyak sehingga ia identik dengan kuliner yang diolah dan disajikan hampir dalam setiap kegiatan yang digelar Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Roma.

Tahun 2014 dan 2016 Konsul Kehormatan RI untuk Toskana dan Emilia Romagna Jacopo Cappuccio, pemrakarsa Festival film di Firenze, mempercayakan pada Linda untuk menyiapkan konsumsi bagi 300 hadirin dalam acara yang berlangsung 2 malam. Maka ia pun harus mampu menyiapkan 600 porsi soto, rendang dan snack berupa lumpia sebanyak 1200 buah. Acara ini sukses mengharumkan nama bangsa dan dibuka resmi oleh Dubes Vatikan. Kali berikutnya oleh pejabat KBRI Roma.

Tak hanya itu, Ia pun dua kali ketempatan menjadi tuan rumah untuk acara Perkenalan Dubes baru dan Warung Konsuler di Rimini. Namanya kian dikenal terkenal sebagai koordinator sebab selalu aktif berpartisipasi dan memprakarsai aneka kegiatan seperti acara bazzar, pameran, arisan, rapat dan berbagai pertemuan termasuk menjadi ‘Banjar Bali’ waktu pemilu.

Pada masa periode Dubes Freddy Numberi, Linda bisa dikatakan sebagai juru masak kepercayaan KBRI dalam acara-acara yang digelar bersama publik. Ia juga sempat membuka toko makanan Indonesia di wilayah tempat tinggalnya di Montefiore Conca, sekitar 16 km dari kota Rimini atau 298 km dari Roma, namun kegiatan ini terpaksa harus ditutup karena pandemi.

Aktivitasnya menerima tawaran catering dan pesanan aneka kue tak sebatas wilayah lokal Italia, tetapi sampai ke Swiss, Jerman dan lain-lain. Untuk wilayah Italia dan sekitarnya, ia biasa mengantar sendiri sambil mengunjungi teman-teman sejak ia masih mengendarai Fiat Punto sampai harus mengganti mobil yang lebih besar sebab pesanan terus meningkat.

Beberapa camilan yang dibuat Linda dirasa sangat khas oleh lidah pelanggan seperti keripik bawang, kuping gajah, kue ku, sebab tepungnya digiling sendiri. Jadi mereka yang sudah biasa dengan citarasa ini, selalu memesan ulang.

ASMARALOKA
Linda mengaku tak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa Ia akan menikahi pria Italia dan menetap di negeri berbentuk sepatu boot ini. Sejak muda, Ia sudah bekerja di salon milik adiknya di Surabaya. Masa itu, yang terbayang adalah bekerja di Hongkong, sebab ada perusahaan yang membuka lowongan besar-besaran di sana. Namun nasib berkata lain. Perusahaan tersebut bangkrut.

Waktu itu, salah seorang Tantenya yang menikah dan tinggal di Lecco (Como), Italia, mencari pengasuh anak karena hendak melahirkan. Seolah gayung bersambut, dalam keadaan galau karena putus cinta, Linda dan sang tante segera mengatur urusan dokumen dan berangkatlah ia ke negeri parmesan, meninggalkan mantan pacar dan sejuta nostalgia yang harus dilupakan.

Di Italia, pekerjaan utamanya ialah mengasuh anak (babysitter), bebenah dan memasak. Selesai menunaikan tugas pokok, ia mengisi waktu luang di salon tantenya, membantu keramas, gunting rambut dan lain-lain. Tak sia-sia berbekal keterampilan rambut dari Indonesia, karena bisa menjadi pekerjaan sampingan untuk mengumpulkan lira demi lira (waktu itu mata uang Italia masih Lira).

Namun tanpa pengetahuan bahasa Italia, waktu rasanya berjalan lambat sehingga ia mulai stress dengan lingkungan sekitar. Sampai suatu hari ketika Oomnya kedatangan seorang tamu, ada hal aneh terjadi dalam dirinya. Semacam renjana, perasaan hati yang sangat kuat.

Di rumah itu ada dinding pemisah dapur, jadi ia tak bisa melihat sosok tamu tersebut. Entah tamunya bisa melihat atau tidak, tapi hati Mbak Linda bergetar tidak karuan. Saat menyuguhkan minuman, kedua tangan sulit dikontrol karena gemetar. Sejak saat itu, bayangan sang tamu memenuhi benak mengisi hari yang membuatnya bergairah.

Pada kunjungan berikutnya ia diminta berpakaian rapi. Tante dan Oom sengaja meninggalkan Linda berdua sang tamu yang sepanjang malam itu berusaha mengajar bahasa Italia, kakinya tak berhenti bergoyang-goyang karena salah tingkah.

Pria mempesona ini meninggalkan kesan dalam kosakata yang jatmika (sopan) dan masih terngiang dan sulit dilupakan sampai hari ini adalah “arrivederci” (sampai bertemu kembali).

Tamu tertebut tak lain, Giovanni Sangalli, seorang pelukis yang baru saja bercerai dan sengaja bertandang ke rumah Pamannya, minta dicarikan rumah dan istri di Rimini. Tanpa menunggu persetujuan Linda, mereka langsung menominasikannya.

Linda sebetulnya sudah pernah dikenalkan juga dengan jejaka Italia, namun tak ada rasa ‘dagdigdug-serr’. Sebagai keponakan, ia menerima ide mereka tanpa protes. Ketika diajak melihat rumah baru di Rimini, ia pun menerima tawaran ini tanpa bertanya ini-itu. Toh saat itu ia juga belum fasih berbahasa Italia.

Malam hari berangkat dari Lecco, iiba di tujuan jam 04.00 subuh saat Rimini masih gelap. Rumahnya terletak di atas perbukitan, masih berupa bangunan kosong yang berantakan dengan puing dan pasir di sana-sini. Pukul 10.00 Sangalli kembali ke Lecco, meninggalkan Linda sendirian. Sebelum berangkat, Sangalli hanya berpesan “Makan di sana!” sambil menunjuk ke arah belakang rumah yang waktu itu masih hutan rimbun.

Kemudian datang seorang pria memperkenalkan diri dengan menggunakan bahasa isyarat tangan depan mulut yang diinterpretasikan mengajak makan karena keduanya tidak bisa berkomunikasi. Ia juga mengajak ke toko di desa untuk membeli beras sekilo dan roti tawar besar tanpa garam (pagnotti).

Pertama kali melihat roti ini, hanya rasa kagum karena di Indonesia belum pernah melihat roti sebesar itu. Untungnya ia punya simpanan lira hasil kerja sampingan selama itu, sebab Sangalli tidak meninggalkan uang sepeser pun.

Di rumah itu hanya ada kompor dan sebuah panci. Tak ada sabun, jadi ia mencuci panci memakai pasir yang kemudian dibilas bersih. Dan seminggu itu ia hanya makan nasi ‘geledog’ sebab tak ada sebutir garam maupun setetes minyak dalam rumah itu. Di kamar hanya ada ranjang dan kasur tanpa sehelai sprei. Selama sepekan ia hidup sendiri, hanya bisa menangis menyesali nasib mengapa meninggalkan Singaraja Bali, kalau tahu hidupnya akan menderita seperti itu.

Di antara tumpukan barang yang diangkut dari Lecco, ada beberapa kotak yang ternyata berisi botol-botol wine. Tak tahu cara membuka botol, ia pecahkan satu untuk dicicip. Ternyata rasanya manis enak walau sedikit pusing dan membuatnya mengantuk dan tertidur.

Dirinya terbangun karena wajahnya diterpa sinar matahari. Agak heran sebab kamar yang ia tiduri biasanya gelap. Rupanya ia sedemikian sedih dan mabuk sampai tak sanggup masuk kamar dan tertidur di tangga. Baginya, pengalaman ini menjadi kisah yang paling memilukan.

Seminggu kemudian Sangalli datang. Barulah ia diajak keluar berbelanja. Roti yang dibeli sebelumnya, tak pernah disentuh sebab ia membelikan untuk Sangalli. Dan hari itu, satu kata yang ia ucap untuk memperkenalkan bahasa Indonesia adalah ‘roti’, sekaligus cara untuk memulai komunikasi mereka berdua.

KARIER

Tahun 1983 Linda sempat pulang ke Bali. Teman-teman menyambut kepulangan ‘hairstylist’ mereka Di Italia, Linda punya peralatan salon, sebab sebelum kerja full di hotel-hotel di Italia, ia sempat bekerja di rumah jompo melayani panggilan keriting, potong dan menata rambut. Ia bermobilisasi dengan menggunakan motor sambil membonceng kedua anaknya yang masih kecil, yang diikat di belakang.

Panggilan hidup untuk selalu bekerja telah dilakoni Linda sejak kecil. Di Bali, Ia terbiasa bangun subuh, pukul 4 pagi sudah menyapu. Sering kali bekerja tanpa dibayar, hanya dikasih baju bekas. Baginya, yang penting dikasih makan, sudah lebih dari cukup. Sesekali dikasih uang hanya untuk menonton film.

Waktu kelas 5 SD ia sempat tidak mau ke sekolah karena tidak punya seragam.Saat ada guru yang menawarkan pun ia tolak, sebab tidak mau berhutang budi. Cara berpikir ini terus terbawa sampai sekarang. Linda selalu ringan tangan, senang berbuat baik kepada siapa pun dan siap menolong tanpa diminta dan tanpa pamrih. Prinsip hidupnya ‘meraki’, yaitu melakukan sesuatu dengan jiwa, kreativitas dan cinta.

Dengan alasan untuk bekerja, ia minta izin untuk ikut sekolah mengemudi yang awalnya tidak didukung suami. akhirnya tahun 1993 ia berhasil memperoleh SIM. Kemampuannya mengemudi, membuatnya semakin mandiri, ia langsung melamar pekerjaan di hotel-hotel di kawasan kota Pantai Rimini, yang terhampar sepanjang 15 km di pesisir laut Adriatik.

Empat tahun pertama, ia bekerja di Hotel Waldorf Suite, lanjut di Hotel Haway tahun berikutnya selama setahun. Setelah itu pindah di Hotel Residence Armoni Misani kemudian sebelas tahun meniti karier di Hotel Carlton Beach, berlanjut ke Hotel Arno hampir 4 tahun, lalu ke Hotel Silvia di Costa Pasquale (B&B) selama satu musim dan Hotel Rex sekitar 2 tahun.

Malang melintang ia bekerja dari hotel ke hotel walau tidak punya latar belakang di bidang ini, namun ia mau belajar, memiliki rasa percaya diri dan tekun dalam setiap pekerjaan. Awal kariernya dimulai dari housekeeping, bersih-bersih kamar. Baru sebulan beradaptasi dengan pekerjaan ini, ia dipanggil oleh Boss pemilik hotel. Waktu itu ia langsung cemas sebab belum paham soal intonasi orang Italia yang saat berbicara bernada tinggi seperti sedang marah. Pikirnya, mungkin ia akan dipecat. Rupanya, ia diminta masuk bagian dapur menyiapkan masakan untuk 75 tamu karena koki hotelnya masuk rumah sakit.

Penugasan yang tiba-tiba ini membuatnya sempat stress apalagi tanpa pengalaman dan latar belakang formal, bahkan memotong daging pun ia tidak tahu caranya, sebab untuk membuat sajian daging menu khas Milan, cotolette Milanese misalnya, ada tata cara tersendiri . Hanya doa yang tak putus Ia panjatkan. Dibantu oleh orang Italia bernama Adri ia mampu menghadapi tantangan dan ia pun mendapat seragam cook untuk mengelola dapur.

Tugasnya, menyiapkan makan siang dan makan malam untuk 130 orang setiap harinya. Untuk Grand buffet (prasmanan), kadang ia selipkan satu jenis masakan Indonesia, seperti bihun goreng, nasi goreng atau lumpia.

Menu ikan menjadi menu utama bagi hotel di sepanjang pantai Rimini menu goreng ikan atau sate ikan hadir setiap hari Selasa dan Jumat, pada hari lain ada selingan daging dan ayam dan hari Minggu, menu wajib lasagna dan arosto (panggang) ikan atau ayam.

Musim panas merupakan musim utama bagi kota pantai seperti Rimini, maka ia pun harus berangkat pukul 07.00 dari rumah, jam 07.30 sudah siap di dapur. Ia bekerja nonstop sampai jam 15. Selesai masak, wajib membersihkan dapur, kemudian mandi dan istirahat. Lanjut, pukul 17.00 memeriksa kalau ada kekurangan. Biasanya ia menyiapkan omelet sekitar 50 porsi untuk besok paginya. Jam 23 semua pekerjaan beres, barulah ia pulang. Hotel sudah menjadi rumah kedua baginya. Selain fasilitasnya baik, ia memilih strategi itu, karena memperhitungkan biaya bensin kalau harus pergi pulang dua kali sehari.

SANG MAESTRO MANGKAT

Tahun 2019 Linda vakum dari pekerjaan karena merawat suami yang terserang stroke. Bersama Emilio dan Flora dua putra-putrinya yang telah dewasa, mereka bergantian menunggu di rumah sakit selama tiga bulan. Dedikasi ini menjadi pemandangan aneh bagi orang Italia, jarang ada pasien yang ditunggui keluarga dengan setia. Linda dan anak-anaknya memberi contoh yang tak lazim namun sangat diapresiasi oleh tim medis di sana.

Tanggal 19 Desember 2019 pada usia di penghujung 89 tahun, Giovanni Sangalli menghembus napas terakhir. Tak hanya Linda sekeluarga yang merasakan duka ditinggal oleh orang terkasih mereka, tetapi Italia juga ikut kehilangan seorang warga yang ikut mewarnai dunia lukis di negeri ini.

Banyak karya almarhum yang menjadi kebanggaan para kolektor. Ada seorang dokter dari Torino sampai datang ke comune di Rimini untuk bertemu sang Maestro dan membeli semua lukisan yang ada. Dokter ini mengakui bahwa lukisan sang Maestro laksana terapi yang bisa memberi rasa damai, sejuk dan relaks. Nyaman dipandang, tidak pernah membosankan mata. Juga menenangkan hati dan pikiran. Sangali berkarya dalam permainan yang kontras antara terang dan gelap, putih dan hitam, cahaya dan bayangan.

Ciri lain, dari karya Sangali adalah selalu menampilkan air seperti laut dan sungai. Mungkin pengaruh kehidupan masa kecilnya dimana sang Ayah, seorang carabinieri , hilang dalam perang saat membawa misi berharga. Ada yang mengatakan bahwa ayahnya dibunuh, ditelanjangi dan dibuang ke laut. Karena itu, mungkin lukisan yang menampilkan air, terinspirasi dari bayangan kerinduan akan ayah yang tak pernah dikenalnya sebab dia masih dalam kandungan bunda.

Semasa muda dia juga sering pameran di beberapa negara seperti Amerika, Perancis, Jerman dll. Bahkan waktu pameran di Brooklyn (NY) lukisannya langsung terjual habis. Almarhum juga pernah mengadakan pameran tunggal di Rep. San Marino pada tahun 2016 yang secara resmi dibuka oleh Dubes Indonesia untuk Italia, August Parengkuan (alm.) sebagai salah satu acara penutup di akhir masa penugasannya.

Linda memberikan kontribusi yang besar dalam mendukung karier sang Maestro yang prolifik dan tetap produktif menghasilkan lukisan yang banyak tersebar dan belum sempat dibenahi. Linda sendiri tidak pernah bertanya soal uang pada ruaminya. Sebagai pasangan, mereka bagai dua keping puzzle, pekerja keras asal Bali yang berjodoh dengan pelukis.

Harapan kembali berkembang, Hotel mulai buka, turis lokal dan manca negara mulai berdatangan memenuhi pantai Rimini yang secara historis diresmikan sebagai pemandian pertama di Italia pada tahun 1843. Dalam periode yang berat akibat pandemi ini, hotelnya akan kembali beroperasi pada 29 Mei mendatang. Wanita kelahiran tahun 1953 ini akan kembali bekerja.

Setiap acara sukses, selalu ada orang hebat di balik kesuksesan tersebut. Linda adalah pribadi kuat dan hebat yang selalu mendukung di belakang layar. Sedikit bicara namun produktif. Siapa sangka dari seorang perias pengantin dan penata rambut, sekarang lebih
dikenal sebagai juru masak handal dan ‘ibu’ bagi kami para perantau di Italia. Kisah cintanya dengan Sang Maestro adalah takdir “mencari dan menemukan”.

Penulis: Claudia Magany
Editor: Rieska Wulandari

By Redaksi

Minds are like parachutes; they work best when open. Lord Thomas Dewar

Tinggalkan Balasan

X