RI3SKA.COM – Satu dekade lalu, sosok ulet ini sibuk bekerja di Jakarta pada sebuah rumah produksi untuk program televisi. Jenis pekerjaan bersifat komersial dan sosial ini, membuatnya terbiasa membangun disiplin kerja yang penuh tuntutan terutama bila perusahaannya sedang memproduksi program kejar tayang . Pernah, karena tuntutan produksi, pagi hari sudah ada di Bali, siang di Jakarta dan malam di Bandung, karena mengawal proses editing.

Rita Handayani, kelahiran Jakarta tahun 1976 dari keluarga besar dengan 8 bersaudara , sedikit pemalu dan kurang percaya diri. Sehari-hari kegiatan di rumah kalau tak belajar, berpetualang bersama teman-teman sekampung. Biasanya mereka bermain di kebun atau di kali mendengarkan radio sambil mengkhayal.

Untuk tingkat kecerdasan, Rita masuk kategori 10 besar. Ia juga punya jiwa kepemimpinan, saat SD ia aktif menjadi pengurus kelas dan kepala suku dokter kecil di sekolah. SMP ia mulai menulis di majalah sekolah. Beberapa karyanya berupa cerpen, pernah dimuat di koran dan majalah. Namun ia tak pernah memakai nama asli sebab ia menulis cerita hasil khayalan. Lagi pula, target utamanya adalah mendapat honor tulisan untuk tambahan uang jajan.

Kesibukan di SMA memaksanya vakum menulis, ia memilih kegiatan Palang Merah Remaja (PMR). Sebagai remaja, ia juga mulai gandrung menonton konser. Di mana saja, apapun genre musiknya, pasti didatangi. Akibatnya, prestasi sekolah turun dari 5 besar hanya masuk 10 besar buahnya ia gagal mendapatkan beasiswa setamat SMA. Padahal ia sudah mengincar Akademi Statistik. Selain itu, ia pun gagal masuk UNPAD lewat jalur khusus siswa berprestasi dan UMPTN.

Ia kemudian mengambil kuliah di UT (Universitas Terbuka) yang juga kandas tengah jalan. Semester 4 ia berhenti menjadi mahasiswa karena memilih kerja honorer kampus ini sekitar 2 tahun. Didorong jiwa muda yang bergejolak ditambah kebutuhan keluarga yang semakin banyak, akhirnya ia memutuskan untuk keluar dan mencoba pekerjaan lain. Melepas status pekerjaan honorer di almamater UT, ia pindah kerja di Boim cafe, Jakarta.

Pintu ke dunia rumah produksi mulai terbuka, ketika ia menjadi asisten artis sambil merangkap pengelolaan warung tenda artis yg saat itu sedang booming. Bosan sebagai asisten, akhirnya ia mencari alternatif pekerjaan lain. Berbekal keterampilan yang ada, ia mengubah lembaran-lembaran kertas menjadi souvernir yang menarik untuk dijual di sebuah kios di kawasan Depok. Bubar semua pekerjaan, Rita mengadu nasib bekerja di pabrik.

Gonta-ganti pekerjaan dari pelayan restoran, kasir, asisten artis, pekerja pabrik, bahkan menjadi pedagang kaki lima, membuka lapak kerajinan tangan, jualan online dan lain sebagainya, semua dijalaninya. Sampai saat itu, satu-satunya hobi yang tidak pernah ditinggalkan sejak SMP adalah menulis cerita pendek. Dan berkat hobinya itu, ia bergabung dalam tim kreatif bersama kakaknya yang menjadi sutradara di PH (Production House), maka resmilah ia resign dari pabrik. Sebagai pemula, jadi namanya digandeng dengan penulis yang sudah senior.

Dia terkenang ketika menjalani tugas pertamanya sebagai unit manager, ia sendiri tidak tahu job deskripsinya. Namun dengan tekad, pelan-pelan ia mencari tahu dan belajar sendiri, termasuk menulis skenario, menjadi line produksi, manager produksi dan produser.
Berjalannya waktu yang bergulir, dari seorang kreatif, Rita terus melaju menjadi seorang manager produksi. Dari sebuah Rumah Produksi akhir melebar ke Event Organizer atau EO.

Film yang diproduksi umumnya sinetron penyuluhan sosial yang mengandung pesan yang harus disampaikan secara halus karena proyek pemerintah. Selain itu, mereka juga memproduksi film-film dokumenter ke beberapa daerah. Semuanya tetap bertema sosial, budaya dan kearifan lokal.

Ia juga beberapa kali memproduksi film humor dan horor sebagai selingan. Di sini ia berperan ‘all in one’ bersama tim. Mulai dari menulis naskah, sutradara, produser, plus tukang panggul. Lewat pembuatan film dokumenter ini ia jadi banyak belajar tentang sifat sesama manusia yang ditemuinya.

Merambah bidang event organizer, cukup banyak kegiatan yang sempat ia garap. Dua kali Peringatan Hari Penyadang Cacat di Margocity Depok, dan Mall Blok M, Pekan Olah Raga Special Olympic (POR SO) Ina di Kelapa Gading, yang merupakan kegiatan kompetisi olahraga bagi atlet penyandang cacat.

Ia juga pernah menangani acara Pengukuhan Duta KAT (Komunitas Adat Tertinggal), Dokter Kecil Award, Lomba Kesenian Betawi Harry de Fretes di PRJ, Rekor MURI Segar Sari, minum bersama 10.000 pelajar se-Depok dan pertandingan sepak bola orang mini Indonesia vs orang mini Malaysia. Event yang terakhir ini merupakan buah pikiran pribadi yang ia susun dan upayakan pencarian dananya sendiri, tetapi diakui sebagai event orang dan viral di televisi dan infotainment.

Event kecil lain, juga ia lakukan misalnya membantu negosiasi dengan beberapa artis, setelah itu ia pensiun karena akhirnya ia sampai juga pada titik jenuh. Selain itu, ada desakan orang tua yang menuntut ia untuk menikah.

Jodoh memang tak kemana, Rita berkenalan dengan calon suaminya yang orang Italia di Dumay, saat dia memproduksi sebuah program di kota itu. Baru seminggu bertemu sudah diajak menikah. Kebetulan sudah siap semua dokumen yang dibutuhkan,
Proses mengurus pernikahan berjalan lancar dalam seminggu itu.

Namun tiba-tiba sang calon suami kena demam berdarah, terpaksa masuk rumah sakit untunglah 2 hari sebelum acara yang telah ditetapkan, sudah bisa pulang untuk melaksanakan pernikahan, tepatnya pada 1 April 2012. Sebulan setelah menikah ia menyusul suami ke kampung halamannya. Rita memulai kehidupan baru di kampung suami.

Kehidupan yang benar-benar baru, tidak pernah terbayangkan sebelumnya; ngurus suami, ngurus anak, ngurus rumah. Punya anak mulai belajar masak. Sebelumnya ia terkenal sebagai mandor dapur oleh keluarganya.

Produk eksperimen pertama di dapur adalah tempe, makanan favorit yang dipelajari secara detil dan dibikin dengan sepenuh hati. Setelah itu ia mulai berani menawarkan ke temen-teman yang berminat. Jatuh bangun ingin menjadi penjual tempe. Akhirnya banyak yang jual tempe. Maka ia mulai mencari peluang lain.

Ilmu dapurnya semakin berkembang, ia pun bikin masakan lain yang ternyata banyak diminati teman-teman di sini. Sekarang masak ibaratnya ‘usaha sampingan’ karena ia tak berani ambil resiko dapat kontrol dari pemerintah Italia. Maka, hanya sesekali saja ia berpromosi dan selalu bersyukur sebab tiap bulan ada saja yang order.

Nambah anak, ia mulai susah membagi waktu buat kerja di rumah. Sesuai ikrar pada diri sendiri untuk memprioritaskan keluarga, akhirnya ia mulai memikirkan kegiatan yang bisa menghasilkan uang yang bisa dikerjakan saat kedua anaknya tidur.

Keluarlah ide JasTip (singkatan dari Jasa Titipan). Berkolaborasi dengan teman yang memang bergerak di bidang ekspor impor. Ia membantu menjualkan space dan mendistribuskan barang mereka untuk mendapat komisi. Saat ini masih menyiapkan dokumen legalitasnya.

Maklum proses kegiatan ini membutuhkan pemikiran, strategi dan dana, baik di Italian maupun di Indonesia. Selama ini, usaha JasTip sudah berjalan, berkat kepercayaan teman-teman. Tidak tanggung-tanggung, ia membuka jasa angkutan lewat udara dan laut memakai kontainer.

Jaman dulu kalau membayangkan tidur pakai guling kapuk bersarung batik, atau makan petai, jengkol, leunca, dukuh dan lain-lain, mungkin hanya sebatas angan. Tetapi sejak ada warung bakulan Mama Leo, khususnya JasTip, sekarang apa saja bisa dipesan. Mulai dari isi dapur seperti aneka makanan, isi lemari pakaian, bahkan isi rumah berupa perabot kecil vintage dari tanah air.

Kalau ingin mengirim dan dikirim barang dari Italia atau mengirim dan dikirim barang dari Indonesia, sudah bisa manfaatkan jasa ini. Setelah jungkir-balik keluar masuk aneka kegiatan dan pekerjaan, Rita Handayani akhirnya fokus dengan kegiatan Jasa Titipan yang dijalani, disyukuri dan dinikmati.

Ia yakin dan optimis bahwa usaha yang dirintisnya saat ini cukup berprospek baik dan positif. Ia senang bisa melakukan sesuatu untuk menjembatani pengiriman barang dari Indonesia ke Italia, dan sebaliknya dari Italia ke Indonesia.

Penulis: Claudia Magany
Editor: Rieska Wulandari

By Redaksi

Minds are like parachutes; they work best when open. Lord Thomas Dewar

Tinggalkan Balasan

X