RI3SKA.COM – Kita akan kehilangan salah satu hal penting dalam sejarah peradaban dunia: Tato Mentawai! Konon tradisi menato badan di Mentawai adalah tradisi tato tertua di dunia. 1500 tahun sebelum Yesus lahir masyarakat Mentawai sudah bertato.

Tato adalah identitas bagi seseorang. Itulah sebabnya, garis dan motif tato berbeda-beda bahkan spesifik untuk tiap orang walau tetap ada motif utama tato Mentawai. Tato umpama barcode kuno, penanda identitas seseorang.
Yang ahli mengenai motif ini adalah seniman tato (Sipatiti dalam bahasa Mentawai) Indonesia, @durgatattoo, yang kini bermukim di Jerman.

Foto: Feri Latief & Giorgio Azzaroli

Sayangnya tradisi ini semakin jauh ditinggalkan, banyak faktor penyebabnya antara lain prosesnya yang lama dan menyakitkan! Bila Anda perhatikan, sekujur tubuh orang Mentawai itu dipenuhi tato, itu membutuhkan proses yang bertahun-tahun.

Belum lagi tekniknya masih kuno, menggunakan kayu karai atau tulang hewan yang diruncingkan bak jarum lalu dimasukan ke dalam kulit manusia dengan cara diketukan atau ditaping. Pastilah menyakitkan! Badan bisa meriang berhari-hari setiap selesai ditato.

Foto: Feri Latief & Giorgio Azzaroli

Dan proses ini harus dilakukan terus berulan-ulang! Yang bisa bertahan, tato akan memenuhi sekujur tubuhnya, yang tidak hanya bagian2 tertentu saja yang ditato. Hal itu menimbulkan keprihatinan bagi Sipatiti Durga, sang seniman tato.

Ia pun tergerak untuk menyelesaikan tato yang “nanggung alias kagok” tersebut. Ia sengaja datang ke Mentawai dan mulai menato warga yang tatonya belum paripurna.

Batasan paripurna sendiri, saya kurang paham. Bedanya, agar tak terlalu menyakitkan ia menggunakan teknik modern menggunakan mesin menggantikan teknik taping.

Sayat di bagian dada, pada lelaki Suku Korowai, wilayah Asmat.
Foto: Feri Latief & Giorgio Azzaroli

Perhatian dan kecintaan Durga pada tato Mentawai sangat besar. Sampai-sampai di akun media sosialnya ia menggunakan nama Aman Manai Durga Sipatiti, yang artinya Bapaknya Manai Durga Sang Seniman Tato.

Wanita dengan tato di bagian wajah sadu Suku Korowai wilayah Asmat.
Foto: Feri Latief & Giorgio Azzaroli

Faktor lain adalah, perubahan sosial yang terjadi di Mentawai. Saat kehidupan modern masuk, lalu paham dan nilai-nilai asing masuk, mengubah mereka. Maka tato Mentawai lambat laun tapi pasti akan tinggal kenangan. Ini pekerjaan rumah kita semua.

Tato Suku-Suku Papua
Tak hanya di Mentawai, tradisi merajah tubuh atau tato juga dilakukan oleh masyarakat di Papua. Pasangan pecinta dan pemerhati kebudayaan Indonesia, Giorgio Azzaroli dan Mariangela Fardella, yang kerap melakukan perjalanan ke Papua, dalam paparan yang pernah mereka sampaikan di Museum Seni dan Ilmu Pengetahuan di Milan, mengatakan, tradisi tato di Papua menarik perhatian mereka karena di beberapa suku masih ada sementara di suku lain sama sekali hilang.

Wanita Suku Korowai dengan tato sayat di kedua lenganya.
Foto: Feri Latief & Giorgio Azzaroli

“Penggunaan tato hampir sama sekali tidak dikenal di wilayah Papua, Indonesia yang kami kunjungi. Fakta ini cukup menarik karena penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa sementara tato dipraktekkan di bagian timur, lebih tepatnya di Papua Nugini, dan di wilayah barat (disebut Kepala Burung) di antara suku Moi, tapi di bagian tengah hampir seluruhnya kosong”, ujarnya.

Para warga suku Moi menggunakan tato yang menutupi lengan mereka dengan desain geometris dan tentu saja fungsinya untuk menunjukkan bahwa pemakainya adalah bagian dari kelompok atau subkelompok mereka.

Giorgio mengatakan, area yang pernah mereka kunjungi ada tiga: Cordillera, yang melintasi seluruh pulau dari barat ke timur, bagian selatan, berupa rawa besar yang menghadap Australia, dan juga di bagian utara, yang menghadap ke Laut Cina, yang kesemuanya, menurutnya sama-sama liar dan menarik.

Mariangela Fardella & Giorgio Azzaroli

“Dalam perjalanan kami jarang bertemu penduduk asli yang memakai tato kecil, tapi kami banyak menemukan penduduk yang menggunakan skarifikasi dan praktik dekorasi tubuh yang berbeda dengan teknik tato pada umumnya,” ujarnya.

Cara menbuat tato sayat Ini menurutnya adalah sayatan di mana kadang-kadang benda kecil dimasukkan, seperti batu atau pecahan tulang, untuk membuat serangkaian tonjolan yang membentuk pola pada bagian tubuh tersebut.

Ia mengatakan, tato lebih banyak digunakan oleh penduduk lokal di wilayah paling barat pulau. Hipotesis yang paling mungkin menurutnya, adalah praktik tato ini diperkenalkan oleh penduduk Kalimantan melalui kontak maritim, sedangkan di Papua Nugini, berasal dari populasi penduduk asli dari Oseania, Selandia Baru dan Australia.

Tato Sebagai Identitas atau Tanda Jasa dan Bukan Estetika

Menurutnya, tato suku pada dasarnya menunjukkan dua kategori makna: milik suatu kelompok dan peringkat di dalamnya. Seorang wanita yang telah melahirkan atau seorang pria yang telah membunuh musuh atau hewan besar berhak untuk mendapatkan anugerah tato tertentu yang menunjukkan peran yang diambil individu tersebut dalam masyarakat.

“Seperti halnya pada masyarakat Eropa, seseorang boleh mengenakan dasi tertentu bila lulus dari sekolah tertentu, atau mengenakan tanda tertentu bila masuk dalam resimen, tempatnya berasal,” ujarnya.

Tato memenuhi fungsi yang sama dan tidak hanya di antara apa yang disebut populasi primitif. Berdasarkan hasil penelitiannya, tato bukanlah elemen estetika, tetapi merupakan indikator bahwa pemakainya termasuk dalam klan tertentu, suku tertentu, atau peringkat mengenai apa yang ditempati atau didudukinya.

“Di Eropa, tato telah menghilang banyak dan maknanya tidak sama, dan tetap hidup dalam subkultur tertentu tapi maknanya berkurang bahkan menyimpang. Namun demikian, di kota-kota besar, geng-geng pemuda masih menggunakan tato sebagai tanda kepemilikan dan peran”, ujarnya,

Menurut beberapa informasi yang ditemukannya di internet, di kalangan Moi praktik tato mulai memudar, tetapi belakangan ini tampaknya ada pemulihan dari kebiasaan ini, sebagai pernyataan kepemilikan.

“Di kalangan anak muda, pemulihan penggunaan tato yang ditolak dan ditutupi oleh generasi sebelumnya akan terjadi, karena orang Indonesia melarang praktik ini dan untuk mencari pekerjaan dengan lebih mudah mereka memakai baju lengan panjang untuk menyembunyikan tanda-tanda identitas mereka,” ujarrnya.

Tampaknya sekarang praktik ini kembali lagi, sebagai bentuk revanche yang dengan bangga menunjukkan rasa memiliki dan pernyataan terbuka atas sejarah dan politik mereka.

Fenomena ini menurutnya, mirip dengan apa yang terjadi (terutama di Prancis) pada anak laki-laki dan perempuan Afro-Prancis generasi kedua yang memamerkan jenis busana sebagai pernyataan rasa kebanggan mereka pada budaya leluhur mereka dan melakukan diversifikasi dari orang Prancis asli.
Apakah dengan spirit yang sama dengan fenomena di Prancis, tato bisa kembali kita hidupkan?

Penulis: Rieska Wulandari, Feri Latief
Editor: Claudia Magany

By Redaksi

Minds are like parachutes; they work best when open. Lord Thomas Dewar

Tinggalkan Balasan

X