RI3SKA.COM – Bernama asli WIWIN RIYATNI (47 tahun), namun di media sosial lebih dikenal sebagai Viviana Rose. Memilih nama ini bukan untuk bergaya, tetapi menyesuaikan dengan lafal lidah orang sini.

Abjad Italia yang hanya terdiri dari 22 huruf tanpa konsonan [j, k, w, y] memang cukup menyulitkan mereka saat melafalkan bunyi [w] yang diucap sebagai bunyi [vu] ganda (doppia vu).

Maka Wiwin menjadi ‘vivian’ atau tepatnya “viviana” sebab orang Italia selalu menambahkan bunyi vokal nyaris pada setiap akhir kata.

Wiwin asli Arek Suroboyo, hanya sempat menyelesaikan sekolah sampai kelas 2 SMEA. Biaya menjadi rintangan besar. Kisahnya perjuangannya mirip Ibu Susi yang juga drop out untuk fokus berbisnis. Ia senang berjualan karena lingkungan keluarga. Ia mengikut jejak almarhum ibu yang menjual makanan dan kue-kue.

Sejak bersekolah di TK Besar, ‘Wiwin kecil’ sudah berjualan permen karet di koper, beralas koran dan lampu ‘oblek’.
Berjualan dan berbisnis menjadi nafasnya sejak SD bahkan sebelum diboyong suami pun, Wiwin masih berjualan makanan dan onderdil mobil. Dari dulu sudah punya warung di Surabaya.

Pernah juga jualan ‘gorden’ (tirai), penutup aqua galon dan taplak kulkas yang dia jahit sendiri. Pokoknya apa saja yang bisa dijadikan uang, ia jual. Maklum dari kecil sudah biasa cari uang untuk jajan sebab ia tidak mau minta uang “sangu” dari orang tua.

Berjodoh dengan Italiano yang bekerja di perusahaan rokok Sampoerna dan Gudang Garam, tahun 2008 mereka resmi pindah ke Italia. Dua tahun pertama, Wiwin hanya berkegiatan sebagai ibu rumah tangga yang sangat mencintai dapur. Tentunya sembari mencari ‘ide’ untuk bisa menjual sesuatu yang diolah dari dapur, tempat favorit di rumahnya di Bologna.

Sebagai pendatang baru, belum banyak kenalan teman Indonesia di Italia, khususnya wilayah Emilia Romagna. Jadi ia belum tahu kalau ada toko Asia di sekitar tempat tinggalnya. Hobi terpendam selain jualan, Wiwin senang belajar hal-hal baru seperti membuat aneka kue dan masakan. Berbekal pengetahuan mendekorasi kue yang dipelajari secara autodidak, waktu luangnya diisi untuk memahirkan tangan menghias kue.

Setiap ada kesempatan seperti ulang tahun anak, ia mengundang teman-teman anaknya untuk mencicipi kue sekaligus promosi kepada orang tua mereka. Mulailah ia menerima pesanan kue untuk ulang tahun, baptisan, pernikahan, wisuda dll untuk keluarga dan teman dekat.

Setelah mempelajari situasi, akhirnya tahun 2010 ia usul kepada suami untuk menyuntikkan dana 35 euro sekitar 600 ribu rupiah, sebagai modal awal untuk usaha kue. Nilai ini agak membingungkan, sebab tak masuk akal. Karena itu ia dikasih uang lebih, tetapi ia tetap hanya memanfaatkan jumlah uang yang ia ajukan tersebut.

Tak berapa lama, modal kembali. Dari sisa keuntungan, ia putar kembali uang yang ada untuk mengembangkan usaha. Maka tahun 2014 ia mulai menjual makanan lebih serius untuk kalangan teman-teman Indonesia di Italia banyak yang order makanan misalnya untuk arisan atau acara tertentu seperti ulang tahun atau pesta lainnya.

Kadang mereka mampir untuk kumpul bareng makan di tempat atau piknik di taman dekat rumahnya. Tantangan terbesar menjual makanan Indonesia bercitarasa asli, adalah stok bumbu yang harus didatangkan dari tanah air. Untuk itu, Wiwin meracik dan memodifikasi bahan yang ada di Italia agar tidak ketergantungan bumbu dari Indonesia.

Misalnya untuk bumbu rawon ia memakai tinta cumi sebagai pengganti warna kluwek yang sangat sulit didapatkan di Eropa. Walau beda materi, tetapi rupa dan rasa mendekati asli sebab ia tahu cara masaknya, tidak asal ‘cemplung’.

Demikiana juga untuk petis udang yang menjadi bumbu dasar hampir semua menu masakan Jawa Timur seperti rujak cingur, tahu tek, rujak madura, dst. Banyak ‘temuan’ hasil racik meracik bumbu ‘rasa Indonesia’ sebagai usaha terobosan Wiwin dengan memanfaatkan materi yang ada di Italia seperti racikan bumbu spekoek, bumbu pecal, bumbu soto, bumbu bakso dan aneka sambal.

Selain itu, Wiwin juga membuat aneka kerupuk, salah satunya diberi nama kerupuk ‘blek’, ikan asin, salsiccia, aneka bakso, mie basah, pasta segar, tahu, tempe dan aneka camilan kering seperti keripik, pilus, amplang dll.

Menyadari bahwa banyak warga setanah air yang mukim di Italia juga rajin membuat tempe rumahan, Wiwin mengambil inisiatif membuat cetakan untuk tempe darimaterial kayu berupa wadah dan tutupnya. Tak hanya itu, ia juga membuat tirai transparan untuk menutup tempe sehingga terjaga higienitasnya selama proses fermentasi.

Wiwin aktif di berbagai grup di media sosial untuk mengumpulkan berbagai informasi yang bisa mendukung usahanya. Tak jarang, ia juga berbagi ide dan pengetahuan untuk teman-teman di dunia maya melalui video.

Misalnya cara mengupas kelapa, merajang bawang merah tanpa mengucurkan airmata, menggunakan passaverdura atau alat penggerus dan penyaring sayur, untuk mencetak es dawet sebagai alternatif bagi yang tidak memiliki cetakan cendol, dll.

Terkadang ia juga bereksperimen dengan makanan yang ada, mengganti materi yang tidak ada di kulkas seperti kare kepiting diganti canocchia (semacam udang). Makanan yang dijual Pawon De Nap tak hanya masakan khas Suroboyo, tetapi aneka santapan nusantara dan Asia pada umumnya seperti ramen tom yam, kimchi, hainan dll.

Walau tak pernah mengikuti kursus masak dan sejenisnya, keingintahuan Wiwin tetap besar untuk selalu belajar dan mempraktekkan aneka resep baru untuk memenuhi pesanan pelanggan.

Apa saja diusahakannya, dari yang tidak ada menjadi ada. Indonesia hanya sejarak Bologna sebab untuk mereka yang rindu aneka santapan tanah air, Wiwin tak hanya menyediakan makanan siap santap, tetapi juga menyediakan aneka bumbu racikan bahkan bumbu segar seperti aneka tanaman rimpang, rempah dan penyedap.

“Anak-anak suka, suami suka, istri pun bahagia!” adalah motto istri soleha yang bahagia alias chef bohay (sebutan canda untuk Wiwin) sebab ia juga senang merawat diri pada saat senggang setelah sibuk menjalani 5M: masak, macak, manak, maruk, marak.

Kisah Wiwin dipenuhi impian dan tujuan yang ingin ia wujudkan. Walau jalan untuk menuju sukses mungkin sulit, tetapi ia tidak takut sebab tidak ada yang bisa menghentikan langkahnya untuk meraih bintang.

“Jika kita bisa selalu bersyukur dengan segala pemberian Tuhan, maka kita tidak akan iri dengan kebahagiaan orang lain. Kenali saya dari diri saya, jangan dari orang lain karena tidak semua orang berkata benar tentang saya”, ujar Wiwin mengakhiri percakapan.

Penulis: Claudia Magany
Editor: Rieska Wulandari

By Redaksi

Minds are like parachutes; they work best when open. Lord Thomas Dewar

Tinggalkan Balasan

X