RI3SKA.COM – La Soffiatrice di Vetro (Wanita Peniup Gelas Kaca) adalah film drama Jerman yang diangkat dari novel karya Petra Durst-Benning dengan judul yang sama “Die Glasbläserin” (The Glass Blower). Oleh Léonie-Claire Breinersdorfer, buku berhalaman 395 yang terbit tahun 2000, diskenario dalam format film berdurasi 89 menit.

Disutradarai oleh Christiane Balthasar dan resmi tayang tahun 2016 ini mengisahkan pelopor wanita peniup kaca pertama di dunia.
Dibintangi oleh Luise Heyer dan Maria Ehrich sebagai Johanna dan Marie Steinmann film ini berlatar kota Lauscha, sebuah kota kecil di Jerman yang terletak di hutan Thuringian pada tahun 1891.

Film ini berkisah tentang cerita klasik dua perempuan bersaudara yang dilecehkan karena mereka hidup sendirian. Marie muda melanjutkan profesi ayahnya seorang peniup kaca yang baru saja meninggal. Profesi ini adalah pekerjaan yang ‘hanya’ diperuntukkan bagi laki-laki sebab pekerjaan membuat produksi kaca, dikenal sangat keras, dengan tungku api ribuan derajat dan membutuhkan stamina, ketelitian, kejelian, keterampilan serta kreativitas secara simultan dan terus menerus.

Dengan semua tantangan ini, ia memulai dan menjalaninya dengan diam-diam. Kakak beradik ini sempat menempuh jalan yang berbeda, namun akhirnya Johanna mendukung pekerjaan adiknya yang jaman itu dianggap tabu. Mereka pun membuka bisnis keluarga yang mengkaryakan semua perempuan di kota tersebut.

Kisah perjuangan untuk menemukan kembali martabat, kemandirian dan cinta; yang membawa atmosfer menyenangkan sebab memiliki cita rasa kisah sentimental. Konflik diceritakan dalam sikap Wilhem Heimer dan putranya Thomas yang melecehkan Marie.

Tekad, pengorbanan dan penderitaan yang dialami dua bersaudara Steinmann, melahirkan kreasi hiasan natal dari kota kecil Lauscha. Produk mereka bahkan merambah ke pelanggan di Amerika. Ritme narasinya bagus, durasinya tidak berlebihan. Pemeran dan arahan tampil meyakinkan. Karakter dibingkai dengan cukup baik dan cerita yang dinarasikan memiliki kemampuan untuk memadukan drama dan perasaan penonton.

Film ini mampu mengeksplorasi kondisi perempuan dengan karakter pekerja laki-laki dan perempuan di bidang yang tidak biasa. Betapa mengerikan menjadi seorang wanita di abad kesembilan belas yang secara tradisi, tidak memiliki kemerdekaan yang dengan sempurna mewujudkan keinginan wanita untuk tidak bergantung pada siapa pun dan untuk menegaskan keputusannya! Utopia murni pada masa itu.

Nilai-nilai tentang wanita pemberani, jujur, penuh cinta dan semangat dalam pekerjaan, sebagai wanita yang berhasil bebas dari belenggu tradisi kolot. Keluarga tetap diutamakan, tidak diabaikan. Sikap ini untuk menunjukkan kepada generasi baru yang dituntut memberi rasa hormat terhadap wanita dan persamaan hak.

Menampilkan sejarah pada jamannya dengan tujuan untuk mengangkat wanita ke otoritas pria yang sama. Kisah penebusan pribadi dan sosial yang kuat. Menarik karena mengalir dengan baik. Tetapi beberapa konstum yang dikenakan kurang selaras dengan latar jaman itu. Laboratorium juga terlalu kecil dengan banyak operator. Maka sangat disayangkan sebab latar sejarah dalam film ini akhirnya berkesan ke-kini-an. Tetap layak menjadi tontonan yang inspiratif!

Penulis: Claudia Magany
Editor: Rieska Wulandari

By Redaksi

Minds are like parachutes; they work best when open. Lord Thomas Dewar

Tinggalkan Balasan

X