RI3SKA.COM – Membedah Misteri Kesurupan pada Musik Reak
“Musik tak sekedar indah didengar, tapi memiliki fungsi untuk membangunkan roh secara umum,” demikian dikatakan oleh Luigi Monteanni di Milan, sosiologis asal Italia yang meraih beasiswa Darmasiswa dari Institut Seni Budaya Indonesia, Bandung pada kurun waktu 2017-2018 lalu.

Dalam wawancara yang dilakukan secara daring, pekan lalu. Luigi mengatakan, Ia meneliti musik Reak yang dalam setiap pagelarannya, kerap diwarnai dengan fenomena trans atau kesurupan.

Reak merupakan kesenian tradisional yang muncul di kawasan Ujung Berung dan Cinunuk, Jawa Barat.
“Musik bisa menjadi alat yang bersifat spiritual dari sekedar menghibur hingga bisa membuat kesurupan, dan itu sungguh-sungguh terjadi pada Reak,” ujarnya.

Bagi Luigi, fenomena musik Reak yang sangat spiritual ini sangat menarik dan menjadi fokusnya dalam penelitian mengenai musik.

“Banyak yang percaya, ada juga yang tidak. Tapi seringkali yang tidak percaya juga bisa merasakan energi bahkan melihat roh halus saat mendengarkan musik ini,” ujarnya.

Dalam cabang ilmu sosiologis dan antropologis, ada kondisi manusia yang disebut trance, dimana orang dalam kondisi ini biasanya tidak bisa mengingat atau tidak sadar apakah yang sedang dia kerjakan.

Di dunia barat, musik trance identik dengan rock, metal dan death metal, sehingga pada awal kelahiran musik ini, menuai kontroversi di kalangan agamawan namun kini musik ini dianggap sebagai aliran atau genre musik tersendiri sebagai bentuk kreativitas seniman musik.

“Orang Indonesia takut kalau ada kesurupan, tapi dalam Reak itu bisa dipadukan antara lucu dan mistik, menjadi sebuah hiburan, ini menarik sekali karena Reak tidak dark seperti halnya aliran tradisional musik lain yang mengandung unsur spiritual,” ujarnya.

Luigi yang fasih bahasa Italia, Inggris, Jerman, Prancis, Indonesia dan Sunda ini mengaku saat penelitian tidak pernah mengalami kesurupan, meski ia hadir di tengah-tengah pagelaran Reak.

Fenomena kesurupan, menurutnya merupakan fenomena yang paling kompleks dalam antropologi. Karena roh halus tidak bisa dilihat, tapi pada fenomena kesurupan, semuanya bisa melihat orangnya tengah mengalami situasi kesurupan, meskipun roh halusnya tidak terlihat,” ujarnya.

Luigi yang lulus cum laude dalam bidang antropologi dari Università Cattolica del Sacro Cuore di Gesù (Milano) juga cum laude saat mengambil gelar master di Alma Mater Studiorum, Bologna ini mengatakan, bila memungkinkan, Ia berniat untuk melanjutkan penelitiannya mengenai musik trance dan Reak di tingkat doktorat, pada masa yang akan datang.

Video lengkapnya bisa di lihat di sini:
https://www.youtube.com/watch?v=COWDlPBubg4&t=6s

Penulis: Rieska Wulandari
Editor: JG

By Redaksi

Minds are like parachutes; they work best when open. Lord Thomas Dewar

Tinggalkan Balasan

X