RI3SKA.COM – Pada 9 Maret mendatang, redaksi memutuskan untuk menampilkan ulang jurnal harian yang dibuat pendiri website, Rieska Wulandari dari tulisannya di status sosial media facebooknya, saat Milan dan beberapa kawasan di zona Lombardia mulai mendapati kasus Covid-19.

Pada saat itu untuk melindungi warga dari infeksi, pemerintah setempat menerapkan zona merah tepatnya sejak 18 Februari 2020 dan kota dinyatakan dalam karantina sejak Senin, 24 Februari 2020.

Kami tayangkan ulang tulisan ini, sebagai upaya kami menandai zaman yang berbeda dari biasanya, “Karena seperti dikatakan oleh Pramudya Ananta Toer, menulis adalah kerja untuk keabadian dan bagi kami, mencatat adalah bagian dari membangun sejarah”. Semoga dengan jurnal harian ini,  kami bisa memberikan kontribusi pada sejarah.

24 Februari 2020 Jurnal Hari Pertama.

Selamat pagi dari Milan, Italia. Menyusul kasus COVID-19 yang terkonfirmasi hingga 152 orang dalam waktu yang sangat cepat di Italia dan menyebabkan tiga pasien meninggal, pemerintah mencoba untuk meminimalisir kontak dan penyebaran virus dengan langkah menutup kota – kota dan mengurangi aktifitas warga secara masif. 

Mulai hari ini sekolah dari TPA hingga Universitas, museum, pusat kebugaran, stadion olahraga, gereja dan semua yang merupakan pusat berkumpul orang, ditutup hingga dua pekan yang akan datang. Gereja dan aktivitas ibadah seperti misa dan pertemuan-pertemuan keagamaan juga dibatalkan sementara.

Tidak hanya itu, perhelatan karnaval di beberapa kota juga dibatalkan, misalnya di Venesia, Ivrea dan Milan. Demikian juga pertandingan olahraga, termasuk pertandingan sepak bola Serie A dan pertandingan Badminton Junior yang diikuti oleh 30 delegasi dari Indonesia juga batal dan mereka harus pulang ke tanah air tanpa sempat menyelesaikan partai semi final dan final. 

Minggu ini seharusnya pekan liburan karnaval, biasanya keluarga memutuskan untuk tetirah ke gunung, menikmati salju yang masih tersisa dan main ski sebelum semua salju mencair, tapi ini juga jadi sumber kekhawatiran baru, mengingat ada kasus Covid-19 terjadi juga di sebuah resor kenamaan di Perancis, karena ada keluarga turis dari Inggris yang menyambung liburan mereka dari Asia, lalu berwisata ski di Perancis dan menginfeksi kawasan resor ski tersebut.

Keputusan untuk menutup sekolah dan beberapa kantor, juga membuat orang pergi berbelanja mempersiapkan makanan selama masa “karantina kecil” ini, yang menyebabkan supermarket-supermarket di beberapa kota di Italia, ludes dibeli pengunjung.

Bahkan saat perayaan Natal atau tahun baru pun tidak pernah ditemukan situasi dimana logistik supermarket sampai habis dibeli warga. Harga zat atau gel pembersih tangan yang biasanya di angka 2-3 euro per botol kecil, mendadak naik jadi 25 euro per botol dan masker di farmasi habis.

Sementara ini, ada anjuran juga bila kebetulan ada tetangga yang meninggal,  agar upacara prosesi pemakaman hanya dihadiri oleh keluarga terdekat saja, keluarga inti yang biasanya tidak mencapai 10 orang, kenapa? Supaya menghindari kontak dan penyebaran virus dari dan kepada sesama pelayat.

Demikian kami juga menyiapkan logistik secukupnya untuk dua pekan mendatang, semoga langkah ini bisa mengurangi penyebaran virus.

Kalau Anda bertanya, kok bisa sih di Italia terjadi banyak kasus? Ini jawaban saya sebagai orang awam ya, bukan dari jawaban resmi. Negara ini merupakan salah satu negara favorit yang dikunjungi oleh turis Asia seperti Cina, Jepang dan Korea.

Mereka tak hanya pergi ke kota kota besar tapi juga mengeksplor dan blusukan ke kota kota dan kampung kampung terpencil, ke puncak puncak gunung untuk menikmati resor, main ski, spa natural dan sebagainya.

Memang Italia sudah menutup rute penerbangan dari kantung kantung yang dianggap berbahaya (sejak ditemukannya turis Cina yang positif Covid-19-red), tapi virus ini butuh inkubasi dan kita tidak bisa menghitung berapa turis yang tidak sakit tapi sebetulnya carrier (perantara), sekarang kira-kira ya waktunya. virus ini kini menampakkan dirinya di Italia.

Kami sedang berperang melawan virus, mohon doa dan dukungannya ya. Semoga tanah airku aman dan tidak terpapar.
Salam semangat dari Milan.

Penulis: Rieska Wulandari – Jurnalis terakreditasi – Milan, Italia.
Editor: JG, RW

By Redaksi

Minds are like parachutes; they work best when open. Lord Thomas Dewar

Tinggalkan Balasan

X