RI3SKA.COM – “Lamaran”, Mega Mendung, “Gurda” adalah judul-judul setiap kemasan yang berisi masker batik. Menggunakan kertas yang menjamin higienitas dengan sentuhan pribadi dan ramah lingkungan. Siapa pun akan senang dan haru menerima paket yang disiapkan sesuai kebutuhan pemesan.

Namanya Novia Cici Anggraini. Asli Lawang (Malang) sejak lahir sampai menamatkan SMA. Sarjana jurusan Hubungan Internasional UGM dengan segudang pengalaman bekerja di berbagai lembaga nasional dan internasional sebagai peneliti sosial. Sampai saat ini masih tetap bekerja dari rumah sebagai penerjemah dan penulisan laporan penelitian.

Ibu rumah tangga yang “membumi”, beradaptasi dengan budaya setempat dan berintegrasi dengan masyarakat lokat di mana pun berada. Pernah tinggal di Firenze, Roma dan sekarang berdomisili di Larino.

Sejak remaja sudah menyukai dunia craft. Belajar rajut dari seorang tante. Menjahit didapat dari pelajaran tata busana SMP. Secara otodidak belajar membuat kriya daur ulang kertas, kain atau material lain yang layak dan perlu didaurulang.

Sempat vakum dengan kegiatan rajut dan jahit, namun aktif kembali sekitar 2013-2014 ketika satu keluarga terdampak “pandemia lokal” (bergantian sakit di rumah sehingga satu bulan penuh tidak bisa keluar rumah)

Sejak masa kuliah di Yogyakarta (1997-2006), Cici sudah jatuh cinta dengan batik sebagai busana sehari-hari meski masa itu belum menjadi tren. Desember 2007, bersama suami memutuskan untuk menetap di Italia. Secara pribadi, Cici punya misi ingin mengenalkan kriya Indonesia. Berbekal koleksi dari dua desainer muda dan baru: Naini Design (aksesoris) dan Lemari Lila (pakaian batik dan lurik), Cici mempromosikan karya mereka setiap ada kesempatan. Lewat bazar di KBRI Roma, acara sekolah anak-anak, family gathering di kantor suami, acara teh/ngopi dengan ibu-ibu, di sekolah bahasa, dll. Kata kuncinya: PROMOSI BUDAYA, di mana pun, kapan pun, bagaimana pun!

Masa pandemi tidak menyurutkan semangat Cici untuk tetap promosikan batik lewat masker yang awalnya susah didapat. Masker pertamanya berupa hasil daur ulang syal batik. Mencontoh beberapa tutorial di internet, Cici terus mengembangkan model dan bahan untuk menyempurnakan masker yang memberikan fungsi paling efektif. Ada proses trial and error, dari metode paling sederhana menggunakan piring sebagai template hingga model lebih rumit namun jauh lebih nyaman. Demikian pula dengan material kain yang digunakan.

Masker batik karya Cici mendapat perhatian dari beberapa teman yang minta dibuatkan. Karena sulit mendapat material batik, “terpaksa” Cici mengikhlaskan kain yang bertahun-tahun disimpan sebagai koleksi. Tetapi hasilnya sangat memuaskan. Respon yang diterima juga sangat positif.

Bagi teman-teman Indonesia di Italia, masker batik buatan Cici memuaskan emosi saat rindu kampung halaman. Bagi teman-teman Italia, tidak hanya mengagumi indahnya motif batik, tetapi juga makna filosofi dari setiap titik yang membentuk lambang gambar.
Di balik selembar kertas berisi catatan singkat, ada masker batik yang indah dalam paket apik bersahaja. Selain nyaman dan melindungi, pemakai juga mendapat pengetahuan tentang budaya Indonesia lewat masker batik karya Novia Cici Anggraini.

Penulis: Claudia

Editor: Rieska Wulandari – Jurnalis, Ketua Ikatan Sarjana Ilmu Komunikasi Indonesia (ISKI) Cabang Eropa

Tinggalkan Balasan

X