RI3SKA.COM – Have faith in your dreams and someday Your rainbow will come smiling. through No matter how your heart is grieving If you keep on believing, The dream that you wish will come true.

Miliki kepercayaan pada mimpimu dan suatu hari Pelangimu akan datang sambil tersenyum. Tak peduli betapa kau berkecil hati Jika kau tetap percaya, Mimpi yang kau harapkan akan jadi kenyataan.

(A Dream Is a Wish Your Heart Makes – Cinderella – Disney)

Lirik lagu di atas adalah lirik lagu tema dari film Cinderella produksi Walt Disney tahun 1950-an. Jika kuingat-ingat lagi, banyak tahun-tahun di hidupku yang mirip seperti
impian, meski tak mungkin persis seperti cerita Cinderella.

Beberapa impian menjadi kenyataan, namun banyak juga yang tidak. Ijinkan aku menceritakan sebagian kecil dari cerita impianku.

Tuhan mengirimku ke dunia pada waktu negeri ini masih dipimpin presidennya yang pertama, sekian tahun silam. Kota Bandung yang (dahulu) sejuk menjadi tempat yang
beruntung menjadi saksi tempat aku pertama kali melihat dunia.

Aku dilahirkan sebagai anak
tertua di keluargaku. Ayahku pengusaha yang awalnya cukup berhasil. Ibuku ibu rumah
tangga, seorang perempuan yang tegar dan selalu menanamkan optimisme di dalam keluarganya, baik kepada ayahku maupun kepada kami kelima anaknya.

Ibuku selalu mengajarkan anak-anaknya untuk berani bermimpi dan berani mewujudkan mimpi-mimpi
kami. Keadaan mendadak sangat berubah saat usaha ayahku dilanda kebangkrutan.

Kami pindah dari rumah yang cukup besar ke rumah kontrakan kecil. Tahun sebelumnya aku dan adik-adikku masih naik mobil diantar sopir ke sekolah. Tahun berikutnya kami harus naik becak setiap hari.

Teman-temanku jelas melihat perubahan itu. Sebagian tetap berteman baik denganku, sebagian lagi menjauh. Ada beberapa dari mereka yang sebelumnya sering nebeng
pulang dengan mobil kami.

Setelah kami tak lagi punya mobil, sikap mereka pun berubah. Pernah, pada satu siang saat pulang sekolah, aku sadar bahwa uangku sudah habis
karena mendadak ada pengeluaran untuk kas kelas. Uang untuk pulang naik becak pun terpaksa kupakai.

Aku dan adik-adikku pulang berjalan kaki dari sekolah. Jarak sekolah ke
rumah kira-kira setengah jam dengan naik becak. Jika ditempuh dengan berjalan kaki, sudah pasti lebih dari satu jam. Di tengah jalan, beberapa kali kami harus berhenti berjalan karena adikku yang masih
kecil kelelahan. Pada saat itu ada seorang tukang becak yang berhenti dan menanyakan kemana kami hendak pulang.

“Balik ka mana, De?”tanya tukang becak itu kepadaku.

“Punten Mang, teu gaduh artos”jawabku.

Bapak tukang becak itu terlihat merasa iba pada kami dan mendesak kami naik becaknya.”Geus, teu kudu mayar lah”ujarnya.

Dan beliaupun mengantarkan kami pulang dengan selamat. Tidak habis-habisnya rasa heranku bahwa ada ‘orang kecil’ yang rela bersusah payah, berjerih lelah untuk tulus menolong beberapa anak yang tidak dikenalnya.

Hari itu, aku belajar bahwa kau tak harus kaya untuk menolong orang lain, dan bahwa masih ada orang
baik yang peduli, saat teman-temanmu menjauhimu. Bapak tukang becak itu mengajarkanku kepedulian untuk saling tolong menolong di antara sesama manusia.

Pengalaman itu merubah cara pandangku sampai kelak kemudian hari saat aku dewasa. Aku bersyukur aku kemudian tumbuh menjadi seorang yang suka menolong, bahkan terhadap teman-temanku yang pernah
jahat kepadaku.

Di tempat tinggal baru, kami bahkan tak punya televisi. Untuk bisa menonton acara
favoritku, Disneyland, film yang bercerita tentang tempat impian banyak anak di seluruh dunia, aku harus pergi ke rumah sebelah untuk sekedar nebeng menonton Mickey Mouse dan teman-temannya, para penghuni Disneyland.

Kadang tetanggaku mengijinkanku ikut
menonton, meskipun dengan raut muka sebal. Di saat yang lain mereka sengaja mengunci pintu pada saat tayang Disneyland, dan tak menghiraukan ketukanku.

Aku pun menjadi anak yang kuper karena tidak bisa lagi mengimbangi percakapan tentang acara-acara TV. Di saat-saat itu aku merasakan teman-temanku perlahan-lahan
menjadi semakin sedikit, mungkin karena mereka berpikir bicara denganku sering tidak nyambung.

Aku pernah memaksa orang tuaku segera membelikan TV baru, dan aku marah saat mereka menjawab belum mampu membelikan. Aku segera menyesali sikapku ketika melihat ayahku murung dan ibuku menangis.

Malam harinya, aku berdoa. Aku memohon agar Tuhan merubah ekonomi hidup kami, dan menangis memohon maaf kepada orang tuaku.
Sejak hari itu, aku berhenti pergi ke rumah tetanggaku untuk menonton Disneyland.

Aku tak peduli lagi apa kata teman-temanku saat aku tak tahu apa-apa tentang film-film TV
atau lagu-lagu Koes Plus yang terbaru. Kuucapkan selamat tinggal pada Disneyland dan Mickey Mouse.

Tahun demi tahun berlalu. Dengan pertolongan Tuhan saja maka aku akhirnya bisa lulus perguruan tinggi, setelah melalui begitu banyak suka dan duka. Tidak lama setelahnya aku bersyukur mendapatkan pekerjaan.

Aku menyibukkan diri dalam pekerjaanku, tahun demi tahun. Banyak konflik yang kuhadapi dalam pekerjaan-pekerjaanku, namun aku
berprinsip, selama maksudku baik dan tanpa pamrih, maka tak ada yang harus kukuatirkan.

Aku menjauhi politik kantor dan berusaha melakukan pekerjaanku dengan tulus, dan suka menolong teman-teman kerja yang dalam kesulitan. Aku tidak pernah melupakan pelajaran dari bapak tukang becak yang pernah menolongku di suatu jalan di Bandung, bertahun-tahun sebelumnya.

Suatu hari Tuhan membuka jalan untukku pergi ke kota Los Angeles, Amerika Serikat, untuk mengikuti suatu konvensi. Setelah hari-hari konvensi yang melelahkan dan membosankan selesai, saat ada acara bebas, kusempatkan pergi ke tempat yang menjadi impianku sejak kecil, dan sudah sangat lama kulupakan.

Kau pasti sudah menduga. Ya, kau
benar, teman, Disneyland! Hari itu, di sana, di pagar Disneyland, di tempat angan masa kecilku, ada rasa bahagia
tak terkira, yang bertemu dengan kepahitan dan kesedihan masa lalu.

Aku tak percaya aku benar-benar berada di tempat impianku! Di sanalah air mata ini tak terbendung mengalir
sangat deras. Aku tak ingat kapan terakhir aku berlinang air mata seperti itu. Bayangan-bayangan masa lalu hadir secara tiba-tiba.

Raut wajah teman-teman dan tetanggaku yang sinis, raut wajah ayahku yang murung, tangisan ibuku dan adik kecilku yang kehausan saat
berjalan kaki pulang sekolah dulu. Beberapa pengunjung lain terheran-heran melihatku, namun tak kupedulikan.

Saat itu, dari begitu banyak wahana permainan yang ada, aku hanya rindu mencari sosok Mickey Mouse. Aku mungkin satu-satunya orang dewasa yang masih mencari Mickey saat itu.
Kupeluk Mickey dengan rasa haru.

“Terima kasih, Mickey, sobat lamaku.”

Terima kasih, Tuhan. Satu impianku menjadi nyata hari itu. Saat ini aku telah berkeluarga dan memiliki dua putra usia remaja beranjak dewasa.

Sebagaimana ibuku dulu mengajarkanku untuk berani bermimpi, sekarang pun kuajarkan
anak-anakku hal yang sama. Banyak impian yang menjadi nyata. Banyak juga yang tidak.

Tapi aku setuju dengan lagu Disney di awal tulisanku. Bermimpilah, berdoalah, dan bekerjalah untuk impianmu. Tidak ada yang mustahil…

Tangerang, 3 November 2020

Kiriman Petrus Setiawan

By Redaksi

Minds are like parachutes; they work best when open. Lord Thomas Dewar

Tinggalkan Balasan

X