RI3SKA.COM – “Duit tinggal 1000 Rupiah? Pernah.
Lauk tinggal telor 1 biji? Pernah.
Pura-pura sudah kenyang asal anak-anak tidak kurang makan? Pernah.
Seharian tidak dapat order satupun?  Pernah.

Dorong motor mogok 5km siang panas terik karena tidak ada duit buat ke bengkel? Pernah
Dicurigai Pelakor? Pernah…
Dilecehkan? Pernah.
Dll…dll…

Tapi menyerah? Insya Allah TAK AKAN pernah…
Sebelum kalian menghakimi kami, para ibu tunggal, cobalah jalani hidup kami sehari saja, dan insya Allah kalian akan tahu bagaimana rasanya…”

Sepenggal kisah di atas adalah cerita perjuangan Ratih, seorang ibu tunggal atau single mom. Saya mendapati kisahnya di Facebook. Kisahnya membuat saya terenyuh Saya meminta izin kepadanya untuk menuliskan sepenggal kisahnya di atas.

Ratih Seorang Single Mom Yang Berjuang Untuk Anaknya
(Foto: Petrus Setiawan/Facebook)

Ada semakin banyak ibu tunggal dalam masyarakat kita. Dari 5000 pertemanan di akun Facebook saya, mungkin ada ratusan teman yang berstatus ibu tunggal.

Saya tak mungkin tahu jumlah pastinya, dan tak ingin kepo untuk mencari tahu.
Saya pernah membaca bahwa di Indonesia setiap tahun ada sekitar dua juta pernikahan, dan ada setengah juta perceraian.

Jika ini menjadi acuan, maka secara statistik, satu dari empat pernikahan berakhir dengan perceraian.
Suatu hari saya tanpa sengaja bertemu dengan seorang pengemudi ojek online wanita, saat dia mengantarkan pesanan makanan.

Karena saat itu hujan lebat, dia permisi untuk berteduh sejenak di teras rumah saya. Tentunya saya persilakan. Dalam pertemuan yang singkat itu kami berbincang sejenak. Saya tanyakan bagaimana situasi ojek online pada saat pandemi, dan raut wajahnya berubah sedih.

Dia, belakangan saya ketahui bernama Zubaidah, bercerita bahwa hari-hari pandemi adalah hari-hari yang luar biasa sulit secara keuangan. Ada hari-hari dia tidak mendapat order dari satupun pelanggan, dan jika ada, paling banyak hanya tiga sehari.

“Tapi mau bagaimana lagi Pak, saya harus lakukan ini untuk anak saya. Bapaknya sudah kawin lagi dan tidak mau membiayai. Hanya ini yang saya bisa dan hanya motor ini yang saya punya, jadi hanya ini pilihan yang ada saat ini. Anak saya yang membuat saya bertahan di jalanan sampai tengah malam supaya ada uang untuk makan besok pagi…”

Zubaidah bercerita bahwa kebanyakan pengemudi ojek online wanita memang berstatus orang tua tunggal. Sebagian besar berstatus janda cerai hidup. Tidak banyak yang bersuami ataupun berstatus masih lajang.

Zubaidah melanjutkan ceritanya: “Yang saya paling pusing bayar cicilan motor dan sewa rumah. Debt collector dan pemilik rumah gak mau tahu susahnya orang lagi jaman begini.

Main ngancam-ngancam mau ngusir dari kontrakan, dan mau narik motor saya.”
Saya tertegun dengan kisah Zubaidah di atas. Pasti masih banyak Zubaidah-zubaidah lain di masyarakat kita. Tidak pernah ada solusi mudah untuk masalah seperti ini. Kemiskinan, kurangnya pendidikan (dan otomatis kemampuan) membuat pilihan-pilihan menjadi sangat terbatas, ditambah lagi dengan fenomena ketidak-utuhan rumah tangga, yang semakin bertambah banyak dewasa ini.

Kiriman Petrus Setiawan

By Redaksi

Minds are like parachutes; they work best when open. Lord Thomas Dewar

Tinggalkan Balasan

X